Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

October 6, 2018

What's the Purpose of Your Life?

Akhir-akhir ini saya sering gamang akibat persoalan hidup. Mungkin orang akan bilang inilah yang dinamakan quarter life crisis. Masa di mana seseorang dihadapkan pada pilihan-pilihan kehidupan yang belum pernah dia ambil sebelumnya, dan akan menentukan ke arah mana bahtera hidupnya akan melaju.  

Waktu itu ada seorang kawan yang pernah bertanya-tanya tentang kehidupan, di masa-masa ketika saya sedang mencari makna kehidupan. Jawaban-jawabannya bisa dilihat di sini, berikut juga jawaban dari berbagai kawan (yang rasanya kok lebih keren ya! padahal sebetulnya bebas aja sih mau mendefinisikan kehidupan seperti apa ahaha). Setelah dibaca kembali bertahun kemudian, sepertinya saya kok hidup untuk diri sendiri? 
Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah
Al-Qur’an 3:110
Nah, setelah saya menggali-gali lebih dalam sedikit, saya ketemu dengan satu ayat ini dengan tidak sengaja (di sebuah form online evaluasi wajib bulanan sebuah beasiswa, nahlo). Rupa-rupanya, saya yang ngga keren ini adalah bagian dari umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Syaratnya mudah kok, menyuruh ke yang makruf (yang baik), mencegah dari yang mungkar (yang buruk), dan beriman kepada Allah. Cukup sampai situ dulu.

Di suatu waktu, saya pernah diskusi dengan seorang kenalan, salah satu mahasiswa di University of Queensland yang sempat datang ke Yogyakarta untuk mengikuti kegiatan Joint Studio antara UGM dengan UQ. Kebetulanlah maka kami bertemu di acara tersebut. Beliau ini muslim dan aslinya dari suatu negara di Afrika yang sayangnya saya juga lupa apa namanya karena susah… bentar Google dulu. Mungkin antara Sierra Leone atau Burkina Faso, maaf saya lupa betul. Tapi poinnya ngga di situ. 

Di malam terakhir kami mengadakan farewell dinner, kami berdua tiba-tiba asyik mendiskusikan takdir, daripada melongo di pinggir meja. Kebetulan sekali, waktu-waktu belakangan, saya dipertemukan Allah dengan banyak sekali orang. Dan sesungguhnya mereka memberikan kesan yang cukup mendalam pada kehidupan. 

Lucunya, sebetulnya kita tidak akan pernah tahu kapan dan dengan siapa kita akan beririsan takdir. Siapa yang akan kita temui, dengan alasan apa kita bertemu, apa yang akan kita dapatkan dari pertemuan tersebut. Kita ngga bisa dengan sendirinya menentukan, karena sebetulnya pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari takdir, walaupun takdir bisa diperjuangkan. Namun, selayaknya takdir, semuanya adalah misteri, namun di dalam misteri itulah terletak keindahannya. 

Maka kemudian berkaitanlah bahasan pertemuan dan perpisahan ini dengan ayat yang saya kutip di atas. Pernahkah bertanya pada diri sendiri, apa akibat dari pertemuan kita dengan orang lain? Apakah kita bisa memberikan kebaikan kepada orang yang kita temui, ataukah kita justru menyebabkan kerusakan? Sudahkah kita berusaha untuk mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dalam singkatnya waktu pertemuan kita?

Pada akhirnya ini menimbulkan segenap tanya bagi diri saya sendiri.

Salam


June 25, 2018

Ada Jutaan Solusi untuk Jutaan Masalah di Dunia - Lagi-Lagi Sebuah Refleksi, Kali Ini Pasca UNLEASH 2018

Sudah lebih satu bulan berlalu, orang-orang yang sempat beririsan jalan dengan saya sudah kembali bertebaran di muka bumi, berlomba-lomba memberikan manfaat untuk sesama. Saya? Habis libur lebaran sih…

SDG 11 team, those who work on the Sustainable Cities and Communities, on the last day of the innovation process,
at The Arc, NTU. Credit to the UNLEASH team.

Adalah sebuah innovation lab yang sangat inovatif (menurut saya), UNLEASH 2018. Diadakan pada tanggal 31 Mei-7 Juni 2018, acara ini berhasil mengumpulkan 1000 orang talents dari seluruh dunia! Masing-masing talents merupakan bagian terpenting dan paling unik dari acara ini, di mana semua orang memiliki latar belakang yang berbeda, membawa suatu masalah dari berbagai penjuru dunia tapi sama-sama memiliki tekad untuk berbuat sesuatu sebagai jawaban atas masalah-masalah yang ada. Semuanya menjawab tantangan untuk sebuah akselerasi positif dalam mewujudkan target Sustainable Development Goals 2030.
On no soul does God place a burden greater than it can bear” 
Al-Qur’an, 2:286
Kenapa gitu ngutip ayat di atas? Jujur, karena dibalik segala keseruan yang luar biasa, ‘beban’nya juga seberat itu. 

Saat survei di HDB, serahkan kerjaan wawancara ke orang-orang lokal, kan?
Credit to Torben
Beban berat yang pertama, super tight and intensive schedule. Tujuh hari penuh. Setiap harinya aktivitas resmi dimulai pukul 08.00, tapi kami harus berangkat dari penginapan di NUS ke ruangan workshop di NTU pada pukul 07.30 waktu Singapura (yang jam 8 nya berasa jam 7). Sementara jadwal pulang kembali ke penginapan pukul 18.00, dan setelah makan malam, masing-masing kelompok sangat memungkinkan untuk melanjutkan pekerjaannya, yang biasanya memakan waktu sampai pukul 21.00 ke atas. Beruntungnya, di beberapa hari para talents diberikan waktu setengah hari atau di sore hari untuk melakukan cultural activities dan kunjungan ke luar. Kalaupun sedang kurang beruntung, fasilitator memberikan segenap kemampuan mereka untuk membuat rangkaian innovation lab ini menyenangkan dengan berbagai kegiatan selingan di dalam ruangan.

Marketplace, ketika ide yang sudah digodhog
kami pamerkan
Beban berat yang kedua, problem framing, ideation, prototyping, testing and pitching ideas, that had to be done in a very short period of time. Dalam rangka membantu kami self-facilitating dalam proses pematangan inovasinya, mereka menerapkan sebuah framework yang isinya berupa tahapan-tahapan di atas yang seharusnya diakhiri dengan implementation. Namun, karena keterbatasan waktu kegiatan, proses kami diakhiri dengan pitching ideas, dan perkara implementasi diserahkan ke masing-masing kelompok. Setiap tahapnya, kami disediakan tools yang bisa kami pergunakan untuk mencapai targetan yang ditentukan, dengan bantuan fasilitator dan juga beberapa ahli di berbagai bidang. Sementara untuk bisa melanjutkan ke tahapan selanjutnya, kami harus melewati ‘gate’, semacam tes dengan fasilitator untuk mengecek kelengkapan target dan progres kelompok. 

Di akhir acara, kami dituntut untuk bisa mempresentasikan inovasi yang kami hasilkan. Rancangan program/prototype produk ini dipresentasikan dalam sebuah pitch di hadapan rekan-rekan yang bekerja dalam satu gol SDGs yang sama, serta dipamerkan di sebuah marketplace yang ketika itu bekerja sama dengan Temasek Ecosperity Expo. Dalam kedua kesempatan ini, kami mendapatkan feedback yang menarik dari para ahli, serta mendapat kesempatan untuk bertukar ide dengan talents lain, bahkan bertemu dengan investor yang kira-kira akan mendanai implementasi ide kami. 

