Showing posts with label tualang. Show all posts
Showing posts with label tualang. Show all posts

June 25, 2018

Ada Jutaan Solusi untuk Jutaan Masalah di Dunia - Lagi-Lagi Sebuah Refleksi, Kali Ini Pasca UNLEASH 2018

Sudah lebih satu bulan berlalu, orang-orang yang sempat beririsan jalan dengan saya sudah kembali bertebaran di muka bumi, berlomba-lomba memberikan manfaat untuk sesama. Saya? Habis libur lebaran sih…

SDG 11 team, those who work on the Sustainable Cities and Communities, on the last day of the innovation process,
at The Arc, NTU. Credit to the UNLEASH team.

Adalah sebuah innovation lab yang sangat inovatif (menurut saya), UNLEASH 2018. Diadakan pada tanggal 31 Mei-7 Juni 2018, acara ini berhasil mengumpulkan 1000 orang talents dari seluruh dunia! Masing-masing talents merupakan bagian terpenting dan paling unik dari acara ini, di mana semua orang memiliki latar belakang yang berbeda, membawa suatu masalah dari berbagai penjuru dunia tapi sama-sama memiliki tekad untuk berbuat sesuatu sebagai jawaban atas masalah-masalah yang ada. Semuanya menjawab tantangan untuk sebuah akselerasi positif dalam mewujudkan target Sustainable Development Goals 2030.
On no soul does God place a burden greater than it can bear” 
Al-Qur’an, 2:286
Kenapa gitu ngutip ayat di atas? Jujur, karena dibalik segala keseruan yang luar biasa, ‘beban’nya juga seberat itu. 

Saat survei di HDB, serahkan kerjaan wawancara ke orang-orang lokal, kan?
Credit to Torben
Beban berat yang pertama, super tight and intensive schedule. Tujuh hari penuh. Setiap harinya aktivitas resmi dimulai pukul 08.00, tapi kami harus berangkat dari penginapan di NUS ke ruangan workshop di NTU pada pukul 07.30 waktu Singapura (yang jam 8 nya berasa jam 7). Sementara jadwal pulang kembali ke penginapan pukul 18.00, dan setelah makan malam, masing-masing kelompok sangat memungkinkan untuk melanjutkan pekerjaannya, yang biasanya memakan waktu sampai pukul 21.00 ke atas. Beruntungnya, di beberapa hari para talents diberikan waktu setengah hari atau di sore hari untuk melakukan cultural activities dan kunjungan ke luar. Kalaupun sedang kurang beruntung, fasilitator memberikan segenap kemampuan mereka untuk membuat rangkaian innovation lab ini menyenangkan dengan berbagai kegiatan selingan di dalam ruangan.

Marketplace, ketika ide yang sudah digodhog
kami pamerkan
Beban berat yang kedua, problem framing, ideation, prototyping, testing and pitching ideas, that had to be done in a very short period of time. Dalam rangka membantu kami self-facilitating dalam proses pematangan inovasinya, mereka menerapkan sebuah framework yang isinya berupa tahapan-tahapan di atas yang seharusnya diakhiri dengan implementation. Namun, karena keterbatasan waktu kegiatan, proses kami diakhiri dengan pitching ideas, dan perkara implementasi diserahkan ke masing-masing kelompok. Setiap tahapnya, kami disediakan tools yang bisa kami pergunakan untuk mencapai targetan yang ditentukan, dengan bantuan fasilitator dan juga beberapa ahli di berbagai bidang. Sementara untuk bisa melanjutkan ke tahapan selanjutnya, kami harus melewati ‘gate’, semacam tes dengan fasilitator untuk mengecek kelengkapan target dan progres kelompok. 

Di akhir acara, kami dituntut untuk bisa mempresentasikan inovasi yang kami hasilkan. Rancangan program/prototype produk ini dipresentasikan dalam sebuah pitch di hadapan rekan-rekan yang bekerja dalam satu gol SDGs yang sama, serta dipamerkan di sebuah marketplace yang ketika itu bekerja sama dengan Temasek Ecosperity Expo. Dalam kedua kesempatan ini, kami mendapatkan feedback yang menarik dari para ahli, serta mendapat kesempatan untuk bertukar ide dengan talents lain, bahkan bertemu dengan investor yang kira-kira akan mendanai implementasi ide kami. 

HOLLOT Team! (wich actually stands for
Hands of Light, Legs of Thunder).
Credit to Torben
Beban berat yang ketiga, you had to do all that with a team that consists of people that you barely knew (at first). Namun, justru di sinilah serunya! Untuk mahasiswa yang bahkan belum punya gelar sarjana seperti saya, awalnya sempat ketar-ketir juga, karena banyak di antara talents yang lain adalah expert! Mereka yang sudah bergelar sarjana/master/doktor, sedang melanjutkan studi master/doktor, sudah bekerja di berbagai organisasi/perusahaan berkelas internasional, dan segala pencapaian lainnya yang saya saja baru sempat membayangkannya, dan kalau tidak disikapi dengan baik bikin minder hahaha. But hey, a friend of mine once said, ketika kamu jadi orang yang paling tidak tahu dalam suatu kelompok, justru di saat itulah kamu bisa jadi orang yang paling banyak belajar. Which is undeniably true, in my case. Rekan satu kelompok saya adalah seorang arsitek, seorang sosiologis, keduanya berasal dari Denmark, dan seorang mahasiswa akuntansi dari Singapura. Dari mereka, baik dari pribadi maupun dinamika kelompok yang terbentuk, saya banyak belajar. Utamanya tentang bagaimana berkomunikasi, berkolaborasi, mengapresiasi satu sama lain serta menghargai proses lebih daripada hasil.

Yang keempatnya, what is this girl from a developing country trying to do, solving a problem in a developed country? Ngga ada masalah sama sekali! Kelompok saya pada akhirnya bekerja menyelesaikan permasalahan peningkatan rasa kesendirian di antara para lansia di Singapura, utamanya mereka yang tinggal di apartemen HDB. Terlepas dari justifikasi negara maju atau berkembang, pada dasarnya kita tidak bisa memaksakan sebuah solusi yang berhasil di suatu tempat pada konteks tempat yang mau kita intervensi bukan? Maka dari itu, ini justru jadi kesempatan yang luar biasa untuk mendapatkan insights tentang beragam persoalan yang terjadi di dunia. Teman-teman yang sama-sama bekerja untuk mewujudkan gol Sustainable Cities and Communities saja, ada yang memilih mengangkat isu kurangnya kesempatan pengungsi untuk berwirausaha, ada yang mengangkat isu buruh migran, dan lain sebagainya. Pendekatan yang dilakukan untuk masing-masing masalah juga bisa sangat beragam, ada yang memutuskan membuat platform yang mempertemukan pihak-pihak yang berkepentingan, ada yang mengembangkan produk tertentu, hingga yang seperti dilakukan kelompok saya, membuat satu desain sosial dan fisik. Semuanya diperbolehkan, tidak ada yang memberikan batasan selama solusi itu adalah suatu hal yang feasible untuk dilakukan. Maka dari itu di awal pembentukan kelompok fasilitator berusaha memastikan bahwa orang-orang yang berada di satu kelompok berasal dari latar belakang yang heterogen.  

