December 5, 2017

India’s Cities as Seen from My Window Seat — New Delhi, Chandigarh, Agra

This is more like a compilation of questions and wonders arose after a short contemplation over my journey in India, with some phenomenon I found unusual interspersed in between. Have fun reading!

Sehari sebelum malam perayaan Dhivali (festival of lights)
Di negara yang dihuni oleh lebih dari 1,3 milyar penduduk itu, ada satu hal yang benar-benar terkenang, bunyi klakson kendaraan!

Pengalaman saya di India banyak dihabiskan di atas kendaraan. Bagaimana tidak, saya mengunjungi tiga kota dalam rentang waktu sepuluh hari. Di India yang didominasi daratan, bus menjadi onta saya, dan jalan tol menjadi jalur pengembaraannya.

Berkesempatan mendarat di New Delhi dan menyesap udara di tengah malam, saya mau tidak mau harus merasa heran dengan kenampakan kabut yang menggantung di langit malam. “Peh, kamu ngerasa udaranya aneh ngga sih?” sontak pertanyaan kawan saya menjadi misteri hingga beberapa hari ke depannya. Ke manapun kami pergi, baik itu di kota maupun di perdesaan, kabut misterius itu tetap menggantung.

“Mas, itu apaan? Asap?”

“Iyalah, itu asap dari polusi gitu.”
“Oh, separah itu yah asap kendaraan bermotor? Kok sampe jam segini?”
“Bukan, itu gara-gara cara mereka beribadah kan.”
“Dupa-dupaan gitu? Oh, pantesan baunya agak aneh”
“Lebih ke asap bakar mayat sih… Budaya mereka di sini kan gitu”
“…..”

Satu di antara alasan yang mengemuka saat itu adalah tentang asap upacara pembakaran mayat, yang membuat saya cukup tercengang ketika itu. Sebanyak itukah sehingga bisa menutupi bintang-bintang di angkasa? Ah, rupanya tidak. Faktanya menyebutkan, New Delhi memang merupakan salah satu kota yang memiliki tingkat polusi udara paling tinggi di dunia. Kalau merujuk pada informasi dari urbanemissions.info, sumber polusi di New Delhi 30% nya berasal dari kendaraan bermotor, masing-masing 20% dari biomass burning dan sektor industri, sisanya berasal dari debu, generator diesel, pembakaran sampah maupun pembangkit listrik. Terbukti, bukan asap dari upacara pembakaran mayat yang mengkontaminasi udara di India selama 24/7.

Lalu lintas di Kota New Delhi
Malam berganti pagi, dan saya beranjak pergi dari Indira Gandhi International Airport menuju Kota Chandigarh, yang berada di wilayah Punjab. Wilayah ini berada di bagian utara daratan India, dan penduduknya memiliki kekhasan tersendiri. Mayoritasnya merupakan penutur bahasa Punjabi dan penganut agama Sikh. Secara kasat mata hal ini bisa dibedakan dari penampilan kaum lelakinya yang menggunakan semacam surban di kepala, sebagai salah satu bentuk kepercayaan mereka. Sementara kaum perempuannya tidak berpenampilan begitu berbeda, hanya saja mereka lebih jarang menggunakan sari dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan menuju Kota Chandigarh ini lah yang memberikan kesan pertama akan India. Sepanjang perjalanan, bunyi klakson kendaraan tidak pernah berhenti memekik, tidak kurang selama 6–7 jam perjalanan di jalan tol yang menghubungkan New Delhi dengan kota tersebut. Mengapa bisa? Gampangnya, di malam hari, kendaraan-kendaraan beratlah yang banyak melintas, dengan angkutan penuh sehingga mereka melaju dengan kecepatan cukup lambat. Sementara itu, mobil van yang saya tumpangi melaju dengan kecepatan rata-rata 60–70 km/jam, yang mana berarti, sangat mudah bagi sang supir untuk menyalip kendaraan lainnya. Nah, kendaraan yang menyalip terbiasa untuk membunyikan klakson mereka, bahkan dari sebelum hingga mereka berhasil menyalip kendaraan lain! Jadi bayangkanlah, di jalan yang ramai, ketika mobil van saya menyalip atau disalip, akan selalu ada bunyi klakson yang nyaring terdengar.

Salah satu sudut Chandigarh University, Chandigarh
Pusing? Iya. Untungnya, Kota Chandigarh menjadi obat dari kepusingan saya atas kebisingan di perjalanan. Sebuah berkah tersendiri ketika menyadari bahwa Kota Chandigarh ini adalah kota paling terencana di India, karena dibangun atas dasar masterplan yang jelas dan memiliki pemerintahan kota yang dinilai cukup baik oleh beberapa kawan di sana.

Adalah Le Corbusier, seorang arsitek kawakan asal Perancis yang memiliki andil besar dalam perencanaan Kota Chandigarh. Ia dan timnya mengaplikasikan sebuah kombinasi antara konsep Radiant City yang diusungnya dengan konsep Garden City yang diperkenalkan oleh Ebenezer Howard. Dari kursi saya di balik jendela van yang saya tumpangi, ciri-ciri Garden City terlihat lebih dominan. Sepanjang sisi jalan dan median jalan ditumbuhi oleh tanaman yang terawat, jaringan jalannya berbentuk grid dengan roundabouts yang membagi kota ini dalam blok-blok tertentu. Selain itu, kota ini memiliki beragam taman kota sebagai ruang publik yang aktif sekaligus membatasi sisi-sisi terluar wilayahnya.