HOLLOT Team! (wich actually stands for
Hands of Light, Legs of Thunder).
Credit to Torben
Beban berat yang ketiga, you had to do all that with a team that consists of people that you barely knew (at first). Namun, justru di sinilah serunya! Untuk mahasiswa yang bahkan belum punya gelar sarjana seperti saya, awalnya sempat ketar-ketir juga, karena banyak di antara talents yang lain adalah expert! Mereka yang sudah bergelar sarjana/master/doktor, sedang melanjutkan studi master/doktor, sudah bekerja di berbagai organisasi/perusahaan berkelas internasional, dan segala pencapaian lainnya yang saya saja baru sempat membayangkannya, dan kalau tidak disikapi dengan baik bikin minder hahaha. But hey, a friend of mine once said, ketika kamu jadi orang yang paling tidak tahu dalam suatu kelompok, justru di saat itulah kamu bisa jadi orang yang paling banyak belajar. Which is undeniably true, in my case. Rekan satu kelompok saya adalah seorang arsitek, seorang sosiologis, keduanya berasal dari Denmark, dan seorang mahasiswa akuntansi dari Singapura. Dari mereka, baik dari pribadi maupun dinamika kelompok yang terbentuk, saya banyak belajar. Utamanya tentang bagaimana berkomunikasi, berkolaborasi, mengapresiasi satu sama lain serta menghargai proses lebih daripada hasil.

Yang keempatnya, what is this girl from a developing country trying to do, solving a problem in a developed country? Ngga ada masalah sama sekali! Kelompok saya pada akhirnya bekerja menyelesaikan permasalahan peningkatan rasa kesendirian di antara para lansia di Singapura, utamanya mereka yang tinggal di apartemen HDB. Terlepas dari justifikasi negara maju atau berkembang, pada dasarnya kita tidak bisa memaksakan sebuah solusi yang berhasil di suatu tempat pada konteks tempat yang mau kita intervensi bukan? Maka dari itu, ini justru jadi kesempatan yang luar biasa untuk mendapatkan insights tentang beragam persoalan yang terjadi di dunia. Teman-teman yang sama-sama bekerja untuk mewujudkan gol Sustainable Cities and Communities saja, ada yang memilih mengangkat isu kurangnya kesempatan pengungsi untuk berwirausaha, ada yang mengangkat isu buruh migran, dan lain sebagainya. Pendekatan yang dilakukan untuk masing-masing masalah juga bisa sangat beragam, ada yang memutuskan membuat platform yang mempertemukan pihak-pihak yang berkepentingan, ada yang mengembangkan produk tertentu, hingga yang seperti dilakukan kelompok saya, membuat satu desain sosial dan fisik. Semuanya diperbolehkan, tidak ada yang memberikan batasan selama solusi itu adalah suatu hal yang feasible untuk dilakukan. Maka dari itu di awal pembentukan kelompok fasilitator berusaha memastikan bahwa orang-orang yang berada di satu kelompok berasal dari latar belakang yang heterogen.  

Terakhir, we carry the world upon our shoulders. Tega sekali mereka yang mengubah lirik lagu 'Hey Jude' menjadi UNLEASH anthem ini. Dengan banyaknya masalah di dunia ini, how could we solve all that? Bahkan mencapai target SDGs saja susah lho! Tapi mereka tetap mengumpulkan kami untuk saling bertukar gagasan dan memperluas jejaring (baik dengan sesama maupun dengan para ahli dan investor). Lalu, mereka mendatangkan sosok-sosok yang sudah berkontribusi dalam pencapaian SDGs dan menyelesaikan berbagai macam masalah di skala lokal maupun internasional. Kemudian mengajak kami menjalani serangkaian proses yang luar biasa yang membuat kami menjadi bagian dari solusi, mulai dari melakukan hal-hal yang paling sederhana, hingga akhirnya energi positif yang kami dapat di UNLEASH ini akan tersebar luas ke berbagai belahan dunia tempat kami berasal. Because the SDGs is ours to take action on, and there should be no one left behind. For the millions of problems the world face today, we could find millions of solutions that will make it a better place for us to live. 

Pada akhirnya, semua ‘burdens’ ini adalah blessing in disguse. Waktunya meninggalkan pesimisme yang terbangun selama ini dan menyambut energi positif untuk melakukan sesuatu. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya, bukan? At least, ini sudah dibuktikan oleh rekan-rekan talents UNLEASH yang menghasilkan paling tidak ratusan ide selama berproses bersama di sini. Ide-ide yang disampaikan bisa jadi sangat sederhana untuk satu masalah yang pun sederhana, tapi yang penting, berdampak. 

With some of the UNLEASH Indonesian talents. Tunggu kabar-kabar baik dari kami-kami ini ya! Haha
Whoops, mohon maaf saya ngga bisa menyampaikan cerita ini dengan lebih baik lagi. Sungguh sebetulnya ada banyak sekali hal yang saya dapatkan dari pengalaman UNLEASH ini secara pribadi, pun rangkaian kegiatannya tidak sepenuhnya saya jabarkan di sini. Buat yang masih kepo, silakan kontak saya hehehe. Fyi, tahun depan (kemungkinan besar) akan ada UNLEASH 2019, buat yang tertarik untuk daftar, do prepare yourself. If there’s anything that I might be able to help, just tell me. For whatever reason you might want to join this program, my best advice is, just give it a shot. 

May 15, 2018

Para Pemberontak yang Romantis — Sebuah Renungan Pasca Workshop Low Carbon Ecodistrict

Sesi diskusi yang setiap harinya bisa 
berlangsung 8-12 jam!
Di tahun terakhir saya kuliah, kembali saya diingatkan bagaimana perjuangan menjadi mahasiswa baru di program studi Perencanaan Wilayah dan Kota. Masa-masa studio kawasan yang berjalan 3–6 bulan itu kira-kira saya alami kembali dalam kurun waktu 2 pekan ke belakang, tentu saja dengan tantangan yang sungguh berbeda. (Pada akhirnya ini menjadi pengalaman yang menampar manis: Sudah siap jadi Urban Planner?)

Siapa bilang jadi mahasiswa tingkat akhir lalu kamu akan dengan mudah menyelesaikan tugas perencanaan kawasan yang notabene sudah khatam kamu lakukan di tahun pertamamu kuliah? Big no. Sebagai anak PWK yang kurang pede dalam merencanakan skala kawasan karena otaknya ngga kreatif-kreatif amat, kegiatan Intensive Contest and International Workshop, Re-think the City for a Low Carbon Ecodistrict ini menjadi satu pengalaman yang sangat berharga.