Terakhir, we carry the world upon our shoulders. Tega sekali mereka yang mengubah lirik lagu 'Hey Jude' menjadi UNLEASH anthem ini. Dengan banyaknya masalah di dunia ini, how could we solve all that? Bahkan mencapai target SDGs saja susah lho! Tapi mereka tetap mengumpulkan kami untuk saling bertukar gagasan dan memperluas jejaring (baik dengan sesama maupun dengan para ahli dan investor). Lalu, mereka mendatangkan sosok-sosok yang sudah berkontribusi dalam pencapaian SDGs dan menyelesaikan berbagai macam masalah di skala lokal maupun internasional. Kemudian mengajak kami menjalani serangkaian proses yang luar biasa yang membuat kami menjadi bagian dari solusi, mulai dari melakukan hal-hal yang paling sederhana, hingga akhirnya energi positif yang kami dapat di UNLEASH ini akan tersebar luas ke berbagai belahan dunia tempat kami berasal. Because the SDGs is ours to take action on, and there should be no one left behind. For the millions of problems the world face today, we could find millions of solutions that will make it a better place for us to live. 

Pada akhirnya, semua ‘burdens’ ini adalah blessing in disguse. Waktunya meninggalkan pesimisme yang terbangun selama ini dan menyambut energi positif untuk melakukan sesuatu. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya, bukan? At least, ini sudah dibuktikan oleh rekan-rekan talents UNLEASH yang menghasilkan paling tidak ratusan ide selama berproses bersama di sini. Ide-ide yang disampaikan bisa jadi sangat sederhana untuk satu masalah yang pun sederhana, tapi yang penting, berdampak. 

With some of the UNLEASH Indonesian talents. Tunggu kabar-kabar baik dari kami-kami ini ya! Haha
Whoops, mohon maaf saya ngga bisa menyampaikan cerita ini dengan lebih baik lagi. Sungguh sebetulnya ada banyak sekali hal yang saya dapatkan dari pengalaman UNLEASH ini secara pribadi, pun rangkaian kegiatannya tidak sepenuhnya saya jabarkan di sini. Buat yang masih kepo, silakan kontak saya hehehe. Fyi, tahun depan (kemungkinan besar) akan ada UNLEASH 2019, buat yang tertarik untuk daftar, do prepare yourself. If there’s anything that I might be able to help, just tell me. For whatever reason you might want to join this program, my best advice is, just give it a shot. 

April 14, 2018

Belajar Menikmati Teh Tanpa Gula

Sirene pabrik berbunyi pukul 7, menandakan pergantian shift pekerja. Orang-orang berlalu-lalang dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda motor. Masing-masing kembali atau sedang menuju tempat kerjanya.
Di zona inti perkebunan teh Pagilaran
Pagi itu di kompleks Unit Perkebunan Pagilaran yang terletak di Kabupaten Batang, saya seperti me-refresh diri dari kepenatan. Walaupun terbangun dalam kondisi kurang fit pasca 5 jam perjalanan meniti lipatan-lipatan pegunungan di tengah Pulau Jawa, rupanya alam menyembuhkan saya. Mulanya saya dan kawan-kawan berniat untuk memulai hari dengan pemandangan matahari terbit di tengah kebun teh. Namun, karena kesiangan, alhasil kami harus puas berjalan-jalan di tengah hamparan perbukitan yang dipenuhi oleh tanaman Camellia Sinensis.

Walaupun sudah beberapa kali mengunjungi lokasi perkebunan teh (di Dieng dan di Tawangmangu), kunjungan kali ini terasa spesial. Saya bisa mengamati beberapa hal yang luput saya perhatikan dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya. Maka izinkan saya sedikit berbagi tentang pengalaman yang saya dapatkan kala itu.
Komplek permukiman pegawai di salah satu afdeling
Pertama-tama, komplek Unit Perkebunan Pagilaran ini merupakan sebuah kawasan yang cukup terintegrasi, secara umum terdiri dari zona permukiman, zona agrowisata, zona produksi (pabrik), dan zona perkebunan. Zona permukiman ini diperuntukkan untuk mengakomodasi para pegawai pabrik dan perkebunan. Rumah-rumahnya sangat sederhana, berdindingkan tembok dan kayu, beratapkan seng, dengan pola linear. Sedikit banyak serupa dengan rumah-rumah di Sabang, tempat mamak saya tinggal, tetapi bedanya, alih-alih bangunan individual, di sini satu bangunan besar disekat menjadi 3-5 unit rumah dengan halaman kecil sebagai pelengkapnya. Para penghuninya kemudian berkreasi  menghiasi halaman dengan tanaman hingga memelihara ternak di ruang yang mereka miliki. Sementara itu, berbagai amenitas penunjang terselip di berbagai sudut permukiman, seperti balai pengobatan, masjid, dan lapangan olahraga (yang akhirnya digunakan untuk lapangan parkir agrowisata).

Satu hal yang menarik, karena sebenarnya kompleks perkebunan ini sudah ada semenjak jaman penjajahan Belanda, maka beberapa bangunannya memiliki corak arsitektur kolonial. Kebanyakan bangunan ini kemudian digunakan sebagai fasilitas pendukung agrowisata, seperti penginapan dan meeting room. Salah satu yang paling saya sukai adalah rumah pemilik kebun, yang saat ini difungsikan sebagai Rumah Dinas direktur perusahaan. Bangunannya masih kokoh berdiri, walaupun ubinnya berwarna kemerahan menunjukkan sisa kebakaran yang pernah terjadi. Namun begitu, kemegahan dan kekuasaan masih tersirat dari bangunan tertinggi yang menghadap ke pabrik dan permukiman di bawahnya. 
Hamparan kebun teh di lipatan-lipatan perbukitan
Sesungguhnya, yang terbuka untuk publik hanyalah zona permukiman dan zona agrowisata, sementara zona pabrik dan perkebunan yang terletak lebih tinggi dari pabrik dibatasi aksesnya. Maka dari itu, beruntunglah saya kemarin dapat menjelajahi zona pabrik dan perkebunan hingga ke puncaknya, Puncak Jrakah. 

Karena jalanan di perkebunan hanya berupa susunan bebatuan selebar empat meter yang mengular sepanjang lekukan perbukitan (saya belum mention ya, lanskap tempat ini superb! Dari sononya sudah cantik) maka saya dan rombongan berkeliling menggunakan mobil. Di beberapa tempat, terdapat shelter pekerja kebun, bangunan sederhana yang hanya terdiri dari rangka besi dan atap seng. Di sinilah mereka berkumpul sebelum melakukan pekerjaan (entah itu memetik, menanam, memangkas, maupun perawatan lain seperti mencabuti gulma) dan untuk beristirahat makan siang. Di shelter ini pula, daun-daun teh yang sudah dipetik kemudian dikumpulkan dan diangkut menggunakan truk ke pabrik. 