Barulah setelah melihat lebih detail ke balik deretan tanaman ke dalam blok-blok bangunan, nampaklah bagaimana penerapan konsep Radiant City yang menekankan pada efesiensi fungsi kota dengan integrasi bangunan-bangunan yang ada. Secara umum, keberadaan blok-blok bangunan mempermudah pengaplikasian pola dan struktur ruang kota serta menciptakan keteraturan yang lazim ditemukan dalam kota yang berasal dari sebuah garapan masterplan.

Sampai saat ini, rencana Kota Chandigarh terus dikembangkan untuk memenuhi tantangan zaman yang berubah. Terdapat beberapa isu yang perlu dijawab oleh kota ini, seperti bagaimana mengatasi arus urbanisasi dan mengakomodasi kebutuhan penduduk yang terus bertambah. Menarik maka, untuk mengikuti bagaimana langkah yang dilakukan kota ini untuk mengatasi potensi permasalahan ketersediaan perumahan, transportasi publik, serta fasilitas umum dan fasilitas sosial lainnya.

Begitulah Chandigarh, setelah menghabiskan waktu dua hari di sana, akhirnya saya harus kembali ke New Delhi untuk memenuhi tujuan utama saya berkunjung ke India. Jalan yang berdebu menjadi saksi bagaimana India, seperti halnya Indonesia, masih berjuang membangun negaranya, dan bagaimana pembangunan itu terkadang menyebabkan permasalahan baru. Banyak hal yang saya anggap asing di sepanjang perjalanan. Salah satunya yang saya masih tidak habis pikir, mengapa di tengah-tengah ketiadaan kemudian muncul kompleks bangunan yang ternyata berfungsi sebagai universitas ataupun pabrik industri. Memunculkan tanya, bagaimana mereka membangun infrastruktur dengan efisien dan bagaimana mereka merencanakan perkembangan wilayahnya.

President House
Yah, akhirnya saya harus beralih dari sebuah kota yang terencana, menyeberang kawasan perdesaan, menuju sebuah kota metropolitan. Kepadatan lalu lintas New Delhi ramah menyambut siapapun yang berkunjung. Kota ini memamerkan kemegahan dan kemewahan, menunjukkan kehebatan peradaban masa lalu, serta menjanjikan modernisasi dan perbaikan kualitas hidup. Namun, di sisi lain juga memamerkan kesederhanaan hingga kesemrawutan, menyisakan masalah-masalah kota, dan keras menggerus orang-orang yang tidak bisa beradaptasi dengan ritme kehidupan kotanya.

Saya mendiami hotel di kawasan Gurgaon, yang mana berada di sebelah selatan kota ini. Dari New Delhi, kami dapat dengan mudah mencapainya melalui highway. Kawasan ini cenderung lebih lengang dibandingkan di tengah kota. Di sebelah baratnya, terdapat kawasan lain yang disebut Cyber City. Isinya? Perusahaan-perusahaan global seperti IBM, Google, dsbg. Apabila lingkungan hotel saya terlihat seperti kawasan Glodok, tetapi bmaka kawasan Cyber City ini memberikan kesan modern dan nyaman untuk ditinggali, dengan gedung-gedung bertingkat dan jalanan yang indah.

Kalau kita ibaratkan pengalaman berada di New Delhi dengan rasa permen, maka rasanya berada di New Delhi, seperti makan permen nano-nano. Hampir setiap hari saya bepergian dengan bus dari hotel menuju venue acara yang berada di tengah kota New Delhi. Ini berarti, hampir setiap hari saya membelah kota ini. Saya tidak lagi heran dengan lalu-lalang orang yang berjalan kaki dan menyeberang jalan hampir di setiap ruas jalan. Pun sudah terbiasa dengan percampuran pemandangan sapi yang berseliweran, manusia yang rebahan di trotoar serta anjing-anjing berkeliaran yang pada mulanya saya anggap janggal. Hingga tidak lagi merasa kasihan melihat mobil-mobil baru yang tidak lagi nampak mulus dan berdesakan di jalanan.

Geliat ekonomi di salah satu sudut kota
Ah, belum lagi kita membahas dimensi tata ruangnya. Indah sekali melihat lingkungan sekitar Kedutaan Besar Indonesia, yang dekat sekali dengan kediaman Jawahalrar Nehru (sekarang menjadi Nehru Planetarium dan Nehru Museum). Bangunan-bangunannya megah berdiri bercorakkan arsitektur kolonial Inggris yang berpadu dengan arsitektur khas timur yang dipengaruhi budaya Hindu dan Islam. Museum, monumen, kuil, terawat dan dikelola menjadi objek wisata yang menarik. Taman-tamannya membentang tidak kalah bagus dengan taman di Kota Chandigarh. Ditambah lagi adanya hutan kota yang ehem, kita jarang punya.

Namun di sisi ekstrim yang lain, ada slum area, ada trotoar yang tidak terawat, ada pasar yang kumuh, ada kemacetan yang menghantui, ada bangunan yang hancur tidak terurus. Begitulah sehingga seakan-akan kita melihat ada kemiskinan yang terpampang di jendela kemewahan.

Di depan sebuah pasar sayur dan buah di Okhla, setelah gagal bertransaksi karena keterbatasan bahasa


Terakhir, marilah kita meninggalkan New Delhi dan rehat sejenak mengunjungi Agra. Tempat satu dari tujuh keajaiban dunia yang dahulu kita hafalkan ketika kecil di lagunya Sherina. Taj Mahal!

Saya tidak bisa berkata banyak tentang Agra, terlalu lelah dan lemah saya sehingga kebanyakan tidur di bus dalam perjalanan. Satu hal yang bisa saya pastikan, kota ini akan memanjakan fantasi Asia daratan bagi Anda yang tertarik. Berkunjunglah, sesap dalam-dalam udaranya, rasakan berada di India tempo dulu, sambangi peninggalan-peninggalan sejarahnya, bercengkerama dengan segenap penduduknya.

