June 27, 2018

Ketika Jogja Ditinggal Mudik


Kendaraan roda dua yang biasanya memenuhi jalanan manggrok di dalam pagar kos-kosan. Pemiliknya pergi setelah memastikan kamar kosannya bersih dan rapi, barang bawaannya tidak tertinggal, sembari menyangking oleh-oleh bakpia untuk handai taulan di kampung halaman. Hanya sempat sekilas menengok pintu kosan yang tertutup rapat, mengunci motor dan menutup lubang kuncinya, tergesa tidak sempat berpamitan dengan pemilik kosan yang toh kemungkinan tidak ada di rumah karena sudah ditunggu tukang ojek online

Jalanan lengang, mobil-mobil berplat AB mulai digantikan dengan beragam plat yang lain, tapi aduh mereka tidak bisa menggantikan keramaian yang absen dihadiri para perantau. Beberapa rumah makan bersaing dengan restoran cepat saji setia melayani segelintir orang tidak beruntung yang bertahan di kota ini selama hari raya. Sementara para aa’ burjo meninggalkan warung mereka dan meninggalkan tanah jawa, dan ibu-ibu laundry menutup jasa mereka untuk sementara waktu. 

Alih-alih mahasiswa lokal, kini populasi mahasiswa yang merantau ke luar Jogja sepertinya lebih banyak. Tapi toh barista kedai-kedai kopi menikmati liburan singkat mereka, tak perlu meladeni mahasiswa yang kebanyakan nugas sembari nongkrong, Menjeda diri dari rentetan keluhan banyaknya laporan dan jadwal ujian yang tidak manusiawi. Para mahasiswa tingkat akhir pun bisa sejenak bernapas dan melupakan beban tugas akhir mereka, hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan “kapan lulus?” dan buntutnya yang lebih panjang. Kampus? Jangan ditanya. Hanya daun-daun berguguran yang mau memenuhi kekosongan di dalamnya. Bahkan Pak Satpam pun enggan menjaga portal dan menutupnya biar mereka yang mau bernostalgia berjalan kaki saja masuk ke dalam rimbanya. 

Walaupun bus-bus trans jogja sepi penumpang, mereka bertahan melakukan putaran rutin yang kini tidak mengantarkan siapa-siapa. Orang-orang lebih memilih meramaikan tempat wisata dengan kendaraan pribadi yang sudah menempuh puluhan hingga ratusan kilometer untuk mencapai rumah. Tempat pulang hanya bagi mereka yang pernah merasa tinggal di sana, bukan bagi pasangan atau keturunannya yang merasa rumah hanyalah tempat singgah dan mudik adalah perjalanan untuk bepergian. 

Letusan-letusan mercon bersaing dengan ledakan-ledakan kembang api yang memeriahkan malam lebaran. Bunyinya sejenak memutus gema takbir dari toa masjid-masjid setempat, hanya untuk mengizinkannya kembali bersambung. Sementara mereka yang tinggal di lingkungan perumahan penuh dengan orang-orang tua tidak diizinkan untuk nyumet keduanya, kertas-kertas bekas mercon beterbangan di sisi jalan keesokan harinya. 


Aduh sampah! Ada sampah bekas bungkus makanan dan minuman kemasan, ada sampah bungkus ketupat dan lontong, ada sampah koran yang berserakan di lapangan tempat shalat ied, ada sampah dilempar ke jalanan oleh para penumpang mobil yang kurang ajar dan tidak tahu diuntung. Piyungan sepertinya sebentar lagi akan kelebihan muatan, tapi toh kita tidak perlu memedulikannya selagi sapi-sapi di sana tetap gemuk, para pemulung mendapatkan uang untuk bertahan hidup, dan sampah itu tidak menggunung di sekitar tempat tinggalku. 

Oh tidak, bahkan apabila gunung sampah itu longsor ataupun licitnya sedikit mencemari kawasan sekitarnya yang toh sudah tercemari baunya, paling hanya akan menjadi berita utama di koran, radio dan tv. Kita akan berduka dan berkasak-kusuk sejenak sambil sibuk menyalahkan si ini dan si itu. Setelahnya hidup kembali normal masa bodohlah itu urusan pemerintah saja. Produsen dan konsumen tidak perlu khawatir dengan limbah produk yang mereka produksi dan konsumsi, asalkan sudah ditimbun di jugangan, dibakar, terbawa arus sungai hingga ke muara atau ditaruh di tempat sampah biar jadi tanggung jawab Pak Sampah yang tiap hari keliling dengan upah seadanya. 

Di satu pagi seorang gadis berjalan menghampiri penjual gudeg 500 meter dari rumahnya. Berjejal mengantri 2 jam untuk 4 porsi bubur dan gudeg yang manisnya ngga kalah dengan senyuman ibu yang jual. Ketika antriannya diserobot oleh mereka yang mau makan di tempat, ia berusaha nrimo karena toh ia orang Jogja yang seharusnya berwatak begitu. 

Tapi sekarang bermunculan orang-orang yang sudah tidak lagi nrimo, masang-masang spanduk dan baliho di pinggir jalan, melawan petugas yang datang, demi mempertahankan sepetak tanah yang dihuni selama puluhan tahun. Wahai, berani betul itu berucap buruk pada kanjeng Sultan. Ternyata, keistimewaan daerah ini bisa menimbulkan konflik juga. Tunggu, masihkan sekarang berlaku prinsip tahta untuk rakyat? Ataukah tahta hanya menjadi alat untuk membela kepentingan yang berkuasa? 


Kereta api belum lagi beranjak dan sang pemilik motor masih berada di tanah perantauannya. Sibuk merenungkan bagaimana nasib kota ini kini dan nanti. Sembari diam-diam berharap bisa merasakan Jogja seperti satu dekade ke belakang. Yang kata sahabatnya jauh lebih aman, nyaman dan tenteram dibanding sekarang. Suasana yang mungkin hanya bisa dirasakan ketika kota ini ditinggalkan para perantau yang menghisap tenaga hidupnya, yang dalam waktu bersamaan menyuntikkan energi kehidupan baru yang mengalir dalam nadi kota. Ah, tapi toh dia lebih memilih mudik, menjadi bagian dari aliran orang-orang yang berpindah dan memenuhi jalanan antar kota.

June 25, 2018

Ada Jutaan Solusi untuk Jutaan Masalah di Dunia - Lagi-Lagi Sebuah Refleksi, Kali Ini Pasca UNLEASH 2018

Sudah lebih satu bulan berlalu, orang-orang yang sempat beririsan jalan dengan saya sudah kembali bertebaran di muka bumi, berlomba-lomba memberikan manfaat untuk sesama. Saya? Habis libur lebaran sih…

SDG 11 team, those who work on the Sustainable Cities and Communities, on the last day of the innovation process,
at The Arc, NTU. Credit to the UNLEASH team.

Adalah sebuah innovation lab yang sangat inovatif (menurut saya), UNLEASH 2018. Diadakan pada tanggal 31 Mei-7 Juni 2018, acara ini berhasil mengumpulkan 1000 orang talents dari seluruh dunia! Masing-masing talents merupakan bagian terpenting dan paling unik dari acara ini, di mana semua orang memiliki latar belakang yang berbeda, membawa suatu masalah dari berbagai penjuru dunia tapi sama-sama memiliki tekad untuk berbuat sesuatu sebagai jawaban atas masalah-masalah yang ada. Semuanya menjawab tantangan untuk sebuah akselerasi positif dalam mewujudkan target Sustainable Development Goals 2030.
On no soul does God place a burden greater than it can bear” 
Al-Qur’an, 2:286
Kenapa gitu ngutip ayat di atas? Jujur, karena dibalik segala keseruan yang luar biasa, ‘beban’nya juga seberat itu. 