Segalanya sudah dipersiapkan dengan baik oleh panitia kegiatan dari Kementerian PU, Ademe dan French Embassy di Indonesia. Kegiatan workshop ini adalah bagian dari satu usaha panjang membuat satu proyek percontohan low carbon ecodistrict di dua tempat, yakni di Kampung Gampingan, Yogyakarta dan Kampung Sruni, Wonosobo. Sebagai peserta saya sangat dimanja. Bukan tentang akomodasi dan konsumsi yang selalu tersedia bahkan tumpah ruah. Namun, tentang analisis kawasan yang sudah dilakukan sebelumnya. Di awal workshop kami sudah memegang satu dokumen term of reference berisi gambaran wilayah perencanaan dari tingkat kota hingga kampung, analisis kondisi keruangan dan non-keruangan, paparan harapan warga kampung, hingga arahan program yang akan dilakukan dan pilihan sistem infrastruktur yang bisa digunakan untuk mendukung konsep low carbon
Presentasi di hadapan warga kampung

Berarti seharusnya peserta sudah tinggal membuat perencanaan dan desain saja dong? Yah, pada dasarnya mungkin informasi awal itu sudah sangat cukup dan kami hanya perlu mengkonfirmasi beberapa hal kepada warga dan mengecek kondisi di lapangan secara langsung. Namun, alih-alih berpegang teguh pada dokumen TOR tersebut, kami — utamanya kelompok saya — bersepakat untuk menjadi sepasukan pemberontak. 

Mudah saja, semua orang memiliki cara pandangnya masing-masing. Satu kelompok terdiri dari orang-orang yang sangat heterogen (latar belakangnya sungguh berbeda, baik dari segi bangsa, bahasa, budaya, hingga keilmuan). Bagaimana kami kemudian mengklasifikasikan suatu kondisi sebagai masalah maupun potensi, mengkomunikasikan ide, dan menilai mana yang adil maupun tidak sebagai suatu solusi adalah satu tantangan tersendiri. Kalau kita sibuk mencari perbedaannya, lah rasanya kok tidak akan selesai ya.

Menikmati kampung di tengah keterbatasan ruang
Di antara pemberontakan kami yang paling membuat pusing panitia hingga kami berdebat lama bahkan dalam forum diskusi di hadapan para warga adalah tentang aturan sempadan sungai yang mengharuskan kami memberikan ruang kepada sungai dalam besaran tertentu. Hingga akhirnya kami tetap bisa keukeuh mempertahankan prinsip awal desain kawasan kami dan mencoba untuk mengakomodasi persyaratan dalam peraturan tersebut.

Yah begitulah, dinamikanya terlalu menarik. Sebagai tim yang terdiri dari urban planner, urban designer, landscape architect, sustainable architect dan architect, serta memiliki supervisor yang architect, urban designer, urbanist dan historian, kami dituntut untuk menjadi profesional yang harus bisa menemukan permintaan dari dua klien yakni warga dan pemerintah, menggabungkan proses perencanaan top down dan bottom up, menghasilkan satu produk rencana di skala urban, district dan building. Menakjubkannya, sebenarnya proses yang menyita hati dan pikiran ini menjadi salah satu bentuk perwujudan angan saya tentang studio yang ideal seharusnya. 

Kehidupan di tengah ruang publik
Lalu, di akhir program ini saya termenung. 

Studi kasus yang diangkat di Yogyakarta dan menjadi lokasi kajian kelompok saya sebenarnya adalah kawasan yang mau tidak mau kita kategorikan sebagai kumuh. Dengan kondisi bangunan semi permanen yang mayoritas tidak layak huni, talud yang sudah tergerus, tanah yang kepemilikannya dipertanyakan dan kawasan yang terancam banjir bandang sepuluh tahunan, belum lagi tumpukan sampah di pinggir sungai dan kondisi sanitasi yang tidak memadai, tapi ternyata kita masih bisa menemukan romantisme di gang-gangnya yang sempit, berliku dan berundak, di sela rumah-rumah yang dibangun sedikit-sedikit dan seadanya, dalam sebaris antrian kamar mandi dan celotehan warga yang berkumpul di sisa-sisa ruang yang tersedia. Suatu romantisme kehidupan kota yang hanya bisa kamu temukan di kampung.

Survei, dibantu anak-anak
Sebuah romantisme yang mendasari pemberontakan pada peraturan. Saya tidak menolak fakta bahwa merumahkan kembali orang-orang yang hidup dalam kondisi ini adalah satu tindakan yang menjadi kewajiban moral para urbanis. Serta bahwa dalam beberapa kasus, rumah yang tidak layak mungkin lebih baik tidak dipertahankan. Namun, alih-alih mengamini proses penggusuran dan relokasi yang menimbulkan lebih banyak konflik dibandingkan kepuasan warganya, kami memilih pendekatan yang sekiranya lebih halus, suatu proses urban renewal yang humanis. 

Mengkonsolidasi lahan, mempertahankan morfologi kampung, melakukan proses pembangunan bertahap, menjadi solusi yang mungkin ditawarkan untuk mewujudkan suatu kualitas kehidupan yang lebih baik dengan seminimal mungkin mengorbankan kehidupan warga dan ikatan sosial yang sudah terjalin erat di antara mereka. Kemarin kami berusaha membagi kawasan menjadi beberapa sekuens hingga mengatur proses pembangunan dan pemindahan untuk menjamin bahwa warga masih bisa menempati kampung mereka. Rumit sih memang, dan keberhasilannya sangat-sangat bergantung pada beragam kondisi sehingga tidak bisa disamakan di semua lokasi. Tapi ini membuktikan, ada seribu satu pilihan selain menggusur warga kampung dan menempatkan mereka di rumah susun.

Bagaimanapun, kegiatan ini memberikan sebuah harapan baru bagi saya, bahwa masih ada inisiatif-inisiatif baik yang mungkin dilakukan untuk menengahi keinginan mereka yang memberikan instruksi top down dengan keinginan yang muncul secara bottom up. Yang bahkan bisa dikemas dalam sebentuk pembelajaran bagi mahasiswa yang berada di persimpangan jalan.

Teruntuk para warga yang sudah mengejutkan saya dengan kerelaannya untuk munggah, mundur, madhep kali demi Kali Winongo. 

Pasca penutupan, bersama tokoh masyarakat
Kalau ada yang bertanya penerapan konsep Low Carbon Ecodistrict-nya di mana, hmmm, kita obrolkan di lain waktu. Sekarang waktunya saya kembali ke rutinitas.

February 16, 2018

Seri Pemuda: Refleksi atas Cerita-Cerita Wawancara - Urgensi Pemuda yang Utama

It’s never too late nor too early. It’s never too big and grande nor too small and simple. Just be sincere. Having a dream is not a mistake, however silly it may seem at first. 
— Fadhila Nur Latifah Sani

Selamat malam,

Tulisan ini dimulai ketika saat itu jadwal harian saya kembali jatuh pada rutinitas yang selalu dihadapi saat rekrutmen organisasi, yakni… wawancara. 

Saya masih ingat, dulu ketika awalnya memutuskan untuk menyemplungkan kaki di organisasi kampus, saya tidak menyukai seleksi wawancara. Kenapa? Karena saya tidak merasa nyaman membicarakan hal-hal personal dengan orang yang baru saya temui pertama kali, dalam forum yang intimate, dengan waktu yang panjang, di mana saya harus membuka diri dan mengungkapkan hal-hal yang menurut saya ketika itu, berada dalam lekuk-lekuk terdalam pikiran saya. Apresiasi terbaik saya berikan kepada orang yang berhasil menyelami lekukan pikiran saya, seberapapun absurdnya itu.
Siapa sangka, 2 tahun setelahnya, saya berada dalam posisi di mana saya harus menjadi interviewer, bukan lagi sebagai interviewee

Kemudian sekarang, sekian lama setelah tulisan ini pertama kali saya mulai, saya ingin merefleksikan kembali beberapa fenomena yang saya temukan dalam proses mewawancara itu. Walaupun begitu, pertama izinkan saya untuk mengakui bahwa, saya bukanlah seorang interviewer yang sepenuhnya paham ilmunya, pun bukan pula interviewee yang selalu berhasil lolos tahapan wawancara(bahkan lebih sering gagalnya). Tapi dari segala proses dan kegagalan itulah maka saya melanjutkan tulisan ini malam ini.