Kubah Taj Mahal, dibayarkan dengan tiket masuk seharga 1000 rupees
Ah, mungkin saya mulai bisa merasa rindu untuk kembali berkunjung. Semoga lain kali, saya tidak hanya menjadi penonton kehidupan di balik jendela dan komentator di laman pribadi.
Terimakasih India, atas pelajarannya tentang penghargaan akan kehidupan.

p.s. kalau ada yang mau mengajukan pertanyaan tentang bagaimana saya mengurus perjalanan ke India, silahkan kontak saya secara pribadi.

September 11, 2017

Ekspedisi Ujung Barat Indonesia: Pengenalan dan Perkenalan

“Mbak, aku mau KKN di tempat mu, dong!”

Hehe, yakin? Nanti kamu ngga bisa mainan kartu, ngga boleh pakai celana pendek di luar rumah, ngga bisa bikin acara dangdutan, dan harus prihatin kalau mau seru-seruan sendiri di posko. Yah, sebenernya ngga gitu banget juga sih, tapi intinya, seperti keinginanmu mengabdi ke tempat-tempat lainnya di penjuru Indonesia, selalu ada yang harus dikorbankan dan kamu harus berusaha untuk beradaptasi dengan lingkunganmu.

Kalau kamu tanya pengalaman KKN aku seru atau engga, maka aku akan bilang, seru! Walaupun seru versi aku dengan seru versi kamu, dan seru versi orang-orang lain pasti berbeda. Karena kalau aku dengar cerita tim-tim lain, mereka mungkin punya lebih banyak hal baru dan menarik untuk diceritakan.

Pelabuhan Jurong Mustika Kolam Bermata

Kehidupan KKN aku biasa-biasa saja, percayalah! Kelompok aku ngga mengalami drama kehidupan yang menghebohkan pun terlalu tidak biasa. Kami hidup pada umumnya orang hidup, di ruang waktu yang lebih lambat satu jam dari waktu Indonesia bagian barat yang biasa kami rasa. Di pulau kecil yang secara administratif diakui sebagai kota, tetapi kota fungsionalnya hanya ada di satu sudut saja dan sisanya adalah hutan perbukitan. 

Pada awalnya, rasanya serba excited! Dalam perjalanan menuju Sabang, kami singgah di Kota Banda Aceh yang memikat mata dan menyejukkan hati, Bung! Betapa bahagianya warga lokal Pulau Jawa satu ini bisa menginsafi keindahan Masjid Baiturrahman di malam Bulan Ramadhan. And that excitement grows until we arrived on Sabang, yang hijaunya pepohonan di perbukitannya berpadu dengan gradasi biru lautan dan sang langit siang, bikin jatuh hati di pandangan pertama.
Tapi sebentar, panasnya luar biasa, Bung! Semoga mereka memaafkan aku dan kawan-kawan; Mamak, Ayah, di awal pertemuan itu bukannya kami tidak ingin beramah tamah dan memulai perkenalan kita dengan sesuatu yang baik. Namun, siapa yang tahan dengan teriknya matahari di siang itu? Untunglah Mamak dan Ayah pengertian dan mempersilahkan kami beristirahat sampai adzan memanggil tuk berbuka.

Keresahan pertama yang benar-benar aku rasakan adalah, ternyata jadi anak desa itu, hidupnya selo! Di Bulan Ramadhan itu, tidak banyak program yang bisa dilakukan. Mana bisa kalau sekolahan libur, TPA libur, toko-toko tutup siang buka lagi malam. Mau eksplor ngga punya kendaraan, ngga kuat jalan naik turun bukit, aih, gampong ini terlalu luas untuk dijelajahi dengan kaki di siang bolong. Pun novel yang aku bawa dari rumah terlalu cepat berganti halaman dan mencapai akhir kisah fiksinya. Sungguh, rasanya waktu berlalu lambat dan kegabutannya begitu menyesakkan. Namun di sela selo itulah aku mulai berkenalan dengan Gampong Krueng Raya dan segenap isinya. 

Kalau kamu tanya kesan pertama aku sama gampong (desa) ini apa? Absurd! Ini desa apaan kok rumah-rumahnya kaya perumahan? Tipenya sama, atapnya serasi, jalanannya grid. Beuh, udah macam di kota aja. Dan kenyataannya, di turunan pertama menuju pondokan, aku melihat apa yang aku lihat di peta citra itu ternyata adalah sebuah kenyataan. Kompleks perumahan itu dibangun oleh pemerintah kota untuk mengakomodasi para nelayan (sebagian penduduk asli dan sebagian korban penggusuran akibat proyek pelebaran jalan di Kota Sabang) maupun korban tsunami Aceh 2004. Kompleksnya tersebar di beberapa lokasi dalam beberapa jurong (dusun). Kompleks nelayan hanya ada di Jurong Mustika Kolam Bermata, sementara kompleks tsunami ada di Jurong Teupin Ciriek, Jurong Mustika Kolam Bermata dan Jurong Ilham Syukuran. Di dua jurong lainnya dalam gampong ini, yakni di Jurong Batu Singa Berfakta maupun Jurong Lhok Drien, rumah-rumah yang ada tumbuh secara organik, seperti pada umumnya di desa-desa.