Saat survei di HDB, serahkan kerjaan wawancara ke orang-orang lokal, kan?
Credit to Torben
Beban berat yang pertama, super tight and intensive schedule. Tujuh hari penuh. Setiap harinya aktivitas resmi dimulai pukul 08.00, tapi kami harus berangkat dari penginapan di NUS ke ruangan workshop di NTU pada pukul 07.30 waktu Singapura (yang jam 8 nya berasa jam 7). Sementara jadwal pulang kembali ke penginapan pukul 18.00, dan setelah makan malam, masing-masing kelompok sangat memungkinkan untuk melanjutkan pekerjaannya, yang biasanya memakan waktu sampai pukul 21.00 ke atas. Beruntungnya, di beberapa hari para talents diberikan waktu setengah hari atau di sore hari untuk melakukan cultural activities dan kunjungan ke luar. Kalaupun sedang kurang beruntung, fasilitator memberikan segenap kemampuan mereka untuk membuat rangkaian innovation lab ini menyenangkan dengan berbagai kegiatan selingan di dalam ruangan.

Marketplace, ketika ide yang sudah digodhog
kami pamerkan
Beban berat yang kedua, problem framing, ideation, prototyping, testing and pitching ideas, that had to be done in a very short period of time. Dalam rangka membantu kami self-facilitating dalam proses pematangan inovasinya, mereka menerapkan sebuah framework yang isinya berupa tahapan-tahapan di atas yang seharusnya diakhiri dengan implementation. Namun, karena keterbatasan waktu kegiatan, proses kami diakhiri dengan pitching ideas, dan perkara implementasi diserahkan ke masing-masing kelompok. Setiap tahapnya, kami disediakan tools yang bisa kami pergunakan untuk mencapai targetan yang ditentukan, dengan bantuan fasilitator dan juga beberapa ahli di berbagai bidang. Sementara untuk bisa melanjutkan ke tahapan selanjutnya, kami harus melewati ‘gate’, semacam tes dengan fasilitator untuk mengecek kelengkapan target dan progres kelompok. 

Di akhir acara, kami dituntut untuk bisa mempresentasikan inovasi yang kami hasilkan. Rancangan program/prototype produk ini dipresentasikan dalam sebuah pitch di hadapan rekan-rekan yang bekerja dalam satu gol SDGs yang sama, serta dipamerkan di sebuah marketplace yang ketika itu bekerja sama dengan Temasek Ecosperity Expo. Dalam kedua kesempatan ini, kami mendapatkan feedback yang menarik dari para ahli, serta mendapat kesempatan untuk bertukar ide dengan talents lain, bahkan bertemu dengan investor yang kira-kira akan mendanai implementasi ide kami. 

HOLLOT Team! (wich actually stands for
Hands of Light, Legs of Thunder).
Credit to Torben
Beban berat yang ketiga, you had to do all that with a team that consists of people that you barely knew (at first). Namun, justru di sinilah serunya! Untuk mahasiswa yang bahkan belum punya gelar sarjana seperti saya, awalnya sempat ketar-ketir juga, karena banyak di antara talents yang lain adalah expert! Mereka yang sudah bergelar sarjana/master/doktor, sedang melanjutkan studi master/doktor, sudah bekerja di berbagai organisasi/perusahaan berkelas internasional, dan segala pencapaian lainnya yang saya saja baru sempat membayangkannya, dan kalau tidak disikapi dengan baik bikin minder hahaha. But hey, a friend of mine once said, ketika kamu jadi orang yang paling tidak tahu dalam suatu kelompok, justru di saat itulah kamu bisa jadi orang yang paling banyak belajar. Which is undeniably true, in my case. Rekan satu kelompok saya adalah seorang arsitek, seorang sosiologis, keduanya berasal dari Denmark, dan seorang mahasiswa akuntansi dari Singapura. Dari mereka, baik dari pribadi maupun dinamika kelompok yang terbentuk, saya banyak belajar. Utamanya tentang bagaimana berkomunikasi, berkolaborasi, mengapresiasi satu sama lain serta menghargai proses lebih daripada hasil.

Yang keempatnya, what is this girl from a developing country trying to do, solving a problem in a developed country? Ngga ada masalah sama sekali! Kelompok saya pada akhirnya bekerja menyelesaikan permasalahan peningkatan rasa kesendirian di antara para lansia di Singapura, utamanya mereka yang tinggal di apartemen HDB. Terlepas dari justifikasi negara maju atau berkembang, pada dasarnya kita tidak bisa memaksakan sebuah solusi yang berhasil di suatu tempat pada konteks tempat yang mau kita intervensi bukan? Maka dari itu, ini justru jadi kesempatan yang luar biasa untuk mendapatkan insights tentang beragam persoalan yang terjadi di dunia. Teman-teman yang sama-sama bekerja untuk mewujudkan gol Sustainable Cities and Communities saja, ada yang memilih mengangkat isu kurangnya kesempatan pengungsi untuk berwirausaha, ada yang mengangkat isu buruh migran, dan lain sebagainya. Pendekatan yang dilakukan untuk masing-masing masalah juga bisa sangat beragam, ada yang memutuskan membuat platform yang mempertemukan pihak-pihak yang berkepentingan, ada yang mengembangkan produk tertentu, hingga yang seperti dilakukan kelompok saya, membuat satu desain sosial dan fisik. Semuanya diperbolehkan, tidak ada yang memberikan batasan selama solusi itu adalah suatu hal yang feasible untuk dilakukan. Maka dari itu di awal pembentukan kelompok fasilitator berusaha memastikan bahwa orang-orang yang berada di satu kelompok berasal dari latar belakang yang heterogen.  

Terakhir, we carry the world upon our shoulders. Tega sekali mereka yang mengubah lirik lagu 'Hey Jude' menjadi UNLEASH anthem ini. Dengan banyaknya masalah di dunia ini, how could we solve all that? Bahkan mencapai target SDGs saja susah lho! Tapi mereka tetap mengumpulkan kami untuk saling bertukar gagasan dan memperluas jejaring (baik dengan sesama maupun dengan para ahli dan investor). Lalu, mereka mendatangkan sosok-sosok yang sudah berkontribusi dalam pencapaian SDGs dan menyelesaikan berbagai macam masalah di skala lokal maupun internasional. Kemudian mengajak kami menjalani serangkaian proses yang luar biasa yang membuat kami menjadi bagian dari solusi, mulai dari melakukan hal-hal yang paling sederhana, hingga akhirnya energi positif yang kami dapat di UNLEASH ini akan tersebar luas ke berbagai belahan dunia tempat kami berasal. Because the SDGs is ours to take action on, and there should be no one left behind. For the millions of problems the world face today, we could find millions of solutions that will make it a better place for us to live. 