Tujuan dari wawancara organisasi yang saya lakukan tidak lain adalah untuk mengetahui siapakah si interviewee dilihat dari latar belakang, sikap dan komitmennya. Semuanya dirumuskan terlebih dahulu di awal, kemudian pewawancara hanya perlu untuk mengikuti sop yang sudah ditentukan sebelumnya. Terkadang saya juga suka menambahkan pertanyaan-pertanyaan iseng untuk mencari tahu lebih tentang kehidupan mereka, terutama tentang apa yang menjadi tujuan hidup seseorang, atau mudahnya mungkin kita sebut sebagai cita-cita. 

Hasilnya? Tidak sedikit saya temukan kawan-kawan saya ini yang nasibnya sama seperti saya ketika saya menghadapi situasi wawancara pada masanya. Bingung, atau mungkin lebih tepatnya tidak punya jawaban yang pasti. Sementara saya sok-sokan mau membuat rencana ruang hidup untuk kepentingan masyarakat, sendirinya tidak punya rencana hidup yang konkret. Ketika ditanya apa yang mau dilakukan, jawabannya mengambang, mengawang dan disampaikan dengan ketidakyakinan pada pernyataan yang dikeluarkan. 

Mulanya saya kira ini adalah suatu hal yang saya temukan hanya di lingkungan kampus saya saja. Tetapi ternyata, ketika berkesempatan berdiskusi dengan Ustadz @emfatan, kegamangan ini beliau temukan pada banyak sosok pemuda di berbagai tempat dan kesempatan. Maka izinkan saya sedikit membahas hasil diskusi dengan beliau dalam forum On Building Prime Youth #1: Urgensi Pemuda Utama yang saya ikuti dua pekan lalu.

Apa hubungannya? Kenapa kemudian mempermasalahkan hidup orang lain, toh mereka punya cara menjalani hidupnya masing-masing bukan? 

Tahan di situ. Bagi saya pribadi, semenjak membaca buku Tuhan, Inilah Proposal Hidupku yang ditulis oleh Jamil Azzaini, saya menginsafi urgensi untuk memiliki sebuah rencana hidup yang jelas dan terperinci. Beberapa argumen penguat pernyataan ini bisa coba dibaca di sini atau di sini. Tapi mudahnya begini. Bayangkan kota tempat tinggal kita, dengan segala kondisinya yang sekarang, nyamannya atau kacaunya. Kemudian bayangkan 20 tahun dari sekarang, seperti apa kota kita akan berubah? Lebih baik atau lebih buruk? Ketika kita tidak memiliki sebuah rencana/guideline/goal yang jelas untuk kota kita, maka ia akan berkembang terhimpit berbagai kepentingan. Terus mengikuti arus bisa membawa kota menuju berbagai pilihan kondisi, baik itu menjadi kota metropolis yang livable, kota pariwisata yang kekurangan infrastruktur, atau malah, kota yang mati. 

Hal ini sama terjadi dengan hidup kita. Pertanyaannya adalah, apakah kita mau merencanakan arah hidup dengan target kebaikan, ataukah membiarkannya terombang-ambing mengikuti arus kehidupan?

Ada satu cerita tertutur saat diskusi sore itu, tentang 4 orang anak muda yang nongkrongnya di samping Ka’bah, bagian dari generasi terbaik pada masanya (fyi, paling tidak ada 220 sahabat nabi yang masuk dalam kategori muda). Sebutlah ada Abdullah bin Zubair, Mus’ab bin Zubair, Urwah bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwah. Mereka ini bukannya lagi interview untuk rekruitmen organisasi manapun, tapi saling sharing tentang cita-cita yang ingin mereka capai selama hidup. 

Dua bersaudara Abdullah bin Zubair dan Mus’ab bin Zubair sama-sama ingin menaklukkan Hijaz, sebuah wilayah di bagian barat Arab Saudi yang waktu itu belum dikuasai Islam. Abdul Malik bin Marwah sementara itu lebih ingin untuk menjadi khalifah setelah Mu’awiyah bin Abu Sofyan. Terakhir, Urwah bin Zubair mengutarakan keinginannya untuk memiliki ilmu dan kepahaman terhadap dien/agamanya, sehingga dapat menyebarkan pesan-pesan kebaikan Islam. 

Dikisahkan kemudian, cita-cita yang awalnya bermula sebagai obrolan ringan di antara mereka berempat, akhirnya berhasil tercapai. Kok bisa? Yah bisa, namanya juga anak muda. Harusnya yang muda-muda begini nih, alih-alih mengamini perkataan orang yang menganggap biasa kenakalan remaja di era informatika sebagai hal yang lumrah dengan pembenaran, “Yah, anak muda jaman sekarang.” 

Pada dasarnya, masa muda itu adalah masa di mana kita bisa belajar bertanggungjawab, berada dalam fase kuat yakni usia paling utama di setiap hal (jasmani & rohani), dan alhamdulillah-nya usia ini adalah usia paling panjang dalam hidup. Di masa-masa inilah manusia lebih mudah menerima kebenaran, dan dengan segala kelebihannya tsb bisa memberikan kontribusi maksimal serta memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan. Makanya dulu golongan muda yang nyulik Soekarno-Hatta dan mendorong beliau berdua untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia.
Pada titik ini kemudian saya bertanya pada diri sendiri, kalau saya, cita-citanya apa? Sudah jadi bagian dari golongan pemuda yang utama belum?

Hingga akhirnya, rasanya kita semua punya PR besar. Peradaban-peradaban besar yang ada rupanya terbentuk karena kekuatan generasi mudanya (baik secara kualitas maupun kuantitas) yang menggebu-nggebu melakukan perubahan. Indonesia kita, punya kesempatan emas memanfaatkan puncak bonus demografi di tahun 2030. Tahun itu, kita akan memiliki lebih banyak penduduk usia produktif dibandingkan penduduk usia tidak produktif. 

Pertanyaannya lagi, di masa depan itu, Indonesia akan tinggal landas menjadi negara maju, atau tercebur kubangan lumpur ketertinggalan yang semakin parah? 

Sepertinya semua tergantung kita, para pemuda, mau jadi pemuda utama atau mau jadi pemuda penganut kenakalan remaja di era informatika.

Referensi:
  1. Kultwit @JANtraining tentang On Building Prime Youth #1: Urgensi Pemuda Utama https://chirpstory.com/li/381229
  1. https://www.abanaonline.com/2016/11/kisah-urwah-bin-zubair-yang-tabah-dalam-menerima-musibah.html

Disclaimer:
Ingatan saya pendek, catatan saya terbatas, bacaan dan kajian saya masih sangat dangkal, belum lagi nulisnya suka sembrono. Jadi, kalau ada fakta-fakta yang terbelokkan dengan tidak sengaja, atau pesan-pesan yang kurang pas, tolong saya dijawil, maturnuwun.


December 5, 2017

India’s Cities as Seen from My Window Seat — New Delhi, Chandigarh, Agra

This is more like a compilation of questions and wonders arose after a short contemplation over my journey in India, with some phenomenon I found unusual interspersed in between. Have fun reading!