Saya sempat heran, di kebun yang sangat luas (di atas 1000 hektar), bagaimana mungkin hanya ada sangat sedikit pekerja yang saya lihat? Pada dasarnya, perkebunan ini dibagi menjadi 3 afdeling (semacam sektor). Dalam pengelolaannya, masing-masing afdeling memiliki kelembagaan, memiliki pusat pemerintahan, permukiman, dan kawasan perkebunan sendiri yang dibagi menjadi blok-blok tertentu. Nah, untuk menjamin keberlangsungan produksi, maka proses pemangkasan, pemetikan, penanaman kembali dan pemeliharaan dilaksanakan secara bergiliran dalam blok-blok tersebut. Semuanya dikontrol dan diperhitungkan, pun apabila ada hama penyakit yang menyerang, penanganan dan peremajannya terekam dengan baik. Sebuah kombinasi manis pemanfaatan kecerdasan spasial dalam manajemen perkebunan.
Seorang ibu pemetik daun teh sedang menunggu rombongannya. Bisa jadi, kita sedang menyaksikan salah satu generasi terakhir pemetik daun teh yang tergantikan oleh alat pemetik daun teh.
Berikutnya saya dan rombongan beranjak untuk mengamati proses pembuatan teh di pabrik. Daun-daun yang dipetik oleh ibu-ibu di kebun dan diangkut menggunakan truk turun ke pabrik kemudian melewati beragam proses hingga akhirnya sampai di tangan konsumen. Singkatnya, daun teh harus melewati proses pelayuan, penggilingan, sortasi basah, pengoksidasian, sortasi kering, hingga pengepakan. Sebagian besar dilakukan dengan bantuan alat-alat produksi dan sebagian lainnya dikerjakan oleh pegawai pabrik. 

Walaupun sudah melewati beragam proses tersebut, pada akhirnya, tidak ada hasil-hasil pengolahan daun teh yang terbuang. Semuanya bisa menjadi produk yang dikonsumsi, dengan grade kualitas yang berbeda-beda. Penikmatnya, tentu saja bermacam-macam. Namun, justru teh berkualitas baik lebih banyak diimpor ke luar, karena permintaannya lebih banyak dari luar. Sementara permintaan teh dari dalam negeri tentu menyesuaikan dengan selera penikmat teh di Indonesia. 

Mendengar beragam percakapan selama kunjungan singkat ini, saya harus menyimpulkan bahwa budaya minum teh di Indonesia masih belum terbangun sebaik di berbagai negara lain seperti Cina, Jepang, Inggris, bahkan Pakistan. Di sana apresiasi atas teh sangatlah tinggi, kualitasnya betul diperhatikan. Pun caranya disajikan adalah suatu bentuk penghormatan kepada orang yang mengonsumsinya, tertuang dalam bentuk tradisi dan upacara yang membudaya.

Namun begitu, di sini, bagi kita teh adalah minuman sehari-hari, kawan yang setia dan mudah ditemui di mana sajaBagaimanapun pilihanmu untuk menikmatinya, panas-dingin, manis-tawar, instan-kantong-seduhan, dengan beragam jenis dan kualitas. Terhidang manis sebagai penyeimbang pedasnya santapan nasi dan ayam geprek di siang hari yang panas, atau menjadi seduhan nikmat kala udara dingin menyerang. Satu minuman yang merakyat, dijual mulai dari harga 2000 perak di angkringan dan burjo pinggir jalan, hingga puluhan ribu di kafe dan restoran mewah. Namun penghargaan atasnya tidaklah kurang, jangan kita lupa adanya upacara minum teh di istana-istana kraton, penghidangannya adalah satu kewajiban dan tradisi yang masih terus dilestarikan. 
Dihidangkan secangkir yellow tea.
Iya, setelah saya memahami prosesnya, dan mencoba menikmati beragam seduhan teh mulai dari yang biasa-biasa saja hingga yang eksklusif diolah dengan tangan, saya menjadi semakin mengapresiasi minuman ini. Seperti juga saya berusaha menghargai kopi, saya bertekad untuk belajar menikmati teh sebagai sebuah bentuk penghargaan untuk tangan-tangan yang terlibat dalam produksinya hingga tercipta uniknya cita rasa teh yang terhidang di cangkir saya. Secangkir teh tanpa gula. Pun begitu, sebagai orang Jawa tulen, saya tidak akan menolak ditawari teh yang nasgitel kok.

Yuk, ngeteh!


Dapat salam, dari adik-adik yang terlalu bahagia diajakin foto sepulang sekolah.

December 22, 2017

Ekspedisi Ujung Barat Indonesia: Sahabat Sepermainan!

Pertemanan yang dimulai dengan agenda mencabuti ilalang yang nyangkut di rok saya dan diteruskan dengan sesi foto di pantai sebelah dermaga
Kakak Kakak En!!!! - Bocah-bocah 
Sesungguhnya saya hampir kehabisan ide untuk melanjutkan seri ini. Tapi ada wajah-wajah yang kembali menyapa lewat cuplikan momen yang terekam dalam kamera, sehingga akhirnya saya putuskan, saatnya mengenalkan teman main alias teman berantem saya di Sabang, hehe.

Faktanya, Gampong Krueng Raya populasinya mayoritas anak-anak, atau begitulah saya pikir. Tiap rumah sepertinya punya anak kecil yang jumlahnya dua atau lebih. Bocah-bocah usia TK-SD ini biasa berkeliaran pakai kolor dan sempak sepulang sekolah sampai waktu adzan maghrib berkumandang. Ngga semua kaya gitu sih sebenernya, bahkan mungkin hanya adik saya Lila dan teman sepermainannya yang suka bergaya pakaian seperti itu. Biasanya mereka rapi-rapi setiap pagi waktu berangkat sekolah, begitu juga sore-sore kalau jadwal pergi ke meunasah untuk belajar mengaji. Bahkan Lila tahu gimana cara berdandan yang cantik kalau mau pergi-pergi sama Mamak atau kakak-kakaknya. Eh tunggu, semua anak bergaya pakaian seperti itu kok, kala mereka mandi di pantai.

"Kak, fotoin kita doooong!"
"Ya ya ya, ayo pose, 1... 2... 3... Udah ayo turun jangan di situ nanti jatuh!"
Padahal sebenernya khawatir kalau-kalau ada yang mau makai kamar mandi jadi ngga bisa karena takut diintip mereka.
Yang ini minta difoto lagi, dengan pose yang lebih keren tentunya
Saya pikir saya tidak akan bisa merasa rindu, tapi toh sekarang saya merindu juga. Suara ribut anak-anak ini yang setiap hari bikin saya bangun tidur, selain bunyi bel sekolah dan lagu senam pagi. Maklum, SD N 10 Sabang lokasinya persis di belakang rumah, jadi kalau mereka ribut ya kedengerannya sampai jendela kamar saya (padahal sebenarnya seringnya saya bangun pas mereka udah masuk waktu istirahat pertama atau malah setelahnya, dan suara teman-teman KKN saya yang lebih bikin ribut rumah dan bikin bangun sih).

Sejujurnya, saya bukan orang yang pandai main sama anak-anak. Gimana yah, tetangga di kompleks perumahan saya banyaknya lansia bukan anak-anak. Adik saya udah besar, sepupu dan ponakan saya yang masih bocah juga jauh. Sementara di Krueng Raya, otomatis saya dikerumunin anak-anak. Bikin program ketemu mereka, main ke laut ketemu mereka, kerja di posko ketemu mereka, pergi ke warung ketemu mereka, keluar rumah ketemu mereka, sampai akhirnya kamar saya didatengin juga sama mereka. Hayolo, panik ngga tuh?

Santri TPAnya Pak Tuha Peut.
Minta diajarin baca kitab taunya malah saya yang diajarin mereka akhirnya.
Setiap mau pulang, yuk cek dulu kukunya panjang ngga.
Kalau sudah boleh pulang, berarti waktunya nonton voli berjamaah di lapangan atau jajan baso di depan posko.