Pada akhirnya, semua ‘burdens’ ini adalah blessing in disguse. Waktunya meninggalkan pesimisme yang terbangun selama ini dan menyambut energi positif untuk melakukan sesuatu. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya, bukan? At least, ini sudah dibuktikan oleh rekan-rekan talents UNLEASH yang menghasilkan paling tidak ratusan ide selama berproses bersama di sini. Ide-ide yang disampaikan bisa jadi sangat sederhana untuk satu masalah yang pun sederhana, tapi yang penting, berdampak. 

With some of the UNLEASH Indonesian talents. Tunggu kabar-kabar baik dari kami-kami ini ya! Haha
Whoops, mohon maaf saya ngga bisa menyampaikan cerita ini dengan lebih baik lagi. Sungguh sebetulnya ada banyak sekali hal yang saya dapatkan dari pengalaman UNLEASH ini secara pribadi, pun rangkaian kegiatannya tidak sepenuhnya saya jabarkan di sini. Buat yang masih kepo, silakan kontak saya hehehe. Fyi, tahun depan (kemungkinan besar) akan ada UNLEASH 2019, buat yang tertarik untuk daftar, do prepare yourself. If there’s anything that I might be able to help, just tell me. For whatever reason you might want to join this program, my best advice is, just give it a shot. 

May 15, 2018

Para Pemberontak yang Romantis — Sebuah Renungan Pasca Workshop Low Carbon Ecodistrict

Sesi diskusi yang setiap harinya bisa 
berlangsung 8-12 jam!
Di tahun terakhir saya kuliah, kembali saya diingatkan bagaimana perjuangan menjadi mahasiswa baru di program studi Perencanaan Wilayah dan Kota. Masa-masa studio kawasan yang berjalan 3–6 bulan itu kira-kira saya alami kembali dalam kurun waktu 2 pekan ke belakang, tentu saja dengan tantangan yang sungguh berbeda. (Pada akhirnya ini menjadi pengalaman yang menampar manis: Sudah siap jadi Urban Planner?)

Siapa bilang jadi mahasiswa tingkat akhir lalu kamu akan dengan mudah menyelesaikan tugas perencanaan kawasan yang notabene sudah khatam kamu lakukan di tahun pertamamu kuliah? Big no. Sebagai anak PWK yang kurang pede dalam merencanakan skala kawasan karena otaknya ngga kreatif-kreatif amat, kegiatan Intensive Contest and International Workshop, Re-think the City for a Low Carbon Ecodistrict ini menjadi satu pengalaman yang sangat berharga.

Segalanya sudah dipersiapkan dengan baik oleh panitia kegiatan dari Kementerian PU, Ademe dan French Embassy di Indonesia. Kegiatan workshop ini adalah bagian dari satu usaha panjang membuat satu proyek percontohan low carbon ecodistrict di dua tempat, yakni di Kampung Gampingan, Yogyakarta dan Kampung Sruni, Wonosobo. Sebagai peserta saya sangat dimanja. Bukan tentang akomodasi dan konsumsi yang selalu tersedia bahkan tumpah ruah. Namun, tentang analisis kawasan yang sudah dilakukan sebelumnya. Di awal workshop kami sudah memegang satu dokumen term of reference berisi gambaran wilayah perencanaan dari tingkat kota hingga kampung, analisis kondisi keruangan dan non-keruangan, paparan harapan warga kampung, hingga arahan program yang akan dilakukan dan pilihan sistem infrastruktur yang bisa digunakan untuk mendukung konsep low carbon
Presentasi di hadapan warga kampung

Berarti seharusnya peserta sudah tinggal membuat perencanaan dan desain saja dong? Yah, pada dasarnya mungkin informasi awal itu sudah sangat cukup dan kami hanya perlu mengkonfirmasi beberapa hal kepada warga dan mengecek kondisi di lapangan secara langsung. Namun, alih-alih berpegang teguh pada dokumen TOR tersebut, kami — utamanya kelompok saya — bersepakat untuk menjadi sepasukan pemberontak. 

Mudah saja, semua orang memiliki cara pandangnya masing-masing. Satu kelompok terdiri dari orang-orang yang sangat heterogen (latar belakangnya sungguh berbeda, baik dari segi bangsa, bahasa, budaya, hingga keilmuan). Bagaimana kami kemudian mengklasifikasikan suatu kondisi sebagai masalah maupun potensi, mengkomunikasikan ide, dan menilai mana yang adil maupun tidak sebagai suatu solusi adalah satu tantangan tersendiri. Kalau kita sibuk mencari perbedaannya, lah rasanya kok tidak akan selesai ya.

Menikmati kampung di tengah keterbatasan ruang
Di antara pemberontakan kami yang paling membuat pusing panitia hingga kami berdebat lama bahkan dalam forum diskusi di hadapan para warga adalah tentang aturan sempadan sungai yang mengharuskan kami memberikan ruang kepada sungai dalam besaran tertentu. Hingga akhirnya kami tetap bisa keukeuh mempertahankan prinsip awal desain kawasan kami dan mencoba untuk mengakomodasi persyaratan dalam peraturan tersebut.

Yah begitulah, dinamikanya terlalu menarik. Sebagai tim yang terdiri dari urban planner, urban designer, landscape architect, sustainable architect dan architect, serta memiliki supervisor yang architect, urban designer, urbanist dan historian, kami dituntut untuk menjadi profesional yang harus bisa menemukan permintaan dari dua klien yakni warga dan pemerintah, menggabungkan proses perencanaan top down dan bottom up, menghasilkan satu produk rencana di skala urban, district dan building. Menakjubkannya, sebenarnya proses yang menyita hati dan pikiran ini menjadi salah satu bentuk perwujudan angan saya tentang studio yang ideal seharusnya. 

Kehidupan di tengah ruang publik
Lalu, di akhir program ini saya termenung. 

Studi kasus yang diangkat di Yogyakarta dan menjadi lokasi kajian kelompok saya sebenarnya adalah kawasan yang mau tidak mau kita kategorikan sebagai kumuh. Dengan kondisi bangunan semi permanen yang mayoritas tidak layak huni, talud yang sudah tergerus, tanah yang kepemilikannya dipertanyakan dan kawasan yang terancam banjir bandang sepuluh tahunan, belum lagi tumpukan sampah di pinggir sungai dan kondisi sanitasi yang tidak memadai, tapi ternyata kita masih bisa menemukan romantisme di gang-gangnya yang sempit, berliku dan berundak, di sela rumah-rumah yang dibangun sedikit-sedikit dan seadanya, dalam sebaris antrian kamar mandi dan celotehan warga yang berkumpul di sisa-sisa ruang yang tersedia. Suatu romantisme kehidupan kota yang hanya bisa kamu temukan di kampung.

Survei, dibantu anak-anak
Sebuah romantisme yang mendasari pemberontakan pada peraturan. Saya tidak menolak fakta bahwa merumahkan kembali orang-orang yang hidup dalam kondisi ini adalah satu tindakan yang menjadi kewajiban moral para urbanis. Serta bahwa dalam beberapa kasus, rumah yang tidak layak mungkin lebih baik tidak dipertahankan. Namun, alih-alih mengamini proses penggusuran dan relokasi yang menimbulkan lebih banyak konflik dibandingkan kepuasan warganya, kami memilih pendekatan yang sekiranya lebih halus, suatu proses urban renewal yang humanis. 