Pondokan aku sendiri, adanya di Kompleks Nelayan, Jurong Mustika Kolam Bermata. Tepatnya di lorong (gang) kedua, persis setelah SD yang katanya kena terjangan tsunami dulu, jadi kalau ada tsunami lagi (yang alhamdulillahnya tidak), entah apakah rumah kami selamat atau tidak. Setiap pagi apabila aku terbangun pagi dan cukup nyali melangkah keluar rumah menyambut udara yang dingin, aku akan menemukan dua anjing tetangga yang berkeliaran di jalanan, tempat nongkrong mamak di bawah pohon rambutan alasnya basah karena embun, orang-orang mulai keluar rumah untuk nyapu halaman, dan selebihnya sepi, hanya terkadang ada kendaraan lewat di jalan di atas bukit yang terdengar hingga ke lembah ini. 


Gg. Delima, yang sebelah kiri pondokan saya


Di dalam sebuah rumah sederhana, yang dindingnya terbuat dari papan kayu sehingga suara-suara tidak tertutupi dengan sepenuhnya. Di situ aku tinggal bersama tiga orang saudari KKN, tiga saudari asuh, mama yang sangat perhatian dan ayah yang paling ganteng di rumah. Dari sanalah kisah setiap hari pengabdianku bermula.




----
Untuk dilanjutkan kemudian


Books

Akhir-akhir ini saya ngga pernah tahan ngga beli buku, suka tiba-tiba pengen beli ketika liat buku yang menarik, apalagi kalau murah dan lagi diskon, kalap men! Prinsipnya gampang, ngga perlu punya banyak uang, cukup siap-siap berkorban menahan nafsu jajan setelah ngeborong buku. Bahkan saya lebih kalap liat buku bagus daripada liat baju, makanan dan barang-barang lainnya.

Kalau ditanya dari kapan saya mulai menyukai buku, maka saya harus jawab, sepanjang ingatan, bahkan sebelum bisa membaca, buku dan cerita adalah salah satu teman terbaik masa kecil saya. Main sama sepupu-sepupu atau teman-teman, kita duduk bareng bolak-balik buku bacaan.

Semuanya karena orangtua saya yang sama-sama suka baca. Ini adalah salah satu hal yang saya harus berterima kasih sekali kepada mereka, yang mengajarkan saya mencintai membaca dan menulis semenjak kecil. Kala itu, malam har tak akan terlewat tanpa Bapak yang membacakan buku cerita di tengah tempat tidur saya dan abang hingga kami terlelap, dan mencium kening kami penuh sayang. Sementara di pagi harinya giliran ibu yang menemani kami membaca buku dengan beragam topik, mengajarkan membaca dan menulis sebelum kami masuk TK, mengizinkan kami ikut ke kantor beliau kala itu di sebuah penerbit buku, menyempatkan mampir ke persewaan buku saat menjemput dari sekolah, dan selalu mengapresiasi cerita-cerita pendek yang suka iseng saya tulis.

Akhirnya, waktu TK selain manjat-manjat apollo, main pasir, tinggi-tinggian main ayunan, naik prosotan dan jungkat-jungkit atau berantem, salah satu tempat favorit saya adalah perpustakaan. Yang isinya buku-buku Franklin kura-kura atau Winnie the Pooh. Waktu SD, baca komik Doraemon, Tintin, Asterix Obelix, Ramayana, Kisah-kisah Nabi dan Rasul, novel Harry Potter, Lima Sekawan, novel teenlit galau, sampai koleksi novel Ahmad Tohari punya simbah bisa selesai dibabat. Lanjut waktu SMP dan SMA, masih beragam judul novel dan majalah, yang sebagian besar pinjaman, saya habiskan juga lembar demi lembar.

Sampai sekarang, buku favorit saya tetap buku fiksi. Walaupun mulai berusaha membaca buku-buku non-fiksi dengan perjuangan berkali-kali lipat. Hahahaha.

Beruntungnya saya dikelilingi perpustakaan-perpustakaan oke, orang-orang keren yang punya koleksi buku yang beragam, jadi bisa dibilang saya ngga pernah kehabisan buku bacaan.
Sekarang giliran saya pengen jadi bagian dari ke oke an dan kekerenan itu, dan lagi-lagi karena akhir-akhir ini kalap banget beli buku, koleksi saya cukup menggunung, dalam artian nganggur di rak buku entah belum terbaca atau sudah diselesaikan. Walaupun mungkin ngga memenuhi selera teman-teman, tapi kalau pengen ngobrol tentang buku, pengen tau apa yang saya baca, bahkan pengen pinjam buku saya, feel free to contact me.

At last, please spread your love for books and literacy.

dari medium.com
tertanggal 16 Januari 2017

June 22, 2017

Ekspedisi Ujung Barat Indonesia: Sebuah Pengantar



"bismillah"
pangkal segala kebaikan,
permulaan segala urusan penting,
dan dengannya juga
kita memulai segala urusan.
-Badiuzzaman Said Nursi-

Apabila saya sempat berwacana untuk menerbitkan rubrik baru di sini, maka insyaAllah inilah bentuk ikhtiar untuk mewujudkan niat iseng saya tersebut. Hal ini semata-mata sebagai salah satu ungkapan syukur atas kesempatan dapat bertualang KKN ke Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam.

Jogjakarta-Cengkarang-Kualanamu-Banda Aceh-Sabang. 2.257 km, dan kurang lebih 6 jam perjalanan udara, 12 jam transit dan 1 jam perjalanan melintas selat benggala. Bermulalah pembelajaran saya di ujung barat Indonesia, di tanah yang menerapkan syariat Islam, di rumah yang dibangun kembali setelah diterjang tsunami, bersama masyarakat pesisir Samudera Hindia.

Dalam pada 50 hari ke depan, nikmatilah segenap kisah dari saya.