Sehari sebelum malam perayaan Dhivali (festival of lights)
Di negara yang dihuni oleh lebih dari 1,3 milyar penduduk itu, ada satu hal yang benar-benar terkenang, bunyi klakson kendaraan!

Pengalaman saya di India banyak dihabiskan di atas kendaraan. Bagaimana tidak, saya mengunjungi tiga kota dalam rentang waktu sepuluh hari. Di India yang didominasi daratan, bus menjadi onta saya, dan jalan tol menjadi jalur pengembaraannya.

Berkesempatan mendarat di New Delhi dan menyesap udara di tengah malam, saya mau tidak mau harus merasa heran dengan kenampakan kabut yang menggantung di langit malam. “Peh, kamu ngerasa udaranya aneh ngga sih?” sontak pertanyaan kawan saya menjadi misteri hingga beberapa hari ke depannya. Ke manapun kami pergi, baik itu di kota maupun di perdesaan, kabut misterius itu tetap menggantung.

“Mas, itu apaan? Asap?”

“Iyalah, itu asap dari polusi gitu.”
“Oh, separah itu yah asap kendaraan bermotor? Kok sampe jam segini?”
“Bukan, itu gara-gara cara mereka beribadah kan.”
“Dupa-dupaan gitu? Oh, pantesan baunya agak aneh”
“Lebih ke asap bakar mayat sih… Budaya mereka di sini kan gitu”
“…..”

Satu di antara alasan yang mengemuka saat itu adalah tentang asap upacara pembakaran mayat, yang membuat saya cukup tercengang ketika itu. Sebanyak itukah sehingga bisa menutupi bintang-bintang di angkasa? Ah, rupanya tidak. Faktanya menyebutkan, New Delhi memang merupakan salah satu kota yang memiliki tingkat polusi udara paling tinggi di dunia. Kalau merujuk pada informasi dari urbanemissions.info, sumber polusi di New Delhi 30% nya berasal dari kendaraan bermotor, masing-masing 20% dari biomass burning dan sektor industri, sisanya berasal dari debu, generator diesel, pembakaran sampah maupun pembangkit listrik. Terbukti, bukan asap dari upacara pembakaran mayat yang mengkontaminasi udara di India selama 24/7.

Lalu lintas di Kota New Delhi
Malam berganti pagi, dan saya beranjak pergi dari Indira Gandhi International Airport menuju Kota Chandigarh, yang berada di wilayah Punjab. Wilayah ini berada di bagian utara daratan India, dan penduduknya memiliki kekhasan tersendiri. Mayoritasnya merupakan penutur bahasa Punjabi dan penganut agama Sikh. Secara kasat mata hal ini bisa dibedakan dari penampilan kaum lelakinya yang menggunakan semacam surban di kepala, sebagai salah satu bentuk kepercayaan mereka. Sementara kaum perempuannya tidak berpenampilan begitu berbeda, hanya saja mereka lebih jarang menggunakan sari dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan menuju Kota Chandigarh ini lah yang memberikan kesan pertama akan India. Sepanjang perjalanan, bunyi klakson kendaraan tidak pernah berhenti memekik, tidak kurang selama 6–7 jam perjalanan di jalan tol yang menghubungkan New Delhi dengan kota tersebut. Mengapa bisa? Gampangnya, di malam hari, kendaraan-kendaraan beratlah yang banyak melintas, dengan angkutan penuh sehingga mereka melaju dengan kecepatan cukup lambat. Sementara itu, mobil van yang saya tumpangi melaju dengan kecepatan rata-rata 60–70 km/jam, yang mana berarti, sangat mudah bagi sang supir untuk menyalip kendaraan lainnya. Nah, kendaraan yang menyalip terbiasa untuk membunyikan klakson mereka, bahkan dari sebelum hingga mereka berhasil menyalip kendaraan lain! Jadi bayangkanlah, di jalan yang ramai, ketika mobil van saya menyalip atau disalip, akan selalu ada bunyi klakson yang nyaring terdengar.

Salah satu sudut Chandigarh University, Chandigarh
Pusing? Iya. Untungnya, Kota Chandigarh menjadi obat dari kepusingan saya atas kebisingan di perjalanan. Sebuah berkah tersendiri ketika menyadari bahwa Kota Chandigarh ini adalah kota paling terencana di India, karena dibangun atas dasar masterplan yang jelas dan memiliki pemerintahan kota yang dinilai cukup baik oleh beberapa kawan di sana.

Adalah Le Corbusier, seorang arsitek kawakan asal Perancis yang memiliki andil besar dalam perencanaan Kota Chandigarh. Ia dan timnya mengaplikasikan sebuah kombinasi antara konsep Radiant City yang diusungnya dengan konsep Garden City yang diperkenalkan oleh Ebenezer Howard. Dari kursi saya di balik jendela van yang saya tumpangi, ciri-ciri Garden City terlihat lebih dominan. Sepanjang sisi jalan dan median jalan ditumbuhi oleh tanaman yang terawat, jaringan jalannya berbentuk grid dengan roundabouts yang membagi kota ini dalam blok-blok tertentu. Selain itu, kota ini memiliki beragam taman kota sebagai ruang publik yang aktif sekaligus membatasi sisi-sisi terluar wilayahnya.

Barulah setelah melihat lebih detail ke balik deretan tanaman ke dalam blok-blok bangunan, nampaklah bagaimana penerapan konsep Radiant City yang menekankan pada efesiensi fungsi kota dengan integrasi bangunan-bangunan yang ada. Secara umum, keberadaan blok-blok bangunan mempermudah pengaplikasian pola dan struktur ruang kota serta menciptakan keteraturan yang lazim ditemukan dalam kota yang berasal dari sebuah garapan masterplan.

Sampai saat ini, rencana Kota Chandigarh terus dikembangkan untuk memenuhi tantangan zaman yang berubah. Terdapat beberapa isu yang perlu dijawab oleh kota ini, seperti bagaimana mengatasi arus urbanisasi dan mengakomodasi kebutuhan penduduk yang terus bertambah. Menarik maka, untuk mengikuti bagaimana langkah yang dilakukan kota ini untuk mengatasi potensi permasalahan ketersediaan perumahan, transportasi publik, serta fasilitas umum dan fasilitas sosial lainnya.

Begitulah Chandigarh, setelah menghabiskan waktu dua hari di sana, akhirnya saya harus kembali ke New Delhi untuk memenuhi tujuan utama saya berkunjung ke India. Jalan yang berdebu menjadi saksi bagaimana India, seperti halnya Indonesia, masih berjuang membangun negaranya, dan bagaimana pembangunan itu terkadang menyebabkan permasalahan baru. Banyak hal yang saya anggap asing di sepanjang perjalanan. Salah satunya yang saya masih tidak habis pikir, mengapa di tengah-tengah ketiadaan kemudian muncul kompleks bangunan yang ternyata berfungsi sebagai universitas ataupun pabrik industri. Memunculkan tanya, bagaimana mereka membangun infrastruktur dengan efisien dan bagaimana mereka merencanakan perkembangan wilayahnya.

President House
Yah, akhirnya saya harus beralih dari sebuah kota yang terencana, menyeberang kawasan perdesaan, menuju sebuah kota metropolitan. Kepadatan lalu lintas New Delhi ramah menyambut siapapun yang berkunjung. Kota ini memamerkan kemegahan dan kemewahan, menunjukkan kehebatan peradaban masa lalu, serta menjanjikan modernisasi dan perbaikan kualitas hidup. Namun, di sisi lain juga memamerkan kesederhanaan hingga kesemrawutan, menyisakan masalah-masalah kota, dan keras menggerus orang-orang yang tidak bisa beradaptasi dengan ritme kehidupan kotanya.