Mengkonsolidasi lahan, mempertahankan morfologi kampung, melakukan proses pembangunan bertahap, menjadi solusi yang mungkin ditawarkan untuk mewujudkan suatu kualitas kehidupan yang lebih baik dengan seminimal mungkin mengorbankan kehidupan warga dan ikatan sosial yang sudah terjalin erat di antara mereka. Kemarin kami berusaha membagi kawasan menjadi beberapa sekuens hingga mengatur proses pembangunan dan pemindahan untuk menjamin bahwa warga masih bisa menempati kampung mereka. Rumit sih memang, dan keberhasilannya sangat-sangat bergantung pada beragam kondisi sehingga tidak bisa disamakan di semua lokasi. Tapi ini membuktikan, ada seribu satu pilihan selain menggusur warga kampung dan menempatkan mereka di rumah susun.

Bagaimanapun, kegiatan ini memberikan sebuah harapan baru bagi saya, bahwa masih ada inisiatif-inisiatif baik yang mungkin dilakukan untuk menengahi keinginan mereka yang memberikan instruksi top down dengan keinginan yang muncul secara bottom up. Yang bahkan bisa dikemas dalam sebentuk pembelajaran bagi mahasiswa yang berada di persimpangan jalan.

Teruntuk para warga yang sudah mengejutkan saya dengan kerelaannya untuk munggah, mundur, madhep kali demi Kali Winongo. 

Pasca penutupan, bersama tokoh masyarakat
Kalau ada yang bertanya penerapan konsep Low Carbon Ecodistrict-nya di mana, hmmm, kita obrolkan di lain waktu. Sekarang waktunya saya kembali ke rutinitas.

April 14, 2018

Belajar Menikmati Teh Tanpa Gula

Sirene pabrik berbunyi pukul 7, menandakan pergantian shift pekerja. Orang-orang berlalu-lalang dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda motor. Masing-masing kembali atau sedang menuju tempat kerjanya.
Di zona inti perkebunan teh Pagilaran
Pagi itu di kompleks Unit Perkebunan Pagilaran yang terletak di Kabupaten Batang, saya seperti me-refresh diri dari kepenatan. Walaupun terbangun dalam kondisi kurang fit pasca 5 jam perjalanan meniti lipatan-lipatan pegunungan di tengah Pulau Jawa, rupanya alam menyembuhkan saya. Mulanya saya dan kawan-kawan berniat untuk memulai hari dengan pemandangan matahari terbit di tengah kebun teh. Namun, karena kesiangan, alhasil kami harus puas berjalan-jalan di tengah hamparan perbukitan yang dipenuhi oleh tanaman Camellia Sinensis.

Walaupun sudah beberapa kali mengunjungi lokasi perkebunan teh (di Dieng dan di Tawangmangu), kunjungan kali ini terasa spesial. Saya bisa mengamati beberapa hal yang luput saya perhatikan dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya. Maka izinkan saya sedikit berbagi tentang pengalaman yang saya dapatkan kala itu.
Komplek permukiman pegawai di salah satu afdeling
Pertama-tama, komplek Unit Perkebunan Pagilaran ini merupakan sebuah kawasan yang cukup terintegrasi, secara umum terdiri dari zona permukiman, zona agrowisata, zona produksi (pabrik), dan zona perkebunan. Zona permukiman ini diperuntukkan untuk mengakomodasi para pegawai pabrik dan perkebunan. Rumah-rumahnya sangat sederhana, berdindingkan tembok dan kayu, beratapkan seng, dengan pola linear. Sedikit banyak serupa dengan rumah-rumah di Sabang, tempat mamak saya tinggal, tetapi bedanya, alih-alih bangunan individual, di sini satu bangunan besar disekat menjadi 3-5 unit rumah dengan halaman kecil sebagai pelengkapnya. Para penghuninya kemudian berkreasi  menghiasi halaman dengan tanaman hingga memelihara ternak di ruang yang mereka miliki. Sementara itu, berbagai amenitas penunjang terselip di berbagai sudut permukiman, seperti balai pengobatan, masjid, dan lapangan olahraga (yang akhirnya digunakan untuk lapangan parkir agrowisata).

Satu hal yang menarik, karena sebenarnya kompleks perkebunan ini sudah ada semenjak jaman penjajahan Belanda, maka beberapa bangunannya memiliki corak arsitektur kolonial. Kebanyakan bangunan ini kemudian digunakan sebagai fasilitas pendukung agrowisata, seperti penginapan dan meeting room. Salah satu yang paling saya sukai adalah rumah pemilik kebun, yang saat ini difungsikan sebagai Rumah Dinas direktur perusahaan. Bangunannya masih kokoh berdiri, walaupun ubinnya berwarna kemerahan menunjukkan sisa kebakaran yang pernah terjadi. Namun begitu, kemegahan dan kekuasaan masih tersirat dari bangunan tertinggi yang menghadap ke pabrik dan permukiman di bawahnya. 
Hamparan kebun teh di lipatan-lipatan perbukitan
Sesungguhnya, yang terbuka untuk publik hanyalah zona permukiman dan zona agrowisata, sementara zona pabrik dan perkebunan yang terletak lebih tinggi dari pabrik dibatasi aksesnya. Maka dari itu, beruntunglah saya kemarin dapat menjelajahi zona pabrik dan perkebunan hingga ke puncaknya, Puncak Jrakah. 

Karena jalanan di perkebunan hanya berupa susunan bebatuan selebar empat meter yang mengular sepanjang lekukan perbukitan (saya belum mention ya, lanskap tempat ini superb! Dari sononya sudah cantik) maka saya dan rombongan berkeliling menggunakan mobil. Di beberapa tempat, terdapat shelter pekerja kebun, bangunan sederhana yang hanya terdiri dari rangka besi dan atap seng. Di sinilah mereka berkumpul sebelum melakukan pekerjaan (entah itu memetik, menanam, memangkas, maupun perawatan lain seperti mencabuti gulma) dan untuk beristirahat makan siang. Di shelter ini pula, daun-daun teh yang sudah dipetik kemudian dikumpulkan dan diangkut menggunakan truk ke pabrik. 

Saya sempat heran, di kebun yang sangat luas (di atas 1000 hektar), bagaimana mungkin hanya ada sangat sedikit pekerja yang saya lihat? Pada dasarnya, perkebunan ini dibagi menjadi 3 afdeling (semacam sektor). Dalam pengelolaannya, masing-masing afdeling memiliki kelembagaan, memiliki pusat pemerintahan, permukiman, dan kawasan perkebunan sendiri yang dibagi menjadi blok-blok tertentu. Nah, untuk menjamin keberlangsungan produksi, maka proses pemangkasan, pemetikan, penanaman kembali dan pemeliharaan dilaksanakan secara bergiliran dalam blok-blok tersebut. Semuanya dikontrol dan diperhitungkan, pun apabila ada hama penyakit yang menyerang, penanganan dan peremajannya terekam dengan baik. Sebuah kombinasi manis pemanfaatan kecerdasan spasial dalam manajemen perkebunan.
Seorang ibu pemetik daun teh sedang menunggu rombongannya. Bisa jadi, kita sedang menyaksikan salah satu generasi terakhir pemetik daun teh yang tergantikan oleh alat pemetik daun teh.
Berikutnya saya dan rombongan beranjak untuk mengamati proses pembuatan teh di pabrik. Daun-daun yang dipetik oleh ibu-ibu di kebun dan diangkut menggunakan truk turun ke pabrik kemudian melewati beragam proses hingga akhirnya sampai di tangan konsumen. Singkatnya, daun teh harus melewati proses pelayuan, penggilingan, sortasi basah, pengoksidasian, sortasi kering, hingga pengepakan. Sebagian besar dilakukan dengan bantuan alat-alat produksi dan sebagian lainnya dikerjakan oleh pegawai pabrik. 