Salam,

May 25, 2017

Andai Buku Bisa Bertutur

Setiap buku memiliki ceritanya masing-masing
Entah itu cerita sang penulis dalam menulis buku, cerita tentang orang lain yang dituliskan penulis dalam buku tersebut, cerita karangan sang penulis serta cerita-cerita lainnya
Namun ada satu cerita yang unik entah apapun bukunya, yang antara satu dan lain eksemplar akan sangat berbeda
Yakni cerita perjalan sang buku hingga sampai ke tangan pemiliknya

Ini adalah cerita tentang sebuah buku
Pada suatu kala ia diproduksi di sebuah negeri, dikirim ke sebuah rumah yang nyaman tempatnya berdiam dan memamerkan diri bersama buku-buku lainnya
Hingga pada waktunya datang seorang lelaki asing, mengambilnya untuk dibawa berlayar mengarungi lautan menuju belahan bumi yang lain
Sesampainya, ia menemukan rumah yang baru di mana orang-orang bertutur dengan bahasa yang tidak ia pahami maknanya
Bertahun ia tinggal, mungkin terlupakan namun tetap terawat dengan baik, karena cinta sang pemilik pada ilmu yang dikandungnya
Tibalah suatu kala, sang pemilik jatuh sakit, dan dalam lemahnya ia berbaring, ia teringat akan seseorang
Maka ia titipkan buku itu untuk menemukan tempatnya yang baru
Bersama seorang pembelajar yang harapannya dapat memetik hikmah dan memberikan manfaat dari ilmunya

Cerita itu,
Sederhana dan indah,
Terimakasih, simbah.

March 26, 2017

Sepucuk surat untuk mereka


Alhamdulillah
Mungkin hanya syukur tiada terperi yang bisa saya sampaikan atas kesempatan luar biasa yang hadir pada saya. Akhir pekan ini saya dipertemukan dengan sosok-sosok kecil yang menggetarkan hati, siswi-siswi kelas 6 SDIT Al-Khaairaat.

Sungguh dari awal saya cukup terbebani sebenarnya, setelah sekian lama tidak pernah... Pun persiapan saya dan teman-teman sangat minim, segalanya direncanakan kurang dari 24 jam sebelumnya! Maka salut buat rekan-rekan saya di lapangan, Irfani, Swasti dan Farida yang mampu memberikan yang terbaik saat itu. Walaupun setelahnya, kami berempat sepakat, apalah kami dibanding mereka, karena sesungguhnya kamilah yang banyak memetik pelajaran berharga hari itu.

Mereka anak-anak, yang masih senang bermain dan sedang khawatir menghadapi ujian yang sebentar lagi datang. Tapi lebih dari itu, mereka menyimpan kedalaman iman yang terpancar dalam akhlaq mereka, pun dalam cita-cita yang mereka tuliskan dalam secarik kertas. Dokter, penulis, pengusaha, arsitek, itu cita-cita biasa. Memberangkatkan haji umi, berkuliah di Kairo, menjadi hafidzoh, membangun rumah di surga, dan setinggi-tinggi impian lainnya berani mereka tuliskan. Hal-hal, impian-impian yang bahkan belum pernah terpikirkan oleh saya.

Maka di penghujung pertemuan kami, saya titipkan sepucuk surat untuk mereka, yang dibuat dengan sangat sederhana

Assalamu'alaykum wr. wb
Hari ini saya terjaga semenjak dini hari
Rasanya tak bisa tidur menanti pagi datang

Satu dekade umur kita terpaut
Saya tak bisa berhenti bertanya-tanya, seperti apa wajah-wajah kalian

Ketika pagi akhirnya datang
Saya terlalu takut membuka mata
Terlalu enggan bangkit dari kasur
Terlalu ragu untuk berjalan kemari

Benar firasat saya,
Pagi ini saya tertampar oleh semangat kalian
Rasanya, lebih banyak hal yang kalian ajarkan pada saya dibanding apa yang bisa saya berikan pada kalian

Haru rasanya, mendengar lantunan Al-Qur'an dari ruangan ini
Haru rasanya, membaca uraian cita-cita yang kalian tuliskan
Haru rasanya, mendengarkan yel kelas kalian yang begitu indah dan bermakna

Haru rasanya, melihat kebersamaan kalian yang saling bercengkrama, bermain dengan lepasnya
Haru rasanya, menyimak pesan-pesan yang kalian sampaikan satu sama lain, terselip dalam kado kecil yang kalian siapkan

Saya harap teman-teman bersyukur
Karena sungguh saya tak pernah seberuntung teman-teman
Punya ustadzah yang begitu sabar
Punya lingkungan yang begitu suportif saling mengingatkan dalam kebaikan

Coba sekarang kita renungkan apakah sudah cukup syukur kita panjatkan ke hadiratNya
Dan renungkan sudah amanahkah kita dalam melaksanakan tugas kita di dunia untuk beribadah kepadaNya
Kalau belum, marilah kita berjanji pada diri sendiri untuk berusaha lebih baik daripada yang terbaik yang bisa kita berikan untuk mencapai cita-cita yang tadi sudah kita tuliskan dalam lembaran-lembaran kertas kecil
Dan marilah kita berjanji untuk saling mengingatkan teman-teman yang ada di ruangan ini, yang ada di kanan-kiri kita, untuk bersama mencapai cita-cita dan tidak membiarkannya menjadi angan belaka

Karena sukses sendiri itu nikmat, tapi sukses bersama itu jauh lebih nikmat dan lebih indah


ditulis dengan sepenuh cinta
untuk generasi yang insyaAllah akan jadi lebih baik dari saya
para calon muslimah arsitek peradaban
tertanda, Ipeh


Terimakasih, sudah menyalakan api, mengobarkan semangat dan membulatkan tekad



March 25, 2017

Cerita Pagi

Kemarin ada yang bilang sama saya, sombongnya generasi muda harus dimaklumi, selama kesombongan itu membawa inspirasi untuk orang-orang di sekitarnya. Seketika saya berharap memiliki sesuatu yang bisa disombongkan ke orang-orang, walaupun tidak sepenuhnya siap dengan konsekuensinya.