Pun begitu, sesungguhnya, they're the best thing that could happen to us during that time. Siapa lagi yang bakal sabar ngajarin bahasa Aceh, ngajarin baca kitab kuning sampe bikin merinding karena hafalan Al-Qur'an nya keren-keren parah. Mereka bukanlah objek pengabdian di tanah orang, justru, mereka adalah sahabat-sahabat terbaik yang saya dapatkan di sana. Kehidupan mereka jauh berbeda dengan yang saya punya, di usia-usia belia banyak yang sudah mendapatkan cobaan yang jauh lebih berat tapi toh senyum mereka masih menguar jua.

"Ehh... kakak foto yaaa!"
"Tak mau kak"
"Jangan ngumpet gitu lah, liat sini dong liat sini"
"Ayo senyum itu mau difoto kakak ipeh tu lho!"
Jadi ini tetangga sebelah rumah, satu-satunya anak Krueng Raya yang punya teteh dan kalau mau mandi harus nunggu mamak pulang. Sukanya main mobil-mobil di depan rumah. Kalau udah cerita tentang sesuatu, aduh ngga akan ada selesainya.
Ketika bocah-bocah kalah sama mamak-mamak posyandu.
Oiya, faktanya, bedak di muka adalah yang membedakan siapa sudah mandi dan siapa belum.
Di saat-saat perpisahan, air mata dan pelukan sederhana mereka mengantarkan kepergian saya dan kawan-kawan KKN. Tak sedikit bahkan yang memasang wajah masam dan ngambek karena kami pergi terlalu cepat.
"Kak, kapan kakak pergi?
"Kak, jangan pergi lah, perginya besok aja"
"Kak ipeh di sini aja yaaa"
"Kak kapan ke sini lagi?"

Kalau ada umur dan rezeki, suatu saat pasti akan kembali. Saya ninggalin keluarga di sana, yang telepon terakhirnya tidak terangkat, hehe.
p.s. Sekarang ngga ada lagi yang panggil saya kakak di sini.

Ini Abay, kalau udah besar cita-citanya mau jadi polisi.
Aamiin, kalau kakak balik, semoga Abay udah jadi polisi ya. 

Coba lihat Rauzah yang ada di paling kanan, garang-garang gitu pas pamitan nangis juga dia. 

December 5, 2017

India’s Cities as Seen from My Window Seat — New Delhi, Chandigarh, Agra

This is more like a compilation of questions and wonders arose after a short contemplation over my journey in India, with some phenomenon I found unusual interspersed in between. Have fun reading!

Sehari sebelum malam perayaan Dhivali (festival of lights)
Di negara yang dihuni oleh lebih dari 1,3 milyar penduduk itu, ada satu hal yang benar-benar terkenang, bunyi klakson kendaraan!

Pengalaman saya di India banyak dihabiskan di atas kendaraan. Bagaimana tidak, saya mengunjungi tiga kota dalam rentang waktu sepuluh hari. Di India yang didominasi daratan, bus menjadi onta saya, dan jalan tol menjadi jalur pengembaraannya.

Berkesempatan mendarat di New Delhi dan menyesap udara di tengah malam, saya mau tidak mau harus merasa heran dengan kenampakan kabut yang menggantung di langit malam. “Peh, kamu ngerasa udaranya aneh ngga sih?” sontak pertanyaan kawan saya menjadi misteri hingga beberapa hari ke depannya. Ke manapun kami pergi, baik itu di kota maupun di perdesaan, kabut misterius itu tetap menggantung.

“Mas, itu apaan? Asap?”

“Iyalah, itu asap dari polusi gitu.”
“Oh, separah itu yah asap kendaraan bermotor? Kok sampe jam segini?”
“Bukan, itu gara-gara cara mereka beribadah kan.”
“Dupa-dupaan gitu? Oh, pantesan baunya agak aneh”
“Lebih ke asap bakar mayat sih… Budaya mereka di sini kan gitu”
“…..”

Satu di antara alasan yang mengemuka saat itu adalah tentang asap upacara pembakaran mayat, yang membuat saya cukup tercengang ketika itu. Sebanyak itukah sehingga bisa menutupi bintang-bintang di angkasa? Ah, rupanya tidak. Faktanya menyebutkan, New Delhi memang merupakan salah satu kota yang memiliki tingkat polusi udara paling tinggi di dunia. Kalau merujuk pada informasi dari urbanemissions.info, sumber polusi di New Delhi 30% nya berasal dari kendaraan bermotor, masing-masing 20% dari biomass burning dan sektor industri, sisanya berasal dari debu, generator diesel, pembakaran sampah maupun pembangkit listrik. Terbukti, bukan asap dari upacara pembakaran mayat yang mengkontaminasi udara di India selama 24/7.

Lalu lintas di Kota New Delhi
Malam berganti pagi, dan saya beranjak pergi dari Indira Gandhi International Airport menuju Kota Chandigarh, yang berada di wilayah Punjab. Wilayah ini berada di bagian utara daratan India, dan penduduknya memiliki kekhasan tersendiri. Mayoritasnya merupakan penutur bahasa Punjabi dan penganut agama Sikh. Secara kasat mata hal ini bisa dibedakan dari penampilan kaum lelakinya yang menggunakan semacam surban di kepala, sebagai salah satu bentuk kepercayaan mereka. Sementara kaum perempuannya tidak berpenampilan begitu berbeda, hanya saja mereka lebih jarang menggunakan sari dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan menuju Kota Chandigarh ini lah yang memberikan kesan pertama akan India. Sepanjang perjalanan, bunyi klakson kendaraan tidak pernah berhenti memekik, tidak kurang selama 6–7 jam perjalanan di jalan tol yang menghubungkan New Delhi dengan kota tersebut. Mengapa bisa? Gampangnya, di malam hari, kendaraan-kendaraan beratlah yang banyak melintas, dengan angkutan penuh sehingga mereka melaju dengan kecepatan cukup lambat. Sementara itu, mobil van yang saya tumpangi melaju dengan kecepatan rata-rata 60–70 km/jam, yang mana berarti, sangat mudah bagi sang supir untuk menyalip kendaraan lainnya. Nah, kendaraan yang menyalip terbiasa untuk membunyikan klakson mereka, bahkan dari sebelum hingga mereka berhasil menyalip kendaraan lain! Jadi bayangkanlah, di jalan yang ramai, ketika mobil van saya menyalip atau disalip, akan selalu ada bunyi klakson yang nyaring terdengar.

Salah satu sudut Chandigarh University, Chandigarh
Pusing? Iya. Untungnya, Kota Chandigarh menjadi obat dari kepusingan saya atas kebisingan di perjalanan. Sebuah berkah tersendiri ketika menyadari bahwa Kota Chandigarh ini adalah kota paling terencana di India, karena dibangun atas dasar masterplan yang jelas dan memiliki pemerintahan kota yang dinilai cukup baik oleh beberapa kawan di sana.

Adalah Le Corbusier, seorang arsitek kawakan asal Perancis yang memiliki andil besar dalam perencanaan Kota Chandigarh. Ia dan timnya mengaplikasikan sebuah kombinasi antara konsep Radiant City yang diusungnya dengan konsep Garden City yang diperkenalkan oleh Ebenezer Howard. Dari kursi saya di balik jendela van yang saya tumpangi, ciri-ciri Garden City terlihat lebih dominan. Sepanjang sisi jalan dan median jalan ditumbuhi oleh tanaman yang terawat, jaringan jalannya berbentuk grid dengan roundabouts yang membagi kota ini dalam blok-blok tertentu. Selain itu, kota ini memiliki beragam taman kota sebagai ruang publik yang aktif sekaligus membatasi sisi-sisi terluar wilayahnya.