Walaupun sudah melewati beragam proses tersebut, pada akhirnya, tidak ada hasil-hasil pengolahan daun teh yang terbuang. Semuanya bisa menjadi produk yang dikonsumsi, dengan grade kualitas yang berbeda-beda. Penikmatnya, tentu saja bermacam-macam. Namun, justru teh berkualitas baik lebih banyak diimpor ke luar, karena permintaannya lebih banyak dari luar. Sementara permintaan teh dari dalam negeri tentu menyesuaikan dengan selera penikmat teh di Indonesia. 

Mendengar beragam percakapan selama kunjungan singkat ini, saya harus menyimpulkan bahwa budaya minum teh di Indonesia masih belum terbangun sebaik di berbagai negara lain seperti Cina, Jepang, Inggris, bahkan Pakistan. Di sana apresiasi atas teh sangatlah tinggi, kualitasnya betul diperhatikan. Pun caranya disajikan adalah suatu bentuk penghormatan kepada orang yang mengonsumsinya, tertuang dalam bentuk tradisi dan upacara yang membudaya.

Namun begitu, di sini, bagi kita teh adalah minuman sehari-hari, kawan yang setia dan mudah ditemui di mana sajaBagaimanapun pilihanmu untuk menikmatinya, panas-dingin, manis-tawar, instan-kantong-seduhan, dengan beragam jenis dan kualitas. Terhidang manis sebagai penyeimbang pedasnya santapan nasi dan ayam geprek di siang hari yang panas, atau menjadi seduhan nikmat kala udara dingin menyerang. Satu minuman yang merakyat, dijual mulai dari harga 2000 perak di angkringan dan burjo pinggir jalan, hingga puluhan ribu di kafe dan restoran mewah. Namun penghargaan atasnya tidaklah kurang, jangan kita lupa adanya upacara minum teh di istana-istana kraton, penghidangannya adalah satu kewajiban dan tradisi yang masih terus dilestarikan. 
Dihidangkan secangkir yellow tea.
Iya, setelah saya memahami prosesnya, dan mencoba menikmati beragam seduhan teh mulai dari yang biasa-biasa saja hingga yang eksklusif diolah dengan tangan, saya menjadi semakin mengapresiasi minuman ini. Seperti juga saya berusaha menghargai kopi, saya bertekad untuk belajar menikmati teh sebagai sebuah bentuk penghargaan untuk tangan-tangan yang terlibat dalam produksinya hingga tercipta uniknya cita rasa teh yang terhidang di cangkir saya. Secangkir teh tanpa gula. Pun begitu, sebagai orang Jawa tulen, saya tidak akan menolak ditawari teh yang nasgitel kok.

Yuk, ngeteh!


Dapat salam, dari adik-adik yang terlalu bahagia diajakin foto sepulang sekolah.

February 16, 2018

Seri Pemuda: Refleksi atas Cerita-Cerita Wawancara - Urgensi Pemuda yang Utama

It’s never too late nor too early. It’s never too big and grande nor too small and simple. Just be sincere. Having a dream is not a mistake, however silly it may seem at first. 
— Fadhila Nur Latifah Sani

Selamat malam,

Tulisan ini dimulai ketika saat itu jadwal harian saya kembali jatuh pada rutinitas yang selalu dihadapi saat rekrutmen organisasi, yakni… wawancara. 

Saya masih ingat, dulu ketika awalnya memutuskan untuk menyemplungkan kaki di organisasi kampus, saya tidak menyukai seleksi wawancara. Kenapa? Karena saya tidak merasa nyaman membicarakan hal-hal personal dengan orang yang baru saya temui pertama kali, dalam forum yang intimate, dengan waktu yang panjang, di mana saya harus membuka diri dan mengungkapkan hal-hal yang menurut saya ketika itu, berada dalam lekuk-lekuk terdalam pikiran saya. Apresiasi terbaik saya berikan kepada orang yang berhasil menyelami lekukan pikiran saya, seberapapun absurdnya itu.
Siapa sangka, 2 tahun setelahnya, saya berada dalam posisi di mana saya harus menjadi interviewer, bukan lagi sebagai interviewee

Kemudian sekarang, sekian lama setelah tulisan ini pertama kali saya mulai, saya ingin merefleksikan kembali beberapa fenomena yang saya temukan dalam proses mewawancara itu. Walaupun begitu, pertama izinkan saya untuk mengakui bahwa, saya bukanlah seorang interviewer yang sepenuhnya paham ilmunya, pun bukan pula interviewee yang selalu berhasil lolos tahapan wawancara(bahkan lebih sering gagalnya). Tapi dari segala proses dan kegagalan itulah maka saya melanjutkan tulisan ini malam ini.

Tujuan dari wawancara organisasi yang saya lakukan tidak lain adalah untuk mengetahui siapakah si interviewee dilihat dari latar belakang, sikap dan komitmennya. Semuanya dirumuskan terlebih dahulu di awal, kemudian pewawancara hanya perlu untuk mengikuti sop yang sudah ditentukan sebelumnya. Terkadang saya juga suka menambahkan pertanyaan-pertanyaan iseng untuk mencari tahu lebih tentang kehidupan mereka, terutama tentang apa yang menjadi tujuan hidup seseorang, atau mudahnya mungkin kita sebut sebagai cita-cita. 

Hasilnya? Tidak sedikit saya temukan kawan-kawan saya ini yang nasibnya sama seperti saya ketika saya menghadapi situasi wawancara pada masanya. Bingung, atau mungkin lebih tepatnya tidak punya jawaban yang pasti. Sementara saya sok-sokan mau membuat rencana ruang hidup untuk kepentingan masyarakat, sendirinya tidak punya rencana hidup yang konkret. Ketika ditanya apa yang mau dilakukan, jawabannya mengambang, mengawang dan disampaikan dengan ketidakyakinan pada pernyataan yang dikeluarkan. 

Mulanya saya kira ini adalah suatu hal yang saya temukan hanya di lingkungan kampus saya saja. Tetapi ternyata, ketika berkesempatan berdiskusi dengan Ustadz @emfatan, kegamangan ini beliau temukan pada banyak sosok pemuda di berbagai tempat dan kesempatan. Maka izinkan saya sedikit membahas hasil diskusi dengan beliau dalam forum On Building Prime Youth #1: Urgensi Pemuda Utama yang saya ikuti dua pekan lalu.

Apa hubungannya? Kenapa kemudian mempermasalahkan hidup orang lain, toh mereka punya cara menjalani hidupnya masing-masing bukan? 

Tahan di situ. Bagi saya pribadi, semenjak membaca buku Tuhan, Inilah Proposal Hidupku yang ditulis oleh Jamil Azzaini, saya menginsafi urgensi untuk memiliki sebuah rencana hidup yang jelas dan terperinci. Beberapa argumen penguat pernyataan ini bisa coba dibaca di sini atau di sini. Tapi mudahnya begini. Bayangkan kota tempat tinggal kita, dengan segala kondisinya yang sekarang, nyamannya atau kacaunya. Kemudian bayangkan 20 tahun dari sekarang, seperti apa kota kita akan berubah? Lebih baik atau lebih buruk? Ketika kita tidak memiliki sebuah rencana/guideline/goal yang jelas untuk kota kita, maka ia akan berkembang terhimpit berbagai kepentingan. Terus mengikuti arus bisa membawa kota menuju berbagai pilihan kondisi, baik itu menjadi kota metropolis yang livable, kota pariwisata yang kekurangan infrastruktur, atau malah, kota yang mati. 