Pagi ini, saya berangkat berkejaran dengan waktu karena sudah buat janji mau mampir ke sekolah sekitar jam 7. Belum genap 1 km dari rumah, si revo mulai batuk-batuk dan ngga berapa lama, dia menyerah ngga mau digas lagi, berenti di tengah pertigaan. Yeah, bensinnya habis karena sore sebelumnya saya mager ngantri isi bensin. Ketawa dulu, rasanya mending ninggalin revo aja terus jalan kaki daripada harus dorong-dorong dia sambil sentrap-sentrup dan batuk-batuk karena flu.
Alhasil, dengan bawaan ransel penuh sambil nenteng tas laptop, saya dorong si revo, siap dorong sampai pom bensin sagan kalau memang perlu, dari belakang bulaksumur residence. Alhamdulillah, ngga seberapa jauh ada simbah-simbah jualan bensin di pinggir jalan (nyadar karena dikasih tau sama bapak-bapak baik).

Beres tuh urusan bahan bakar, eh ada mbak-mbak nyamperin saya, nanya lokasi saat itu lagi di mana. Setelah saya tanya, ternyata lagi mau ke wisma kagama, cuma ngga tau jalan. Daripada rempong jelasinnya dan mbak nya tersesat juga pada akhirnya, saya ajak aja bareng toh sekalian saya ke Kotabaru bisa lewatin wisma kagama.

Kamu percaya kebetulan, kesialan dan keberuntungan?
Lucu ya, perhitungan waktunya pas sekali. Coba sisa bensin di motor saya kelebihan 0,1 liter aja, motor saya ngga berenti di lokasi itu, saya ngga harus dorong motor sejauh itu, ngga akan ada di depan tempat jual bensin eceran di waktu itu, mungkin saya ngga akan bertemu sama si mbak-mbak yang sedang kebingungan nyari tempat itu. Bahkan, coba kalau saya sore sebelumnya sempat isi bensin dan paginya melenggang dengan tenang sampai sekolah tanpa ada macet-macet segala, pasti ngga bakal saya susah-susah dorong motor, tapi ngga bakal pula saya dapat kesempatan kecil membantu orang lain.

Maka pagi ini saya dibuat merasakan indahnya menyingkap selapis keberkahan dalam sebuah skenario yang sangat sederhana. Selapis keberkahan yang menguji sabar dan usaha manusia ingusan.
Dan malam ini saya ingin menantang kamu-kamu yang entah mengapa membaca tulisan ini sampai akhir, untuk sedikit menyombong dan menginspirasi orang lain (kalau mau aja sih). Dan kalau esok pagi suatu ‘kesialan’ menimpa kamu, itu udah resiko sih kalo kamu udah siap dan setuju jalanin tantangan saya.

Dari saya yang ingin membuktikan bahwa nyelo di bawah atap sekre KMFT tetap bisa produktif bermanfaat,
Selamat malam
tertanggal 1 Maret 2017

March 24, 2017

Menyajak



Diam itu baik tapi mendiamkan itu tidak
Pikir itu baik tapi diam dalam pikir tidak

Keheningan adalah kawan terbaik tapi kesepian lebih tepat menjadi musuh
Tak seperti tanya dan takut yang bisa menjadi kawan maupun musuh

Aku dan kamu adalah misteri seperti layaknya waktu yang belum terlewati
Tapi mungkinkah aku dan kamu pantas diperjuangkan sampai selepas mati?

Andai aku dan kamu saling tahu
dari sepenggal jurnal harian
di sebuah 
pada yang tak bertanggal
dengan sedikit perubahan

Ground Zero




Selamat bertahun baru!
Malam pergantian tahun ini, takdir membawa saya kembali ke titik nol kehidupan seorang saya yang di aktanya ditulis lahir di Jakarta padahal nyatanya berada di sudut Tangerang Selatan. Yang sayanya juga dibilang orang Jakarta juga engga karena mampir lahir doang di sini terus seumur hidup tinggal di area perbatasan Sleman-Kota Jogja yang bahkan baru ini saya tinggalkan selama 2 minggu dan akan lebih.
Epic
Maka lebih dari sekadar mempertanyakan hikmah apa yang bisa saya ambil dari dinamika tahun 2016 yang penuh dengan hal-hal yang terlalu menarik untuk dibahas, malam ini saya mempertanyakan apa yang telah saya lakukan selama 21 tahun hidup saya di dunia. Berfaedahkah hidup saya? Bermanfaatkah? Atau sesungguhnya 21 tahun itu merupakan tahun-tahun yang sia-sia dan menimbulkan kerusakan?
Dan lebih dari sekadar pertanyaan apa yang mau saya lakukan di tahun 2017, maka lebih tepat saya mempertanyakan apa sih yang akan saya lakukan di sisa waktu hidup saya? Manfaat apa yang bisa saya berikan di tahun-tahun mendatang?
Selamat malam,Selamat bermuhasabah di antara riuhnya suara petasan
dari medium.com
tertanggal 31 Desember 2016