Saya mendiami hotel di kawasan Gurgaon, yang mana berada di sebelah selatan kota ini. Dari New Delhi, kami dapat dengan mudah mencapainya melalui highway. Kawasan ini cenderung lebih lengang dibandingkan di tengah kota. Di sebelah baratnya, terdapat kawasan lain yang disebut Cyber City. Isinya? Perusahaan-perusahaan global seperti IBM, Google, dsbg. Apabila lingkungan hotel saya terlihat seperti kawasan Glodok, tetapi bmaka kawasan Cyber City ini memberikan kesan modern dan nyaman untuk ditinggali, dengan gedung-gedung bertingkat dan jalanan yang indah.

Kalau kita ibaratkan pengalaman berada di New Delhi dengan rasa permen, maka rasanya berada di New Delhi, seperti makan permen nano-nano. Hampir setiap hari saya bepergian dengan bus dari hotel menuju venue acara yang berada di tengah kota New Delhi. Ini berarti, hampir setiap hari saya membelah kota ini. Saya tidak lagi heran dengan lalu-lalang orang yang berjalan kaki dan menyeberang jalan hampir di setiap ruas jalan. Pun sudah terbiasa dengan percampuran pemandangan sapi yang berseliweran, manusia yang rebahan di trotoar serta anjing-anjing berkeliaran yang pada mulanya saya anggap janggal. Hingga tidak lagi merasa kasihan melihat mobil-mobil baru yang tidak lagi nampak mulus dan berdesakan di jalanan.

Geliat ekonomi di salah satu sudut kota
Ah, belum lagi kita membahas dimensi tata ruangnya. Indah sekali melihat lingkungan sekitar Kedutaan Besar Indonesia, yang dekat sekali dengan kediaman Jawahalrar Nehru (sekarang menjadi Nehru Planetarium dan Nehru Museum). Bangunan-bangunannya megah berdiri bercorakkan arsitektur kolonial Inggris yang berpadu dengan arsitektur khas timur yang dipengaruhi budaya Hindu dan Islam. Museum, monumen, kuil, terawat dan dikelola menjadi objek wisata yang menarik. Taman-tamannya membentang tidak kalah bagus dengan taman di Kota Chandigarh. Ditambah lagi adanya hutan kota yang ehem, kita jarang punya.

Namun di sisi ekstrim yang lain, ada slum area, ada trotoar yang tidak terawat, ada pasar yang kumuh, ada kemacetan yang menghantui, ada bangunan yang hancur tidak terurus. Begitulah sehingga seakan-akan kita melihat ada kemiskinan yang terpampang di jendela kemewahan.

Di depan sebuah pasar sayur dan buah di Okhla, setelah gagal bertransaksi karena keterbatasan bahasa


Terakhir, marilah kita meninggalkan New Delhi dan rehat sejenak mengunjungi Agra. Tempat satu dari tujuh keajaiban dunia yang dahulu kita hafalkan ketika kecil di lagunya Sherina. Taj Mahal!

Saya tidak bisa berkata banyak tentang Agra, terlalu lelah dan lemah saya sehingga kebanyakan tidur di bus dalam perjalanan. Satu hal yang bisa saya pastikan, kota ini akan memanjakan fantasi Asia daratan bagi Anda yang tertarik. Berkunjunglah, sesap dalam-dalam udaranya, rasakan berada di India tempo dulu, sambangi peninggalan-peninggalan sejarahnya, bercengkerama dengan segenap penduduknya.

Kubah Taj Mahal, dibayarkan dengan tiket masuk seharga 1000 rupees
Ah, mungkin saya mulai bisa merasa rindu untuk kembali berkunjung. Semoga lain kali, saya tidak hanya menjadi penonton kehidupan di balik jendela dan komentator di laman pribadi.
Terimakasih India, atas pelajarannya tentang penghargaan akan kehidupan.

p.s. kalau ada yang mau mengajukan pertanyaan tentang bagaimana saya mengurus perjalanan ke India, silahkan kontak saya secara pribadi.

September 11, 2017

Books

Akhir-akhir ini saya ngga pernah tahan ngga beli buku, suka tiba-tiba pengen beli ketika liat buku yang menarik, apalagi kalau murah dan lagi diskon, kalap men! Prinsipnya gampang, ngga perlu punya banyak uang, cukup siap-siap berkorban menahan nafsu jajan setelah ngeborong buku. Bahkan saya lebih kalap liat buku bagus daripada liat baju, makanan dan barang-barang lainnya.

Kalau ditanya dari kapan saya mulai menyukai buku, maka saya harus jawab, sepanjang ingatan, bahkan sebelum bisa membaca, buku dan cerita adalah salah satu teman terbaik masa kecil saya. Main sama sepupu-sepupu atau teman-teman, kita duduk bareng bolak-balik buku bacaan.

Semuanya karena orangtua saya yang sama-sama suka baca. Ini adalah salah satu hal yang saya harus berterima kasih sekali kepada mereka, yang mengajarkan saya mencintai membaca dan menulis semenjak kecil. Kala itu, malam har tak akan terlewat tanpa Bapak yang membacakan buku cerita di tengah tempat tidur saya dan abang hingga kami terlelap, dan mencium kening kami penuh sayang. Sementara di pagi harinya giliran ibu yang menemani kami membaca buku dengan beragam topik, mengajarkan membaca dan menulis sebelum kami masuk TK, mengizinkan kami ikut ke kantor beliau kala itu di sebuah penerbit buku, menyempatkan mampir ke persewaan buku saat menjemput dari sekolah, dan selalu mengapresiasi cerita-cerita pendek yang suka iseng saya tulis.

Akhirnya, waktu TK selain manjat-manjat apollo, main pasir, tinggi-tinggian main ayunan, naik prosotan dan jungkat-jungkit atau berantem, salah satu tempat favorit saya adalah perpustakaan. Yang isinya buku-buku Franklin kura-kura atau Winnie the Pooh. Waktu SD, baca komik Doraemon, Tintin, Asterix Obelix, Ramayana, Kisah-kisah Nabi dan Rasul, novel Harry Potter, Lima Sekawan, novel teenlit galau, sampai koleksi novel Ahmad Tohari punya simbah bisa selesai dibabat. Lanjut waktu SMP dan SMA, masih beragam judul novel dan majalah, yang sebagian besar pinjaman, saya habiskan juga lembar demi lembar.

Sampai sekarang, buku favorit saya tetap buku fiksi. Walaupun mulai berusaha membaca buku-buku non-fiksi dengan perjuangan berkali-kali lipat. Hahahaha.

Beruntungnya saya dikelilingi perpustakaan-perpustakaan oke, orang-orang keren yang punya koleksi buku yang beragam, jadi bisa dibilang saya ngga pernah kehabisan buku bacaan.
Sekarang giliran saya pengen jadi bagian dari ke oke an dan kekerenan itu, dan lagi-lagi karena akhir-akhir ini kalap banget beli buku, koleksi saya cukup menggunung, dalam artian nganggur di rak buku entah belum terbaca atau sudah diselesaikan. Walaupun mungkin ngga memenuhi selera teman-teman, tapi kalau pengen ngobrol tentang buku, pengen tau apa yang saya baca, bahkan pengen pinjam buku saya, feel free to contact me.