Hal ini sama terjadi dengan hidup kita. Pertanyaannya adalah, apakah kita mau merencanakan arah hidup dengan target kebaikan, ataukah membiarkannya terombang-ambing mengikuti arus kehidupan?

Ada satu cerita tertutur saat diskusi sore itu, tentang 4 orang anak muda yang nongkrongnya di samping Ka’bah, bagian dari generasi terbaik pada masanya (fyi, paling tidak ada 220 sahabat nabi yang masuk dalam kategori muda). Sebutlah ada Abdullah bin Zubair, Mus’ab bin Zubair, Urwah bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwah. Mereka ini bukannya lagi interview untuk rekruitmen organisasi manapun, tapi saling sharing tentang cita-cita yang ingin mereka capai selama hidup. 

Dua bersaudara Abdullah bin Zubair dan Mus’ab bin Zubair sama-sama ingin menaklukkan Hijaz, sebuah wilayah di bagian barat Arab Saudi yang waktu itu belum dikuasai Islam. Abdul Malik bin Marwah sementara itu lebih ingin untuk menjadi khalifah setelah Mu’awiyah bin Abu Sofyan. Terakhir, Urwah bin Zubair mengutarakan keinginannya untuk memiliki ilmu dan kepahaman terhadap dien/agamanya, sehingga dapat menyebarkan pesan-pesan kebaikan Islam. 

Dikisahkan kemudian, cita-cita yang awalnya bermula sebagai obrolan ringan di antara mereka berempat, akhirnya berhasil tercapai. Kok bisa? Yah bisa, namanya juga anak muda. Harusnya yang muda-muda begini nih, alih-alih mengamini perkataan orang yang menganggap biasa kenakalan remaja di era informatika sebagai hal yang lumrah dengan pembenaran, “Yah, anak muda jaman sekarang.” 

Pada dasarnya, masa muda itu adalah masa di mana kita bisa belajar bertanggungjawab, berada dalam fase kuat yakni usia paling utama di setiap hal (jasmani & rohani), dan alhamdulillah-nya usia ini adalah usia paling panjang dalam hidup. Di masa-masa inilah manusia lebih mudah menerima kebenaran, dan dengan segala kelebihannya tsb bisa memberikan kontribusi maksimal serta memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan. Makanya dulu golongan muda yang nyulik Soekarno-Hatta dan mendorong beliau berdua untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia.
Pada titik ini kemudian saya bertanya pada diri sendiri, kalau saya, cita-citanya apa? Sudah jadi bagian dari golongan pemuda yang utama belum?

Hingga akhirnya, rasanya kita semua punya PR besar. Peradaban-peradaban besar yang ada rupanya terbentuk karena kekuatan generasi mudanya (baik secara kualitas maupun kuantitas) yang menggebu-nggebu melakukan perubahan. Indonesia kita, punya kesempatan emas memanfaatkan puncak bonus demografi di tahun 2030. Tahun itu, kita akan memiliki lebih banyak penduduk usia produktif dibandingkan penduduk usia tidak produktif. 

Pertanyaannya lagi, di masa depan itu, Indonesia akan tinggal landas menjadi negara maju, atau tercebur kubangan lumpur ketertinggalan yang semakin parah? 

Sepertinya semua tergantung kita, para pemuda, mau jadi pemuda utama atau mau jadi pemuda penganut kenakalan remaja di era informatika.

Referensi:
  1. Kultwit @JANtraining tentang On Building Prime Youth #1: Urgensi Pemuda Utama https://chirpstory.com/li/381229
  1. https://www.abanaonline.com/2016/11/kisah-urwah-bin-zubair-yang-tabah-dalam-menerima-musibah.html

Disclaimer:
Ingatan saya pendek, catatan saya terbatas, bacaan dan kajian saya masih sangat dangkal, belum lagi nulisnya suka sembrono. Jadi, kalau ada fakta-fakta yang terbelokkan dengan tidak sengaja, atau pesan-pesan yang kurang pas, tolong saya dijawil, maturnuwun.


December 22, 2017

Ekspedisi Ujung Barat Indonesia: Sahabat Sepermainan!

Pertemanan yang dimulai dengan agenda mencabuti ilalang yang nyangkut di rok saya dan diteruskan dengan sesi foto di pantai sebelah dermaga
Kakak Kakak En!!!! - Bocah-bocah 
Sesungguhnya saya hampir kehabisan ide untuk melanjutkan seri ini. Tapi ada wajah-wajah yang kembali menyapa lewat cuplikan momen yang terekam dalam kamera, sehingga akhirnya saya putuskan, saatnya mengenalkan teman main alias teman berantem saya di Sabang, hehe.

Faktanya, Gampong Krueng Raya populasinya mayoritas anak-anak, atau begitulah saya pikir. Tiap rumah sepertinya punya anak kecil yang jumlahnya dua atau lebih. Bocah-bocah usia TK-SD ini biasa berkeliaran pakai kolor dan sempak sepulang sekolah sampai waktu adzan maghrib berkumandang. Ngga semua kaya gitu sih sebenernya, bahkan mungkin hanya adik saya Lila dan teman sepermainannya yang suka bergaya pakaian seperti itu. Biasanya mereka rapi-rapi setiap pagi waktu berangkat sekolah, begitu juga sore-sore kalau jadwal pergi ke meunasah untuk belajar mengaji. Bahkan Lila tahu gimana cara berdandan yang cantik kalau mau pergi-pergi sama Mamak atau kakak-kakaknya. Eh tunggu, semua anak bergaya pakaian seperti itu kok, kala mereka mandi di pantai.

"Kak, fotoin kita doooong!"
"Ya ya ya, ayo pose, 1... 2... 3... Udah ayo turun jangan di situ nanti jatuh!"
Padahal sebenernya khawatir kalau-kalau ada yang mau makai kamar mandi jadi ngga bisa karena takut diintip mereka.
Yang ini minta difoto lagi, dengan pose yang lebih keren tentunya
Saya pikir saya tidak akan bisa merasa rindu, tapi toh sekarang saya merindu juga. Suara ribut anak-anak ini yang setiap hari bikin saya bangun tidur, selain bunyi bel sekolah dan lagu senam pagi. Maklum, SD N 10 Sabang lokasinya persis di belakang rumah, jadi kalau mereka ribut ya kedengerannya sampai jendela kamar saya (padahal sebenarnya seringnya saya bangun pas mereka udah masuk waktu istirahat pertama atau malah setelahnya, dan suara teman-teman KKN saya yang lebih bikin ribut rumah dan bikin bangun sih).

Sejujurnya, saya bukan orang yang pandai main sama anak-anak. Gimana yah, tetangga di kompleks perumahan saya banyaknya lansia bukan anak-anak. Adik saya udah besar, sepupu dan ponakan saya yang masih bocah juga jauh. Sementara di Krueng Raya, otomatis saya dikerumunin anak-anak. Bikin program ketemu mereka, main ke laut ketemu mereka, kerja di posko ketemu mereka, pergi ke warung ketemu mereka, keluar rumah ketemu mereka, sampai akhirnya kamar saya didatengin juga sama mereka. Hayolo, panik ngga tuh?