Barulah setelah melihat lebih detail ke balik deretan tanaman ke dalam blok-blok bangunan, nampaklah bagaimana penerapan konsep Radiant City yang menekankan pada efesiensi fungsi kota dengan integrasi bangunan-bangunan yang ada. Secara umum, keberadaan blok-blok bangunan mempermudah pengaplikasian pola dan struktur ruang kota serta menciptakan keteraturan yang lazim ditemukan dalam kota yang berasal dari sebuah garapan masterplan.

Sampai saat ini, rencana Kota Chandigarh terus dikembangkan untuk memenuhi tantangan zaman yang berubah. Terdapat beberapa isu yang perlu dijawab oleh kota ini, seperti bagaimana mengatasi arus urbanisasi dan mengakomodasi kebutuhan penduduk yang terus bertambah. Menarik maka, untuk mengikuti bagaimana langkah yang dilakukan kota ini untuk mengatasi potensi permasalahan ketersediaan perumahan, transportasi publik, serta fasilitas umum dan fasilitas sosial lainnya.

Begitulah Chandigarh, setelah menghabiskan waktu dua hari di sana, akhirnya saya harus kembali ke New Delhi untuk memenuhi tujuan utama saya berkunjung ke India. Jalan yang berdebu menjadi saksi bagaimana India, seperti halnya Indonesia, masih berjuang membangun negaranya, dan bagaimana pembangunan itu terkadang menyebabkan permasalahan baru. Banyak hal yang saya anggap asing di sepanjang perjalanan. Salah satunya yang saya masih tidak habis pikir, mengapa di tengah-tengah ketiadaan kemudian muncul kompleks bangunan yang ternyata berfungsi sebagai universitas ataupun pabrik industri. Memunculkan tanya, bagaimana mereka membangun infrastruktur dengan efisien dan bagaimana mereka merencanakan perkembangan wilayahnya.

President House
Yah, akhirnya saya harus beralih dari sebuah kota yang terencana, menyeberang kawasan perdesaan, menuju sebuah kota metropolitan. Kepadatan lalu lintas New Delhi ramah menyambut siapapun yang berkunjung. Kota ini memamerkan kemegahan dan kemewahan, menunjukkan kehebatan peradaban masa lalu, serta menjanjikan modernisasi dan perbaikan kualitas hidup. Namun, di sisi lain juga memamerkan kesederhanaan hingga kesemrawutan, menyisakan masalah-masalah kota, dan keras menggerus orang-orang yang tidak bisa beradaptasi dengan ritme kehidupan kotanya.

Saya mendiami hotel di kawasan Gurgaon, yang mana berada di sebelah selatan kota ini. Dari New Delhi, kami dapat dengan mudah mencapainya melalui highway. Kawasan ini cenderung lebih lengang dibandingkan di tengah kota. Di sebelah baratnya, terdapat kawasan lain yang disebut Cyber City. Isinya? Perusahaan-perusahaan global seperti IBM, Google, dsbg. Apabila lingkungan hotel saya terlihat seperti kawasan Glodok, tetapi bmaka kawasan Cyber City ini memberikan kesan modern dan nyaman untuk ditinggali, dengan gedung-gedung bertingkat dan jalanan yang indah.

Kalau kita ibaratkan pengalaman berada di New Delhi dengan rasa permen, maka rasanya berada di New Delhi, seperti makan permen nano-nano. Hampir setiap hari saya bepergian dengan bus dari hotel menuju venue acara yang berada di tengah kota New Delhi. Ini berarti, hampir setiap hari saya membelah kota ini. Saya tidak lagi heran dengan lalu-lalang orang yang berjalan kaki dan menyeberang jalan hampir di setiap ruas jalan. Pun sudah terbiasa dengan percampuran pemandangan sapi yang berseliweran, manusia yang rebahan di trotoar serta anjing-anjing berkeliaran yang pada mulanya saya anggap janggal. Hingga tidak lagi merasa kasihan melihat mobil-mobil baru yang tidak lagi nampak mulus dan berdesakan di jalanan.

Geliat ekonomi di salah satu sudut kota
Ah, belum lagi kita membahas dimensi tata ruangnya. Indah sekali melihat lingkungan sekitar Kedutaan Besar Indonesia, yang dekat sekali dengan kediaman Jawahalrar Nehru (sekarang menjadi Nehru Planetarium dan Nehru Museum). Bangunan-bangunannya megah berdiri bercorakkan arsitektur kolonial Inggris yang berpadu dengan arsitektur khas timur yang dipengaruhi budaya Hindu dan Islam. Museum, monumen, kuil, terawat dan dikelola menjadi objek wisata yang menarik. Taman-tamannya membentang tidak kalah bagus dengan taman di Kota Chandigarh. Ditambah lagi adanya hutan kota yang ehem, kita jarang punya.

Namun di sisi ekstrim yang lain, ada slum area, ada trotoar yang tidak terawat, ada pasar yang kumuh, ada kemacetan yang menghantui, ada bangunan yang hancur tidak terurus. Begitulah sehingga seakan-akan kita melihat ada kemiskinan yang terpampang di jendela kemewahan.

Di depan sebuah pasar sayur dan buah di Okhla, setelah gagal bertransaksi karena keterbatasan bahasa


Terakhir, marilah kita meninggalkan New Delhi dan rehat sejenak mengunjungi Agra. Tempat satu dari tujuh keajaiban dunia yang dahulu kita hafalkan ketika kecil di lagunya Sherina. Taj Mahal!

Saya tidak bisa berkata banyak tentang Agra, terlalu lelah dan lemah saya sehingga kebanyakan tidur di bus dalam perjalanan. Satu hal yang bisa saya pastikan, kota ini akan memanjakan fantasi Asia daratan bagi Anda yang tertarik. Berkunjunglah, sesap dalam-dalam udaranya, rasakan berada di India tempo dulu, sambangi peninggalan-peninggalan sejarahnya, bercengkerama dengan segenap penduduknya.

Kubah Taj Mahal, dibayarkan dengan tiket masuk seharga 1000 rupees
Ah, mungkin saya mulai bisa merasa rindu untuk kembali berkunjung. Semoga lain kali, saya tidak hanya menjadi penonton kehidupan di balik jendela dan komentator di laman pribadi.
Terimakasih India, atas pelajarannya tentang penghargaan akan kehidupan.

p.s. kalau ada yang mau mengajukan pertanyaan tentang bagaimana saya mengurus perjalanan ke India, silahkan kontak saya secara pribadi.

September 11, 2017

Ekspedisi Ujung Barat Indonesia: Pengenalan dan Perkenalan

“Mbak, aku mau KKN di tempat mu, dong!”

Hehe, yakin? Nanti kamu ngga bisa mainan kartu, ngga boleh pakai celana pendek di luar rumah, ngga bisa bikin acara dangdutan, dan harus prihatin kalau mau seru-seruan sendiri di posko. Yah, sebenernya ngga gitu banget juga sih, tapi intinya, seperti keinginanmu mengabdi ke tempat-tempat lainnya di penjuru Indonesia, selalu ada yang harus dikorbankan dan kamu harus berusaha untuk beradaptasi dengan lingkunganmu.