At last, please spread your love for books and literacy.

dari medium.com
tertanggal 16 Januari 2017

March 26, 2017

Sepucuk surat untuk mereka


Alhamdulillah
Mungkin hanya syukur tiada terperi yang bisa saya sampaikan atas kesempatan luar biasa yang hadir pada saya. Akhir pekan ini saya dipertemukan dengan sosok-sosok kecil yang menggetarkan hati, siswi-siswi kelas 6 SDIT Al-Khaairaat.

Sungguh dari awal saya cukup terbebani sebenarnya, setelah sekian lama tidak pernah... Pun persiapan saya dan teman-teman sangat minim, segalanya direncanakan kurang dari 24 jam sebelumnya! Maka salut buat rekan-rekan saya di lapangan, Irfani, Swasti dan Farida yang mampu memberikan yang terbaik saat itu. Walaupun setelahnya, kami berempat sepakat, apalah kami dibanding mereka, karena sesungguhnya kamilah yang banyak memetik pelajaran berharga hari itu.

Mereka anak-anak, yang masih senang bermain dan sedang khawatir menghadapi ujian yang sebentar lagi datang. Tapi lebih dari itu, mereka menyimpan kedalaman iman yang terpancar dalam akhlaq mereka, pun dalam cita-cita yang mereka tuliskan dalam secarik kertas. Dokter, penulis, pengusaha, arsitek, itu cita-cita biasa. Memberangkatkan haji umi, berkuliah di Kairo, menjadi hafidzoh, membangun rumah di surga, dan setinggi-tinggi impian lainnya berani mereka tuliskan. Hal-hal, impian-impian yang bahkan belum pernah terpikirkan oleh saya.

Maka di penghujung pertemuan kami, saya titipkan sepucuk surat untuk mereka, yang dibuat dengan sangat sederhana

Assalamu'alaykum wr. wb
Hari ini saya terjaga semenjak dini hari
Rasanya tak bisa tidur menanti pagi datang

Satu dekade umur kita terpaut
Saya tak bisa berhenti bertanya-tanya, seperti apa wajah-wajah kalian

Ketika pagi akhirnya datang
Saya terlalu takut membuka mata
Terlalu enggan bangkit dari kasur
Terlalu ragu untuk berjalan kemari

Benar firasat saya,
Pagi ini saya tertampar oleh semangat kalian
Rasanya, lebih banyak hal yang kalian ajarkan pada saya dibanding apa yang bisa saya berikan pada kalian

Haru rasanya, mendengar lantunan Al-Qur'an dari ruangan ini
Haru rasanya, membaca uraian cita-cita yang kalian tuliskan
Haru rasanya, mendengarkan yel kelas kalian yang begitu indah dan bermakna

Haru rasanya, melihat kebersamaan kalian yang saling bercengkrama, bermain dengan lepasnya
Haru rasanya, menyimak pesan-pesan yang kalian sampaikan satu sama lain, terselip dalam kado kecil yang kalian siapkan

Saya harap teman-teman bersyukur
Karena sungguh saya tak pernah seberuntung teman-teman
Punya ustadzah yang begitu sabar
Punya lingkungan yang begitu suportif saling mengingatkan dalam kebaikan

Coba sekarang kita renungkan apakah sudah cukup syukur kita panjatkan ke hadiratNya
Dan renungkan sudah amanahkah kita dalam melaksanakan tugas kita di dunia untuk beribadah kepadaNya
Kalau belum, marilah kita berjanji pada diri sendiri untuk berusaha lebih baik daripada yang terbaik yang bisa kita berikan untuk mencapai cita-cita yang tadi sudah kita tuliskan dalam lembaran-lembaran kertas kecil
Dan marilah kita berjanji untuk saling mengingatkan teman-teman yang ada di ruangan ini, yang ada di kanan-kiri kita, untuk bersama mencapai cita-cita dan tidak membiarkannya menjadi angan belaka

Karena sukses sendiri itu nikmat, tapi sukses bersama itu jauh lebih nikmat dan lebih indah


ditulis dengan sepenuh cinta
untuk generasi yang insyaAllah akan jadi lebih baik dari saya
para calon muslimah arsitek peradaban
tertanda, Ipeh


Terimakasih, sudah menyalakan api, mengobarkan semangat dan membulatkan tekad



March 23, 2017

Cerita Rantau #1

Cerita Rantau #1

Dear Jakarta,
After the first two decades in my life,I come back to youTo stayAnd this time, It’s going to be a long stayAnd an adventurous oneSo yeah, here I am!
Tiga hari pertama dalam perantauanSetelah perjalanan yang tidak panjang tapi menyiksa karena bawaan yang terlampau berlebihan
Jadi, how’s Jakarta?Belum lama saya membabat setengah isi bukunya Ridwan Kamil, Mengubah Dunia Bareng-Bareng. Let’s say, I get to see what he’s talking about in his book. Pagi itu saya sampai di Stasiun Jatinegara sekitar pukul 4 pagi. Berjalan keluar stasiun menenteng dua koper besar berisikan bekal selama perantauan. Tidak mengenal siapa-siapa dan hanya tau mau ke mana berkat share location via Google Maps. Taxi drivers and ojek riders are offering their service in front of the exit. Not to mention the bajaj and angkot that lines up honking at each other on the street. Well, I simply said to myself, welcome to the semi-urbanized megapolitan Jakarta.
Kecuali di jalan depan stasiun yang dipadati kendaraan, jalanan dari stasiun ke kos saya di kawasan Tebet terbilang lengang. Jakarta pukul 4 pagi, hanya angkot-angkot yang berseliweran dan pedagang-pedagang sayur keliling yang bersiap untuk berdagang yang meramaikan suasana. Entah 1–2 jam kemudian, lengang itu berubah menjadi padat.
Maka marilah saya ceritakan keseharian saya di perantauan. Baru tiga hari sih, jadi subuh jalan-jalan… sensing the place, pagi berangkat ke kantor… kedinginan kesentor AC, siang hari cari makan siang… kepanasan jalan kaki, balik kerja setelah kenyang… bolak-balik kamar mandi kedinginan, malam hari sesampainya di kosan… kembali tidur di bawah AC, pun malam ini saya main ke Grand Indonesia… terpapar polusi di jalan, , dan pulang mencicipi sedikit padat dan semrawutnya lalu lintas Jakarta.
Ehm, jadi? Jadi ya jadi, loh, engga.
Jadi… saya jadi merefleksikan kembali apa yang ditulis Kang Emil di bukunya. Tentang kota, tentang ruang publik, tentang individualisme, tentang arsitektur yang tidak mempertimbangkan konteks, tentang Jakarta. Kemudian saya teringat kata Pak Doddy dalam kuliah ekonomi kota beliau, yang membicarakan tentang semi-urbanism, tentang perilaku warga kota yang kampungan, tentang ketidakteraturan dan ketidakpedulian akan aturan kota, tentang aglomerasi dan tentang transportasi. Kemudian lagi saya jadi teringat akan Urban Citizenship Academy, tentang rasa kewargaan, tentang rasa kepemilikan dan tentang gerakan pemuda dalam menyikapi urban issues.
Tiga hari pertama ini saya menikmati proses sensing the place.Tiga hari pertama ini saya senang melihat skyscrapers, mengeluhkan fasilitas pejalan kaki yang inkonsisten dan wagu, mencicipi padat dan semrawutnya lalu lintas, mencoba mencari tempat makan yang sehat dan affordable, berdebat dengan diri sendiri antara idealita dan realita, dan melihat inilah Jakarta.
Maka masih ada hari-hari lainnya, untuk merasakan, menyaksikan, memikirkan dan mengasyikkanJuga masih ada hari-hari berikutnya untuk menjelajahInilah awal mula dari perantauan yang memunculkan ceritaAntara saya dan kota kelahiran saya
Aku padamu, Jakarta
dari medium.com
tertanggal 21 Desember 2016