Santri TPAnya Pak Tuha Peut.
Minta diajarin baca kitab taunya malah saya yang diajarin mereka akhirnya.
Setiap mau pulang, yuk cek dulu kukunya panjang ngga.
Kalau sudah boleh pulang, berarti waktunya nonton voli berjamaah di lapangan atau jajan baso di depan posko.

Pun begitu, sesungguhnya, they're the best thing that could happen to us during that time. Siapa lagi yang bakal sabar ngajarin bahasa Aceh, ngajarin baca kitab kuning sampe bikin merinding karena hafalan Al-Qur'an nya keren-keren parah. Mereka bukanlah objek pengabdian di tanah orang, justru, mereka adalah sahabat-sahabat terbaik yang saya dapatkan di sana. Kehidupan mereka jauh berbeda dengan yang saya punya, di usia-usia belia banyak yang sudah mendapatkan cobaan yang jauh lebih berat tapi toh senyum mereka masih menguar jua.

"Ehh... kakak foto yaaa!"
"Tak mau kak"
"Jangan ngumpet gitu lah, liat sini dong liat sini"
"Ayo senyum itu mau difoto kakak ipeh tu lho!"
Jadi ini tetangga sebelah rumah, satu-satunya anak Krueng Raya yang punya teteh dan kalau mau mandi harus nunggu mamak pulang. Sukanya main mobil-mobil di depan rumah. Kalau udah cerita tentang sesuatu, aduh ngga akan ada selesainya.
Ketika bocah-bocah kalah sama mamak-mamak posyandu.
Oiya, faktanya, bedak di muka adalah yang membedakan siapa sudah mandi dan siapa belum.
Di saat-saat perpisahan, air mata dan pelukan sederhana mereka mengantarkan kepergian saya dan kawan-kawan KKN. Tak sedikit bahkan yang memasang wajah masam dan ngambek karena kami pergi terlalu cepat.
"Kak, kapan kakak pergi?
"Kak, jangan pergi lah, perginya besok aja"
"Kak ipeh di sini aja yaaa"
"Kak kapan ke sini lagi?"

Kalau ada umur dan rezeki, suatu saat pasti akan kembali. Saya ninggalin keluarga di sana, yang telepon terakhirnya tidak terangkat, hehe.
p.s. Sekarang ngga ada lagi yang panggil saya kakak di sini.

Ini Abay, kalau udah besar cita-citanya mau jadi polisi.
Aamiin, kalau kakak balik, semoga Abay udah jadi polisi ya. 

Coba lihat Rauzah yang ada di paling kanan, garang-garang gitu pas pamitan nangis juga dia. 

December 5, 2017

India’s Cities as Seen from My Window Seat — New Delhi, Chandigarh, Agra

This is more like a compilation of questions and wonders arose after a short contemplation over my journey in India, with some phenomenon I found unusual interspersed in between. Have fun reading!

Sehari sebelum malam perayaan Dhivali (festival of lights)
Di negara yang dihuni oleh lebih dari 1,3 milyar penduduk itu, ada satu hal yang benar-benar terkenang, bunyi klakson kendaraan!

Pengalaman saya di India banyak dihabiskan di atas kendaraan. Bagaimana tidak, saya mengunjungi tiga kota dalam rentang waktu sepuluh hari. Di India yang didominasi daratan, bus menjadi onta saya, dan jalan tol menjadi jalur pengembaraannya.

Berkesempatan mendarat di New Delhi dan menyesap udara di tengah malam, saya mau tidak mau harus merasa heran dengan kenampakan kabut yang menggantung di langit malam. “Peh, kamu ngerasa udaranya aneh ngga sih?” sontak pertanyaan kawan saya menjadi misteri hingga beberapa hari ke depannya. Ke manapun kami pergi, baik itu di kota maupun di perdesaan, kabut misterius itu tetap menggantung.

“Mas, itu apaan? Asap?”

“Iyalah, itu asap dari polusi gitu.”
“Oh, separah itu yah asap kendaraan bermotor? Kok sampe jam segini?”
“Bukan, itu gara-gara cara mereka beribadah kan.”
“Dupa-dupaan gitu? Oh, pantesan baunya agak aneh”
“Lebih ke asap bakar mayat sih… Budaya mereka di sini kan gitu”
“…..”

Satu di antara alasan yang mengemuka saat itu adalah tentang asap upacara pembakaran mayat, yang membuat saya cukup tercengang ketika itu. Sebanyak itukah sehingga bisa menutupi bintang-bintang di angkasa? Ah, rupanya tidak. Faktanya menyebutkan, New Delhi memang merupakan salah satu kota yang memiliki tingkat polusi udara paling tinggi di dunia. Kalau merujuk pada informasi dari urbanemissions.info, sumber polusi di New Delhi 30% nya berasal dari kendaraan bermotor, masing-masing 20% dari biomass burning dan sektor industri, sisanya berasal dari debu, generator diesel, pembakaran sampah maupun pembangkit listrik. Terbukti, bukan asap dari upacara pembakaran mayat yang mengkontaminasi udara di India selama 24/7.

Lalu lintas di Kota New Delhi
Malam berganti pagi, dan saya beranjak pergi dari Indira Gandhi International Airport menuju Kota Chandigarh, yang berada di wilayah Punjab. Wilayah ini berada di bagian utara daratan India, dan penduduknya memiliki kekhasan tersendiri. Mayoritasnya merupakan penutur bahasa Punjabi dan penganut agama Sikh. Secara kasat mata hal ini bisa dibedakan dari penampilan kaum lelakinya yang menggunakan semacam surban di kepala, sebagai salah satu bentuk kepercayaan mereka. Sementara kaum perempuannya tidak berpenampilan begitu berbeda, hanya saja mereka lebih jarang menggunakan sari dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan menuju Kota Chandigarh ini lah yang memberikan kesan pertama akan India. Sepanjang perjalanan, bunyi klakson kendaraan tidak pernah berhenti memekik, tidak kurang selama 6–7 jam perjalanan di jalan tol yang menghubungkan New Delhi dengan kota tersebut. Mengapa bisa? Gampangnya, di malam hari, kendaraan-kendaraan beratlah yang banyak melintas, dengan angkutan penuh sehingga mereka melaju dengan kecepatan cukup lambat. Sementara itu, mobil van yang saya tumpangi melaju dengan kecepatan rata-rata 60–70 km/jam, yang mana berarti, sangat mudah bagi sang supir untuk menyalip kendaraan lainnya. Nah, kendaraan yang menyalip terbiasa untuk membunyikan klakson mereka, bahkan dari sebelum hingga mereka berhasil menyalip kendaraan lain! Jadi bayangkanlah, di jalan yang ramai, ketika mobil van saya menyalip atau disalip, akan selalu ada bunyi klakson yang nyaring terdengar.

Salah satu sudut Chandigarh University, Chandigarh
Pusing? Iya. Untungnya, Kota Chandigarh menjadi obat dari kepusingan saya atas kebisingan di perjalanan. Sebuah berkah tersendiri ketika menyadari bahwa Kota Chandigarh ini adalah kota paling terencana di India, karena dibangun atas dasar masterplan yang jelas dan memiliki pemerintahan kota yang dinilai cukup baik oleh beberapa kawan di sana.