Kalau kamu tanya pengalaman KKN aku seru atau engga, maka aku akan bilang, seru! Walaupun seru versi aku dengan seru versi kamu, dan seru versi orang-orang lain pasti berbeda. Karena kalau aku dengar cerita tim-tim lain, mereka mungkin punya lebih banyak hal baru dan menarik untuk diceritakan.

Pelabuhan Jurong Mustika Kolam Bermata

Kehidupan KKN aku biasa-biasa saja, percayalah! Kelompok aku ngga mengalami drama kehidupan yang menghebohkan pun terlalu tidak biasa. Kami hidup pada umumnya orang hidup, di ruang waktu yang lebih lambat satu jam dari waktu Indonesia bagian barat yang biasa kami rasa. Di pulau kecil yang secara administratif diakui sebagai kota, tetapi kota fungsionalnya hanya ada di satu sudut saja dan sisanya adalah hutan perbukitan. 

Pada awalnya, rasanya serba excited! Dalam perjalanan menuju Sabang, kami singgah di Kota Banda Aceh yang memikat mata dan menyejukkan hati, Bung! Betapa bahagianya warga lokal Pulau Jawa satu ini bisa menginsafi keindahan Masjid Baiturrahman di malam Bulan Ramadhan. And that excitement grows until we arrived on Sabang, yang hijaunya pepohonan di perbukitannya berpadu dengan gradasi biru lautan dan sang langit siang, bikin jatuh hati di pandangan pertama.
Tapi sebentar, panasnya luar biasa, Bung! Semoga mereka memaafkan aku dan kawan-kawan; Mamak, Ayah, di awal pertemuan itu bukannya kami tidak ingin beramah tamah dan memulai perkenalan kita dengan sesuatu yang baik. Namun, siapa yang tahan dengan teriknya matahari di siang itu? Untunglah Mamak dan Ayah pengertian dan mempersilahkan kami beristirahat sampai adzan memanggil tuk berbuka.

Keresahan pertama yang benar-benar aku rasakan adalah, ternyata jadi anak desa itu, hidupnya selo! Di Bulan Ramadhan itu, tidak banyak program yang bisa dilakukan. Mana bisa kalau sekolahan libur, TPA libur, toko-toko tutup siang buka lagi malam. Mau eksplor ngga punya kendaraan, ngga kuat jalan naik turun bukit, aih, gampong ini terlalu luas untuk dijelajahi dengan kaki di siang bolong. Pun novel yang aku bawa dari rumah terlalu cepat berganti halaman dan mencapai akhir kisah fiksinya. Sungguh, rasanya waktu berlalu lambat dan kegabutannya begitu menyesakkan. Namun di sela selo itulah aku mulai berkenalan dengan Gampong Krueng Raya dan segenap isinya. 

Kalau kamu tanya kesan pertama aku sama gampong (desa) ini apa? Absurd! Ini desa apaan kok rumah-rumahnya kaya perumahan? Tipenya sama, atapnya serasi, jalanannya grid. Beuh, udah macam di kota aja. Dan kenyataannya, di turunan pertama menuju pondokan, aku melihat apa yang aku lihat di peta citra itu ternyata adalah sebuah kenyataan. Kompleks perumahan itu dibangun oleh pemerintah kota untuk mengakomodasi para nelayan (sebagian penduduk asli dan sebagian korban penggusuran akibat proyek pelebaran jalan di Kota Sabang) maupun korban tsunami Aceh 2004. Kompleksnya tersebar di beberapa lokasi dalam beberapa jurong (dusun). Kompleks nelayan hanya ada di Jurong Mustika Kolam Bermata, sementara kompleks tsunami ada di Jurong Teupin Ciriek, Jurong Mustika Kolam Bermata dan Jurong Ilham Syukuran. Di dua jurong lainnya dalam gampong ini, yakni di Jurong Batu Singa Berfakta maupun Jurong Lhok Drien, rumah-rumah yang ada tumbuh secara organik, seperti pada umumnya di desa-desa.

Pondokan aku sendiri, adanya di Kompleks Nelayan, Jurong Mustika Kolam Bermata. Tepatnya di lorong (gang) kedua, persis setelah SD yang katanya kena terjangan tsunami dulu, jadi kalau ada tsunami lagi (yang alhamdulillahnya tidak), entah apakah rumah kami selamat atau tidak. Setiap pagi apabila aku terbangun pagi dan cukup nyali melangkah keluar rumah menyambut udara yang dingin, aku akan menemukan dua anjing tetangga yang berkeliaran di jalanan, tempat nongkrong mamak di bawah pohon rambutan alasnya basah karena embun, orang-orang mulai keluar rumah untuk nyapu halaman, dan selebihnya sepi, hanya terkadang ada kendaraan lewat di jalan di atas bukit yang terdengar hingga ke lembah ini. 


Gg. Delima, yang sebelah kiri pondokan saya


Di dalam sebuah rumah sederhana, yang dindingnya terbuat dari papan kayu sehingga suara-suara tidak tertutupi dengan sepenuhnya. Di situ aku tinggal bersama tiga orang saudari KKN, tiga saudari asuh, mama yang sangat perhatian dan ayah yang paling ganteng di rumah. Dari sanalah kisah setiap hari pengabdianku bermula.




----
Untuk dilanjutkan kemudian


June 22, 2017

Ekspedisi Ujung Barat Indonesia: Sebuah Pengantar



"bismillah"
pangkal segala kebaikan,
permulaan segala urusan penting,
dan dengannya juga
kita memulai segala urusan.
-Badiuzzaman Said Nursi-

Apabila saya sempat berwacana untuk menerbitkan rubrik baru di sini, maka insyaAllah inilah bentuk ikhtiar untuk mewujudkan niat iseng saya tersebut. Hal ini semata-mata sebagai salah satu ungkapan syukur atas kesempatan dapat bertualang KKN ke Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam.

Jogjakarta-Cengkarang-Kualanamu-Banda Aceh-Sabang. 2.257 km, dan kurang lebih 6 jam perjalanan udara, 12 jam transit dan 1 jam perjalanan melintas selat benggala. Bermulalah pembelajaran saya di ujung barat Indonesia, di tanah yang menerapkan syariat Islam, di rumah yang dibangun kembali setelah diterjang tsunami, bersama masyarakat pesisir Samudera Hindia.

Dalam pada 50 hari ke depan, nikmatilah segenap kisah dari saya.

Salam,

January 22, 2015

Girls Day Out

Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu berkesempatan buat sedikit menjelajah Solo-Salatiga-Semarang. Walaupun kami pergi berlima cewek-cewek semua, liburan kali ini tetep kece.

Lawang Sewu, Semarang

Sam Poo Kong, Semarang

Kampung Laut, Semarang


March 18, 2013

Mendung Menggantung



Ketep, Magelang, Jawa Tengah, bareng anak-anak Padmanaba 69 & 70, didera kabut dan hujan, mengalamai kram pantat yang nggak ada habisnya, tapi perjalanan ini adalah perjalanan yang paling taktunggu.
Oke, jadi sebenarnya saya libur seminggu kemarin sampai Hari Selasa besok ini gara-gara kelas XII lagi ujian sekolah. Rencana-rencana berwisata datang dan pergi selama itu, tapi hampir nggak ada yang kelakon kecuali ini. Nasib.