March 23, 2017

Cerita Rantau #1

Cerita Rantau #1

Dear Jakarta,
After the first two decades in my life,I come back to youTo stayAnd this time, It’s going to be a long stayAnd an adventurous oneSo yeah, here I am!
Tiga hari pertama dalam perantauanSetelah perjalanan yang tidak panjang tapi menyiksa karena bawaan yang terlampau berlebihan
Jadi, how’s Jakarta?Belum lama saya membabat setengah isi bukunya Ridwan Kamil, Mengubah Dunia Bareng-Bareng. Let’s say, I get to see what he’s talking about in his book. Pagi itu saya sampai di Stasiun Jatinegara sekitar pukul 4 pagi. Berjalan keluar stasiun menenteng dua koper besar berisikan bekal selama perantauan. Tidak mengenal siapa-siapa dan hanya tau mau ke mana berkat share location via Google Maps. Taxi drivers and ojek riders are offering their service in front of the exit. Not to mention the bajaj and angkot that lines up honking at each other on the street. Well, I simply said to myself, welcome to the semi-urbanized megapolitan Jakarta.
Kecuali di jalan depan stasiun yang dipadati kendaraan, jalanan dari stasiun ke kos saya di kawasan Tebet terbilang lengang. Jakarta pukul 4 pagi, hanya angkot-angkot yang berseliweran dan pedagang-pedagang sayur keliling yang bersiap untuk berdagang yang meramaikan suasana. Entah 1–2 jam kemudian, lengang itu berubah menjadi padat.
Maka marilah saya ceritakan keseharian saya di perantauan. Baru tiga hari sih, jadi subuh jalan-jalan… sensing the place, pagi berangkat ke kantor… kedinginan kesentor AC, siang hari cari makan siang… kepanasan jalan kaki, balik kerja setelah kenyang… bolak-balik kamar mandi kedinginan, malam hari sesampainya di kosan… kembali tidur di bawah AC, pun malam ini saya main ke Grand Indonesia… terpapar polusi di jalan, , dan pulang mencicipi sedikit padat dan semrawutnya lalu lintas Jakarta.
Ehm, jadi? Jadi ya jadi, loh, engga.
Jadi… saya jadi merefleksikan kembali apa yang ditulis Kang Emil di bukunya. Tentang kota, tentang ruang publik, tentang individualisme, tentang arsitektur yang tidak mempertimbangkan konteks, tentang Jakarta. Kemudian saya teringat kata Pak Doddy dalam kuliah ekonomi kota beliau, yang membicarakan tentang semi-urbanism, tentang perilaku warga kota yang kampungan, tentang ketidakteraturan dan ketidakpedulian akan aturan kota, tentang aglomerasi dan tentang transportasi. Kemudian lagi saya jadi teringat akan Urban Citizenship Academy, tentang rasa kewargaan, tentang rasa kepemilikan dan tentang gerakan pemuda dalam menyikapi urban issues.
Tiga hari pertama ini saya menikmati proses sensing the place.Tiga hari pertama ini saya senang melihat skyscrapers, mengeluhkan fasilitas pejalan kaki yang inkonsisten dan wagu, mencicipi padat dan semrawutnya lalu lintas, mencoba mencari tempat makan yang sehat dan affordable, berdebat dengan diri sendiri antara idealita dan realita, dan melihat inilah Jakarta.
Maka masih ada hari-hari lainnya, untuk merasakan, menyaksikan, memikirkan dan mengasyikkanJuga masih ada hari-hari berikutnya untuk menjelajahInilah awal mula dari perantauan yang memunculkan ceritaAntara saya dan kota kelahiran saya
Aku padamu, Jakarta
dari medium.com
tertanggal 21 Desember 2016