Adalah Le Corbusier, seorang arsitek kawakan asal Perancis yang memiliki andil besar dalam perencanaan Kota Chandigarh. Ia dan timnya mengaplikasikan sebuah kombinasi antara konsep Radiant City yang diusungnya dengan konsep Garden City yang diperkenalkan oleh Ebenezer Howard. Dari kursi saya di balik jendela van yang saya tumpangi, ciri-ciri Garden City terlihat lebih dominan. Sepanjang sisi jalan dan median jalan ditumbuhi oleh tanaman yang terawat, jaringan jalannya berbentuk grid dengan roundabouts yang membagi kota ini dalam blok-blok tertentu. Selain itu, kota ini memiliki beragam taman kota sebagai ruang publik yang aktif sekaligus membatasi sisi-sisi terluar wilayahnya.

Barulah setelah melihat lebih detail ke balik deretan tanaman ke dalam blok-blok bangunan, nampaklah bagaimana penerapan konsep Radiant City yang menekankan pada efesiensi fungsi kota dengan integrasi bangunan-bangunan yang ada. Secara umum, keberadaan blok-blok bangunan mempermudah pengaplikasian pola dan struktur ruang kota serta menciptakan keteraturan yang lazim ditemukan dalam kota yang berasal dari sebuah garapan masterplan.

Sampai saat ini, rencana Kota Chandigarh terus dikembangkan untuk memenuhi tantangan zaman yang berubah. Terdapat beberapa isu yang perlu dijawab oleh kota ini, seperti bagaimana mengatasi arus urbanisasi dan mengakomodasi kebutuhan penduduk yang terus bertambah. Menarik maka, untuk mengikuti bagaimana langkah yang dilakukan kota ini untuk mengatasi potensi permasalahan ketersediaan perumahan, transportasi publik, serta fasilitas umum dan fasilitas sosial lainnya.

Begitulah Chandigarh, setelah menghabiskan waktu dua hari di sana, akhirnya saya harus kembali ke New Delhi untuk memenuhi tujuan utama saya berkunjung ke India. Jalan yang berdebu menjadi saksi bagaimana India, seperti halnya Indonesia, masih berjuang membangun negaranya, dan bagaimana pembangunan itu terkadang menyebabkan permasalahan baru. Banyak hal yang saya anggap asing di sepanjang perjalanan. Salah satunya yang saya masih tidak habis pikir, mengapa di tengah-tengah ketiadaan kemudian muncul kompleks bangunan yang ternyata berfungsi sebagai universitas ataupun pabrik industri. Memunculkan tanya, bagaimana mereka membangun infrastruktur dengan efisien dan bagaimana mereka merencanakan perkembangan wilayahnya.

President House
Yah, akhirnya saya harus beralih dari sebuah kota yang terencana, menyeberang kawasan perdesaan, menuju sebuah kota metropolitan. Kepadatan lalu lintas New Delhi ramah menyambut siapapun yang berkunjung. Kota ini memamerkan kemegahan dan kemewahan, menunjukkan kehebatan peradaban masa lalu, serta menjanjikan modernisasi dan perbaikan kualitas hidup. Namun, di sisi lain juga memamerkan kesederhanaan hingga kesemrawutan, menyisakan masalah-masalah kota, dan keras menggerus orang-orang yang tidak bisa beradaptasi dengan ritme kehidupan kotanya.

Saya mendiami hotel di kawasan Gurgaon, yang mana berada di sebelah selatan kota ini. Dari New Delhi, kami dapat dengan mudah mencapainya melalui highway. Kawasan ini cenderung lebih lengang dibandingkan di tengah kota. Di sebelah baratnya, terdapat kawasan lain yang disebut Cyber City. Isinya? Perusahaan-perusahaan global seperti IBM, Google, dsbg. Apabila lingkungan hotel saya terlihat seperti kawasan Glodok, tetapi bmaka kawasan Cyber City ini memberikan kesan modern dan nyaman untuk ditinggali, dengan gedung-gedung bertingkat dan jalanan yang indah.

Kalau kita ibaratkan pengalaman berada di New Delhi dengan rasa permen, maka rasanya berada di New Delhi, seperti makan permen nano-nano. Hampir setiap hari saya bepergian dengan bus dari hotel menuju venue acara yang berada di tengah kota New Delhi. Ini berarti, hampir setiap hari saya membelah kota ini. Saya tidak lagi heran dengan lalu-lalang orang yang berjalan kaki dan menyeberang jalan hampir di setiap ruas jalan. Pun sudah terbiasa dengan percampuran pemandangan sapi yang berseliweran, manusia yang rebahan di trotoar serta anjing-anjing berkeliaran yang pada mulanya saya anggap janggal. Hingga tidak lagi merasa kasihan melihat mobil-mobil baru yang tidak lagi nampak mulus dan berdesakan di jalanan.

Geliat ekonomi di salah satu sudut kota
Ah, belum lagi kita membahas dimensi tata ruangnya. Indah sekali melihat lingkungan sekitar Kedutaan Besar Indonesia, yang dekat sekali dengan kediaman Jawahalrar Nehru (sekarang menjadi Nehru Planetarium dan Nehru Museum). Bangunan-bangunannya megah berdiri bercorakkan arsitektur kolonial Inggris yang berpadu dengan arsitektur khas timur yang dipengaruhi budaya Hindu dan Islam. Museum, monumen, kuil, terawat dan dikelola menjadi objek wisata yang menarik. Taman-tamannya membentang tidak kalah bagus dengan taman di Kota Chandigarh. Ditambah lagi adanya hutan kota yang ehem, kita jarang punya.

Namun di sisi ekstrim yang lain, ada slum area, ada trotoar yang tidak terawat, ada pasar yang kumuh, ada kemacetan yang menghantui, ada bangunan yang hancur tidak terurus. Begitulah sehingga seakan-akan kita melihat ada kemiskinan yang terpampang di jendela kemewahan.

Di depan sebuah pasar sayur dan buah di Okhla, setelah gagal bertransaksi karena keterbatasan bahasa


Terakhir, marilah kita meninggalkan New Delhi dan rehat sejenak mengunjungi Agra. Tempat satu dari tujuh keajaiban dunia yang dahulu kita hafalkan ketika kecil di lagunya Sherina. Taj Mahal!

Saya tidak bisa berkata banyak tentang Agra, terlalu lelah dan lemah saya sehingga kebanyakan tidur di bus dalam perjalanan. Satu hal yang bisa saya pastikan, kota ini akan memanjakan fantasi Asia daratan bagi Anda yang tertarik. Berkunjunglah, sesap dalam-dalam udaranya, rasakan berada di India tempo dulu, sambangi peninggalan-peninggalan sejarahnya, bercengkerama dengan segenap penduduknya.

Kubah Taj Mahal, dibayarkan dengan tiket masuk seharga 1000 rupees
Ah, mungkin saya mulai bisa merasa rindu untuk kembali berkunjung. Semoga lain kali, saya tidak hanya menjadi penonton kehidupan di balik jendela dan komentator di laman pribadi.
Terimakasih India, atas pelajarannya tentang penghargaan akan kehidupan.

p.s. kalau ada yang mau mengajukan pertanyaan tentang bagaimana saya mengurus perjalanan ke India, silahkan kontak saya secara pribadi.