Pagi ini kami berangkat jam 10 tepat dari Kotabaru, lewat Jalan Magelang kemudian menuju ke timur lewat Jalan Mungkid-Boyolali (masuk di Blabak) sampai akhirnya bertemu jalan masuk Ketep Pass (petunjuk jalan terpampang jelas sepanjang jalan, lokasi sudah ter-tagging di Google Map juga). Perjalanan kurang lebih makan waktu 1,5 jam, cukup melelahkan karena medan Jalan Mungkid-Boyolali yang khas pegunungan dan kondisinya sudah tidak apik.


Dengan tarif masuk Ketep Pass Rp 7.000,00 per orang, pengunjung dapat menikmati Museum Gunung Merapi, Gardu Pandang, dan Volcano Theatre, semuanya didukung fasilitas pendukung seperti Mushola, Toilet, Lahan Parkir, kios cenderamata dan warung makan yang semuanya dikelola dengan baik.


Ketep Pass sebenarnya terkenal karena di sini pengunjung bisa menikmati pemandangan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Sayangnya, siang tadi mendung menggantung di langit menutupi puncak kedua gunung tersebut. Yah kami harus puas melihat sebagian kecil keindahan mereka yang tidak tersembunyi. Kami singgah nggak begitu lama, berfoto, mengisi perut, sholat dhuhur, kemudian kabut menyelimuti daerah Ketep sehingga kami akhirnya memutuskan untuk pulang saja. 


February 6, 2013

Laguna Goo

Rindu masa-masa liburan  bareng sekeluarga? Mau tak bikin iri sedikit?
Beberapa waktu yang lalu waktu libur Maulud Nabi Muhammad SAW, bapak ngajak pergi sekeluarga ke Pantai Glagah, Kulonprogo. Rencananya dadakan sih, karena baru dikasih tau malam sebelumnya, alhasil ada beberapa agenda yang perlu diundur ke belakang, yasudah nggak masalah.

packing, loading
Buat yang belum tau tentang Pantai Glagah, pantai ini adalah salah satu pantai di deretan pesisir selatan Pulau Jawa, tepatnya di sebelah selatan Kota Wates, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah memasuki pos retribusi pantai, kita bisa lihat ada calon pelabuhan di sebelah kiri muara sungai. Berbelok ke kanan, ada hamparan batu pemecah ombak yang melindungi pantai di sebelah kanannya, di sinilah biasanya wisatawan berkunjung. Uniknya Pantai Glagah, kita nggak bisa langsung mencapai pinggir pantai, karena adanya laguna yang menghalangi kita dari gundukan pasir yang kita sebut pantai itu sendiri. Fasilitas yang ada di tempat ini cukup memadai, tersedia tempat parkir bagi wisatawan yang membawa kendaraan dan bagi yang pengen nyeberang ke gundukan pasir di seberang laguna Pantai Glagah, ada beberapa perahu yang disewakan. Kalau memilih untuk terus menelusuri jalan ke arah barat, banyak tempat tersedia untuk beristirahat yang juga berada persis di tepian laguna. Di sepanjang jalan ini banyak pula penginapan, rumah makan, dan kebun-kebun buah naga. 

laguna Pantai Glagah
Sebenernya tujuan bapak ngajak ke Pantai Glagah waktu itu simpel aja, cuman mau makan siang di luar. Dari pagi ibu udah sibuk nyiapin bekal makanan untuk bakar-bakaran. Selesai semua dikemas, kami berangkat. Nggak berapa lama sekitar 1,5 jam perjalanan udah sampai di pos retribusi masuk. Nyari-nyari tempat di pinggir laguna yang teduh, nggak begitu ramai dan intinya enak untuk istirahat. Mobil diparkir, alas digelar, makanan ditata, alat bakaran siap, duduk manis, mulai makan!

duduk manis, mulai makan!
Nah, tujuan utama udah tercapai kan, habis itu masih sempet main-main sebentar. Tapi nggak berapa lama, angin yang pertamanya sepoi-sepoi mulai berubah kencang dan mendung menggantung di atas laut. Udah waktunya pulang, daripada piknik kami jadi piknik kebasahan. Akhirnya setelah membereskan barang bawaan dan memastikan nggak ada sampah yang tertinggal, kami cus pulang ke Jogja. Berikut beberapa gambar sekitaran Pantai Glagah.





Secara keseluruhan, kawasan wisata ini tergolong dirawat dengan cukup apik, terbukti dengan tersedianya fasilitas yang cukup memadai, akses jalan yang mudah dan tidak banyaknya gundukan-gundukan sampah yang mengganggu pemandangan. Tapi, karena kawasan ini masih dalam tahap pengembangan, sepertinya perlu ada rencana pembangunan dan pengelolaan yang terkoordinir, kalau nggak, yaaaah, wassalam deh.

November 15, 2012

Cloudy Parangndog

30 km motoran pagi-pagi setelah tidur nggak lebih dari 1 jam? Dari tengah Kota Jogja sampe ujung timur Parangtritis? Worth it bro!




November 12, 2012

ESCAPADE

Jawa Timur yang nggak bakal terlupa
Kalau sebelumnya aku cuman sambil lalu cerita, now get ready for the detailed one!

Batch 1, Malang, liburan keluarga
Jarang-jarang punya waktu luang sekeluarga, akhirnya disempet-sempetin deh habis UKK kemarin liburan ke Malang. Naik mobil jedag-jedug di dalem, kamera siap, peta dan GPS di tangan, makanan tinggal comot. Life is wonderful. Dalam 3 hari 2 malam (termasuk perjalanan) meng-eksplor Malang cukup buat nikmatin kota yang ternyata nggak sekecil dan sesepi yang aku bayangin. Tujuan wisata? Standar aja sih, Selecta, Jatim Park, BNS, kebun apel, silaturahmi, etc. Sama seperti wisatawan-wisatawan lainnya. Walau sering masuk angin yang bikin nggak begitu nafsu makan, tapi rasa makanan Jawa Timur cukup menggugah lho. Itu pertama kalinya aku tau ada makanan yang namanya krengsengan, ngerasain bakso malang asli di asalnya, rawon harga travel rasa hotel, pecel Jawa Timur komplit super pedas, mabok jus buah segar dan keripik tempe, ngerasain sate ayam Ponorogo pojok alun-alun Ponorogo, dll. Well, Malang punya banyak potensi wisata yang sangat-sangat perlu dikembangkan, next time I visit Malang, semoga pariwisatanya jadi lebih maju dan penataan kotanya jadi lebih baik.