March 22, 2017

Tentang Kebiasaan dan Aturan

Kemarin ada kuliah tamu, Perencanaan Transportasi.
Ceritanya, prodi lagi seneng-senengnya ngadain kuliah tamu di PWK. Dan sore itu giliran kami kena jatah ikutan kuliah tamu di sore hari yang kehadirannya dihitung di presensi. Dengan niat memenuhi presensi kuliah, aku masuk.
Kita ngomongin tentang manajemen transportasi umum di Kota Yogyakarta, lebih tepatnya moda Trans Jogja, dari sudut pandang Dinas Perhubungan (iya, pembicaranya adalah staff DisHub yang ngurusin Trans Jogja, lulusan FISIPOL UGM, omongannya tentang kebijakan). Singkat cerita, bahasan sampai pada alasan kenapa yang dipilih DisHub adalah model transportasi umum BRT-lite, bukannya BRT yang konon katanya lebih ideal.
Now we go to the main topic. Ngebahas jalanan di Yogyakarta yang pertumbuhannya sangat sedikit sementara kendaraan yang ngelewatinnya semakin banyak, beliau tiba-tiba nanya (iya tiba-tiba, karena omongan sebelumnya ngga aku perhatiin -_-), emang ada ya orang yang berani nyeberang Ring Road? Karena beliau ngga berani. And to that question I spontaneously answered that I did have the courage to do so, and truth be told, I frequently did, and it’s not a big deal for me. Dan di situlah aku sadar, kebiasaan, idealita dan aturan itu sangat bergantung pada pandangan individu.
Karena kita lagi bahas ‘aku’ di sini, maka biarlah ‘aku’ menjadi contoh kasusnya.
So here’s the thing. I’ve lived in Sawitsari for more than 15 years. Dan Sawitsari ada di sebelah utaranya Ring Road utara, di tengah-tengah antara Jalan Kaliurang dan Jalan Gejayan (Jalan Affandi). Salah satu akses utama untuk masuk ke perumahan ini lewatnya ya Ring Road utara. Now, sebagai orang Sleman pinggiran yang memenuhi berbagai kebutuhannya di perkotaan Yogyakarta yang notabene ada di dalam kungkungan Ring Road, ngga bisa engga, nyaris setiap hari aku harus nyeberangin Ring Road, entah itu jalan, nyepeda, naik motor, atau naik mobil, untuk mengakses kebutuhan itu.
Have you got my reasons? Nah, sekarang masuk ke kebiasaan seberang-menyeberang. Aku nyeberang kalau kenapa sih?
1. Kalau jalan pagi
2. Kalau naik Trans Jogja dan berenti di Halte Manggung karena mager jalan jauh
3. Kalau naik bus Kopata jalur 7 yang berentinya di tengah ring road
4. Kalau bawa sepeda, lagi pengen/butuh lewat daerah deresan dan mager muter kaya kalo pas bawa kendaraan bermotor
And to my judgement, it’s not entirely my fault that I have to cross the Ring Road. Dan karena sudah terbiasa, menurutku itu engga salah. Sampai kemarin.
And why’s that? Ini adalah pertanyaan, keraguan dan jawaban yang menjadi pembenaran, well not really, yang menjadi konflik batin mungkin. Just a run of thoughts.
Emang ada aturannya ya ga boleh nyeberang Ring Road? Well, as far as I know, not specifically. Tapi toh kelas jalan arteri memang harusnya ngga diseberangin sembarangan, mengingat jalan itu memang didesain untuk kecepatan tinggi, perjalanan antar kota antar provinsi.
Kenapa ngga nyeberang di tempat seharusnya? Well, kalau yang kita artikan tempat seharusnya adalah jembatan penyeberangan, zebra cross atau yang lain, yang ada hanyalah zebra cross terdekat yang letaknya, bisa 500 meter dari tempat aku pengen nyeberang. Dan sebagai orang yang menghayati ke-Indonesiaan-nya, yang punya standar berjalan kaki 200 m atau maksimal 500 m, kalau disuruh muter jalan 1 km cuma buat nyeberang, sementara tujuan awalnya adalah mempersingkat perjalanan, aku males.
Ngga takut apa? Frankly speaking, bukan takut sih, lebih ke apa ya, khawatir? Karena lewat di tengah Ring Road ketika mobil-mobil melaju >60 km/jam itu, kaya diayun-ayun. Tapi karena terbiasa, rasanya sih asal hati-hati pasti selamat.
Terus diajarin siapa sih kaya gitu? Orang tua? Yup, dulu kalau nyeberang ring road biasanya kalau pagi-pagi, jalan-jalan, dan memang sepi. Dan tahun-tahun ketika aku masih digandeng untuk menyeberang jalan adalah tahun-tahun ketika lalu lintas Yogyakarta jauh-jauh lebih lempeng daripada saat ini. Selanjut-selanjutnya, jadi terbiasa, dan karena ‘terpaksa’ oleh keadaan.
That’s that. Makin ke sini pembenarannya semakin lemah ya? Iya…
Kemarin temen aku terus ada yang nanya sama aku, kalau misal ada kendaraan yang nabrak orang nyeberang di Ring Road gitu, yang disalahin siapa? I guess, pasti orangnya yang nyeberang sih, harusnya, tapi toh kalo kaya gitu bisa jadi yang dianggap bertanggung jawab adalah yang bawa kendaraan. Gini sih, aturan sebenarnya dibuat untuk melindungi kepentingan semua orang. Dan setelah dipikir-pikir, it’s me that has done wrong.
Tapi terkadang, kita harus melihat kenyataannya. Aku baru mengambil contoh sederhana, yang notabene terjadi pada diri sendiri, dan alasan-alasan pembenaran akan tindakannya sangat lemah. Tapi bayangin orang-orang lain, petani mungkin, atau tukang rawat kebun, yang lokasi rumah dan ladang kerjanya dipisahkan jalan arteri, yang mau ngga mau memang dia harus menyeberangi itu, tanpa asuransi, dan tanpa ada yang mau mengakomodasi kepentingan menyeberang itu karena demand nya sedikit, ngga penting dan ngga mbathi.
Jadi idealita ngga melulu sejalan sama aturan. Dan kebiasaan sangat bisa menjadi judgement pembenaran atas pelanggaran sebuah aturan. Dan aturan cuma aturan kalau ngga dilakukan. Dan aturan adalah kebenaran yang dipaksakan oleh orang-orang yang memiliki kuasa untuk melegalkan kebenaran itu.
Engga, ngga gini juga sih. Tapi gitu.
Lastly, ini cuma penyadaran, cuma otokritik, cuma sharing kegelisahan. Ngga sepenuhnya benar karena ngga menyampaikan kebenaran. Feel free to correct me if I’m wrong, or comment if you have something to share about the topic.
fin
bye
-FNLS-
ditulis di tutorial Perencanaan Transportasi, karena sedang malas memperhatikan, dan butuh pelarian untuk menyalurkan kegelisahan
dari medium.com
tertanggal 2 November 2016

March 20, 2017

Woro-woro

Selamat siang semua,

Saya harus mengakui bahwa dalam waktu beberapa bulan (atau tahun) belakangan, semakin tidak memperhatikan kondisi blog saya yang satu ini. Ibarat rumah kalau ditinggalkan, maka ia menjadi kotor, berdebu, dan terdegradasi kondisinya secara umum. Siang ini, saya kembali menengok kondisi rumah tulisan-tulisan saya dari kala muda ini. Setelah melalui pertimbangan yang sangat singkat, saya memutuskan untuk meninggalkan hunian sementara tulisan-tulisan saya di medium, dan akan mulai mencoba menghidupkan rumah ini kembali.
Sebagai langkah awal, saya akan membersihkan sisa-sisa tulisan yang sudah menyampah, memindahkan beberapa tulisan dari medium, dan setelahnya akan menghiasi rumah ini dengan hal-hal yang tentunya baru dan segar.

Doakan saja saya bisa istiqomah.

Salam,
Fadhila Nur Latifah Sani