March 22, 2017

Tentang Kebiasaan dan Aturan

Kemarin ada kuliah tamu, Perencanaan Transportasi.
Ceritanya, prodi lagi seneng-senengnya ngadain kuliah tamu di PWK. Dan sore itu giliran kami kena jatah ikutan kuliah tamu di sore hari yang kehadirannya dihitung di presensi. Dengan niat memenuhi presensi kuliah, aku masuk.
Kita ngomongin tentang manajemen transportasi umum di Kota Yogyakarta, lebih tepatnya moda Trans Jogja, dari sudut pandang Dinas Perhubungan (iya, pembicaranya adalah staff DisHub yang ngurusin Trans Jogja, lulusan FISIPOL UGM, omongannya tentang kebijakan). Singkat cerita, bahasan sampai pada alasan kenapa yang dipilih DisHub adalah model transportasi umum BRT-lite, bukannya BRT yang konon katanya lebih ideal.
Now we go to the main topic. Ngebahas jalanan di Yogyakarta yang pertumbuhannya sangat sedikit sementara kendaraan yang ngelewatinnya semakin banyak, beliau tiba-tiba nanya (iya tiba-tiba, karena omongan sebelumnya ngga aku perhatiin -_-), emang ada ya orang yang berani nyeberang Ring Road? Karena beliau ngga berani. And to that question I spontaneously answered that I did have the courage to do so, and truth be told, I frequently did, and it’s not a big deal for me. Dan di situlah aku sadar, kebiasaan, idealita dan aturan itu sangat bergantung pada pandangan individu.
Karena kita lagi bahas ‘aku’ di sini, maka biarlah ‘aku’ menjadi contoh kasusnya.
So here’s the thing. I’ve lived in Sawitsari for more than 15 years. Dan Sawitsari ada di sebelah utaranya Ring Road utara, di tengah-tengah antara Jalan Kaliurang dan Jalan Gejayan (Jalan Affandi). Salah satu akses utama untuk masuk ke perumahan ini lewatnya ya Ring Road utara. Now, sebagai orang Sleman pinggiran yang memenuhi berbagai kebutuhannya di perkotaan Yogyakarta yang notabene ada di dalam kungkungan Ring Road, ngga bisa engga, nyaris setiap hari aku harus nyeberangin Ring Road, entah itu jalan, nyepeda, naik motor, atau naik mobil, untuk mengakses kebutuhan itu.
Have you got my reasons? Nah, sekarang masuk ke kebiasaan seberang-menyeberang. Aku nyeberang kalau kenapa sih?
1. Kalau jalan pagi
2. Kalau naik Trans Jogja dan berenti di Halte Manggung karena mager jalan jauh
3. Kalau naik bus Kopata jalur 7 yang berentinya di tengah ring road
4. Kalau bawa sepeda, lagi pengen/butuh lewat daerah deresan dan mager muter kaya kalo pas bawa kendaraan bermotor
And to my judgement, it’s not entirely my fault that I have to cross the Ring Road. Dan karena sudah terbiasa, menurutku itu engga salah. Sampai kemarin.
And why’s that? Ini adalah pertanyaan, keraguan dan jawaban yang menjadi pembenaran, well not really, yang menjadi konflik batin mungkin. Just a run of thoughts.
Emang ada aturannya ya ga boleh nyeberang Ring Road? Well, as far as I know, not specifically. Tapi toh kelas jalan arteri memang harusnya ngga diseberangin sembarangan, mengingat jalan itu memang didesain untuk kecepatan tinggi, perjalanan antar kota antar provinsi.
Kenapa ngga nyeberang di tempat seharusnya? Well, kalau yang kita artikan tempat seharusnya adalah jembatan penyeberangan, zebra cross atau yang lain, yang ada hanyalah zebra cross terdekat yang letaknya, bisa 500 meter dari tempat aku pengen nyeberang. Dan sebagai orang yang menghayati ke-Indonesiaan-nya, yang punya standar berjalan kaki 200 m atau maksimal 500 m, kalau disuruh muter jalan 1 km cuma buat nyeberang, sementara tujuan awalnya adalah mempersingkat perjalanan, aku males.
Ngga takut apa? Frankly speaking, bukan takut sih, lebih ke apa ya, khawatir? Karena lewat di tengah Ring Road ketika mobil-mobil melaju >60 km/jam itu, kaya diayun-ayun. Tapi karena terbiasa, rasanya sih asal hati-hati pasti selamat.
Terus diajarin siapa sih kaya gitu? Orang tua? Yup, dulu kalau nyeberang ring road biasanya kalau pagi-pagi, jalan-jalan, dan memang sepi. Dan tahun-tahun ketika aku masih digandeng untuk menyeberang jalan adalah tahun-tahun ketika lalu lintas Yogyakarta jauh-jauh lebih lempeng daripada saat ini. Selanjut-selanjutnya, jadi terbiasa, dan karena ‘terpaksa’ oleh keadaan.
That’s that. Makin ke sini pembenarannya semakin lemah ya? Iya…
Kemarin temen aku terus ada yang nanya sama aku, kalau misal ada kendaraan yang nabrak orang nyeberang di Ring Road gitu, yang disalahin siapa? I guess, pasti orangnya yang nyeberang sih, harusnya, tapi toh kalo kaya gitu bisa jadi yang dianggap bertanggung jawab adalah yang bawa kendaraan. Gini sih, aturan sebenarnya dibuat untuk melindungi kepentingan semua orang. Dan setelah dipikir-pikir, it’s me that has done wrong.
Tapi terkadang, kita harus melihat kenyataannya. Aku baru mengambil contoh sederhana, yang notabene terjadi pada diri sendiri, dan alasan-alasan pembenaran akan tindakannya sangat lemah. Tapi bayangin orang-orang lain, petani mungkin, atau tukang rawat kebun, yang lokasi rumah dan ladang kerjanya dipisahkan jalan arteri, yang mau ngga mau memang dia harus menyeberangi itu, tanpa asuransi, dan tanpa ada yang mau mengakomodasi kepentingan menyeberang itu karena demand nya sedikit, ngga penting dan ngga mbathi.
Jadi idealita ngga melulu sejalan sama aturan. Dan kebiasaan sangat bisa menjadi judgement pembenaran atas pelanggaran sebuah aturan. Dan aturan cuma aturan kalau ngga dilakukan. Dan aturan adalah kebenaran yang dipaksakan oleh orang-orang yang memiliki kuasa untuk melegalkan kebenaran itu.
Engga, ngga gini juga sih. Tapi gitu.
Lastly, ini cuma penyadaran, cuma otokritik, cuma sharing kegelisahan. Ngga sepenuhnya benar karena ngga menyampaikan kebenaran. Feel free to correct me if I’m wrong, or comment if you have something to share about the topic.
fin
bye
-FNLS-
ditulis di tutorial Perencanaan Transportasi, karena sedang malas memperhatikan, dan butuh pelarian untuk menyalurkan kegelisahan
dari medium.com
tertanggal 2 November 2016