Batch 2, Taman Nasional Alas Purwo, Ekspedisi PHC
Before everything else, I must say that this is the best thing that happened this year. Nggak berlebihan lhooo, karena buat mengadakan kegiatan ekspedisi ini bukannya gampang dan tanpa perjuangan. Hasilnya? sungguh-sungguh nggak mengecewakan. Setelah brainstorming cukup lama buat menentukan tempat, terpilihlah TN Alas Purwo sebagai tujuan ekspedisi 2012. Pernah coba cari informasi tentang Alas Purwo di Google? Yakin deh mayoritas isinya mistis semua. It bothered us so much in the beginning, dan bahkan sampe bikin kami pengen mundur pas nyaris nyampe di lokasi. Karena mendengarkan cerita dari orang-orang secara langsung jauh lebih terasa mencekam daripada cuman mbaca di layar laptop. Tapi nih, selain dari mistisnya yang diekspos banget, keindahan alamnya nggak main-main ternyata.
Rombongan ekspedisi PHC jumlahnya ada 11 orang, 2 orang berangkat duluan tanggal 1 Juli, dan sisanya nyusul tanggal 3 Juli nya. KA Ekonomi Sri Tanjung lah yang nganterin kami dari Stasiun Lempuyangan, Jogja sampe Stasiun Banyuwangi Baru, Banyuwangi. Karena larut malam nggak ada kendaraan yang bisa ngangkut kami ke Alas Purwo (dan nggak bayangin nyampe sana jam 12 malem bentukannya kayak gimana), semalaman kami istirahat di depan stasiun. Gossipnya sih di sini nggak aman karena ada pencuri yang ngincer barang berharga punya penumpang yang ngabisin malam mereka di sekitaran stasiun, fortunately, pas kami nginep ada petugas polisi jaga jadi nggak kecolongan deh (dan perjuanganku begadang was such a waste).
Paginya, kami bisa ngelanjutin perjalanan ke Rowobendo, pintu gerbang Alas Purwo di Kalipait, naik kol charter-an dari stasiun. Perjalanannya cukup makan waktu, karena begitu ngelewatin kantor balai Taman Nasional, jalannya hancur gila. Jangan tanya persisnya gimana jalan menuju ke Rowobendo, 10 km sebelumnya (dari balai), rasanya kayak dikocok-kocok dalem kol kaleng. Lega banget ketika sampe di gerbang taman nasional, penjaga hutan yang jaga nyambut kami dan mempersilahkan kami ke pesanggrahan trianggulasi tempat kami nginep, setelah melakukan registrasi.
Kondisi jalan di dalam Alas Purwo emang mayoritas masih berupa tanah dan batuan kecuali jalan menuju G-land. Tapi di sini, kalo cukup beruntung bisa ngeliat satwa yang lagi  melintas. Kami beruntung banget bisa liat segerombolan ajag, banyak sekali monyet, beberapa tupai, dan lebih dari sekali liat gerombolan rusa lari nyeberang. Even if you're not that lucky, you can still hear their sounds if you walk quietly enough.
Pesanggrahan Trianggulasi yang letaknya beberapa ratus meter dari pantainya fasilitasnya lengkap banget! Kalo buat kami, tempat ini udah kayak hotel di dalem hutan. Tidur enak, makanan berlebih, listrik nyala, air nggak pernah habis, kamar mandi bersih, bahkan setelahnya tempat ini kerasa lebih enak daripada penginapan yang kami sewa di deket stasiun pas mau pulang, padahal tarifnya beda jauh lho. Pengelola pesanggrahan juga sangat baik sama kami, ada Mbah Gunung dan teman-teman, terus juga patroli hutan yang kadang mampir, dan kebanyakan penjaga hutan yang pernah ketemu kami pasti tau di mana kami nginep dan kadang-kadang ketemu di sini.
Di hari kedua Ekspedisi ini, tujuan kami adalah melakukan pengamatan satwa di Sadengan Feeding Ground  yang jaraknya kira-kira 5 km, ditempuh dengan berjalan kaki. Pada jam-jam tertentu, pengunjung bisa mengamati satwa yang lagi mencari makan atau sekedar bencengkerama, antara jam 8 pagi atau bisa juga jam 3 sore. Di sini disediakan fasilitas berupa pondok pusat informasi, di mana kita bisa ngobrol sama para penjaga hutan, juga sebuah menara pengamatan setinggi 12 m jadi bisa ngeliat dengan sudut pandang lebih luas. Kontur dari Feeding Ground yang berupa padang rumput luas yang rumputnya subur karena diairi terus-menerus dan dikelilingi perbukitan lah yang membuat satwa berkumpul di sini setiap harinya.
Sekembalinya dari Sadengan, kami memutuskan untuk menikmati sunset di Pantai Trianggulasi sebelum membersihkan diri. Tempatnya sungguh-sungguh menyenangkan! Ombaknya damai, mataharinya yang udah mulai tenggelam di balik deretan pantai sebelah barat, dan pasir putihnya yang nggak kalah menawan. By the way, bahkan di daerah hutan pantai ini kami nggak sengaja nemu seekor rusa, walaupun keliatannya dia kehilangan rombongannya. Still, it was a great surprise.
Lanjut ke hari ketiga, kali ini giliran Ngagelan kami jambangi. Kalau dihitung-hitung, jarak Trianggulasi-Rowobendo 2 km, jarak Rowobendo-Ngagelan 6 km, jadi kalau ditotal bolak-balik, ya lumayanlah. Syukur sih, karena jalan sekian km itu nggak sia-sia, di Ngagelan, walaupun cuma sebentar mampirnya, kami sempat melihat-lihat dan mengamati tempat pengembangbiakan tukik ditemani salah seorang petugas jaga di sini. Jadi begini ceritanya, garis pantai sebelah selatan Alas Purwo dari Cungur sampai Pancur sepanjang 18 km itu merupakan tempat pendaratan dan peneluran 4 jenis penyu dari 7 jenis yang ada di dunia. Hampir setiap malam, ada petugas Taman Nasional yang bertugas 'lelar' atau patroli telur penyu. Nanti setiap nemu telur penyu, bakal diambil dan ditetaskan di fasilitas pengembangbiakan penyu yang ada di Ngagelan, setelahnya tukik-tukik pun juga dikembangbiakan di sini untuk nantinya dilepas ke laut.
Walaupun hari ketiga sangat melelahkan, di hari keempat kami kembali bersemangat untuk ikut berpatroli hutan di kawasan Sadengan. kalau sebelumnya kami cuma menikmati Sadengan dari luar pagar pembatas, sekarang kami diperbolehkan masuk bersama 2 orang penjaga hutan. Bapak-bapak ini sudah belasan tahun ternyata mengabdi di TN Alas Purwo, bahkan sebelum TN ini dipisahkan dengan TN Baluran. Menjadi sebuah berkah diajak patroli bareng mereka, karena wilayah ini seperti kekuasaan beliau-beliau ini. Ketika patroli, kita mendata pertemuan kita dengan flora dan fauna. Selain mendapat ilmu dan cerita, pemandangan yang kami liat juga luar biasa. Those animals were just a few feet from us, watching intensely as if considering are we their friends or their foes. We could even touch their poop on the ground! eeek
Lanjut nih hari ke-5, naik Grandong (truk angkutan barang rakitan sendiri) kami muter-muter Alas Purwo, dari ujung Bedul di mana kami nelusurin sungai dan hutan mangrove sampai Pantai Pancur yang merupakan salah satu tujuan wisata G-Land. Puas banget rasanya, tapi sayang karena setelah muter-muter, sorenya harus balik ke Banyuwangi supaya besoknya bisa ngejar Kereta Sri Tanjung yang mbawa kami pulang ke rumah di Jogja.
Ekspedisi PHC emang nggak ada duanya, nggak rugi ninggalin adek yang lagi sunatan demi bisa mengunjungi Alas Purwo. Terimakasih banyak atas pengalaman dan semangat perjuangan pelestarian lingkungan hidup yang ditularkan ke kami. Kalau aku, dilain kesempatan mungkin bakal berusaha mengunjungi tempat ini lagi, karena yang udah kami jelajahin waktu itu baru sekelumit kecil dari berhektar-hektar tanah Alas Purwo yang setiap jengkalnya menjanjikan pengalaman yang baru dan nggak perlu diraguin lagi keasyikannya. Tertarik? Just pack your bag and go! 


N.B. Dokumentasi menyusul