Showing posts with label tutur. Show all posts
Showing posts with label tutur. Show all posts

October 6, 2018

What's the Purpose of Your Life?

Akhir-akhir ini saya sering gamang akibat persoalan hidup. Mungkin orang akan bilang inilah yang dinamakan quarter life crisis. Masa di mana seseorang dihadapkan pada pilihan-pilihan kehidupan yang belum pernah dia ambil sebelumnya, dan akan menentukan ke arah mana bahtera hidupnya akan melaju.  

Waktu itu ada seorang kawan yang pernah bertanya-tanya tentang kehidupan, di masa-masa ketika saya sedang mencari makna kehidupan. Jawaban-jawabannya bisa dilihat di sini, berikut juga jawaban dari berbagai kawan (yang rasanya kok lebih keren ya! padahal sebetulnya bebas aja sih mau mendefinisikan kehidupan seperti apa ahaha). Setelah dibaca kembali bertahun kemudian, sepertinya saya kok hidup untuk diri sendiri? 
Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah
Al-Qur’an 3:110
Nah, setelah saya menggali-gali lebih dalam sedikit, saya ketemu dengan satu ayat ini dengan tidak sengaja (di sebuah form online evaluasi wajib bulanan sebuah beasiswa, nahlo). Rupa-rupanya, saya yang ngga keren ini adalah bagian dari umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Syaratnya mudah kok, menyuruh ke yang makruf (yang baik), mencegah dari yang mungkar (yang buruk), dan beriman kepada Allah. Cukup sampai situ dulu.

Di suatu waktu, saya pernah diskusi dengan seorang kenalan, salah satu mahasiswa di University of Queensland yang sempat datang ke Yogyakarta untuk mengikuti kegiatan Joint Studio antara UGM dengan UQ. Kebetulanlah maka kami bertemu di acara tersebut. Beliau ini muslim dan aslinya dari suatu negara di Afrika yang sayangnya saya juga lupa apa namanya karena susah… bentar Google dulu. Mungkin antara Sierra Leone atau Burkina Faso, maaf saya lupa betul. Tapi poinnya ngga di situ. 

Di malam terakhir kami mengadakan farewell dinner, kami berdua tiba-tiba asyik mendiskusikan takdir, daripada melongo di pinggir meja. Kebetulan sekali, waktu-waktu belakangan, saya dipertemukan Allah dengan banyak sekali orang. Dan sesungguhnya mereka memberikan kesan yang cukup mendalam pada kehidupan. 

Lucunya, sebetulnya kita tidak akan pernah tahu kapan dan dengan siapa kita akan beririsan takdir. Siapa yang akan kita temui, dengan alasan apa kita bertemu, apa yang akan kita dapatkan dari pertemuan tersebut. Kita ngga bisa dengan sendirinya menentukan, karena sebetulnya pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari takdir, walaupun takdir bisa diperjuangkan. Namun, selayaknya takdir, semuanya adalah misteri, namun di dalam misteri itulah terletak keindahannya. 

Maka kemudian berkaitanlah bahasan pertemuan dan perpisahan ini dengan ayat yang saya kutip di atas. Pernahkah bertanya pada diri sendiri, apa akibat dari pertemuan kita dengan orang lain? Apakah kita bisa memberikan kebaikan kepada orang yang kita temui, ataukah kita justru menyebabkan kerusakan? Sudahkah kita berusaha untuk mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dalam singkatnya waktu pertemuan kita?

Pada akhirnya ini menimbulkan segenap tanya bagi diri saya sendiri.

Salam


June 27, 2018

Ketika Jogja Ditinggal Mudik


Kendaraan roda dua yang biasanya memenuhi jalanan manggrok di dalam pagar kos-kosan. Pemiliknya pergi setelah memastikan kamar kosannya bersih dan rapi, barang bawaannya tidak tertinggal, sembari menyangking oleh-oleh bakpia untuk handai taulan di kampung halaman. Hanya sempat sekilas menengok pintu kosan yang tertutup rapat, mengunci motor dan menutup lubang kuncinya, tergesa tidak sempat berpamitan dengan pemilik kosan yang toh kemungkinan tidak ada di rumah karena sudah ditunggu tukang ojek online

Jalanan lengang, mobil-mobil berplat AB mulai digantikan dengan beragam plat yang lain, tapi aduh mereka tidak bisa menggantikan keramaian yang absen dihadiri para perantau. Beberapa rumah makan bersaing dengan restoran cepat saji setia melayani segelintir orang tidak beruntung yang bertahan di kota ini selama hari raya. Sementara para aa’ burjo meninggalkan warung mereka dan meninggalkan tanah jawa, dan ibu-ibu laundry menutup jasa mereka untuk sementara waktu. 

Alih-alih mahasiswa lokal, kini populasi mahasiswa yang merantau ke luar Jogja sepertinya lebih banyak. Tapi toh barista kedai-kedai kopi menikmati liburan singkat mereka, tak perlu meladeni mahasiswa yang kebanyakan nugas sembari nongkrong, Menjeda diri dari rentetan keluhan banyaknya laporan dan jadwal ujian yang tidak manusiawi. Para mahasiswa tingkat akhir pun bisa sejenak bernapas dan melupakan beban tugas akhir mereka, hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan “kapan lulus?” dan buntutnya yang lebih panjang. Kampus? Jangan ditanya. Hanya daun-daun berguguran yang mau memenuhi kekosongan di dalamnya. Bahkan Pak Satpam pun enggan menjaga portal dan menutupnya biar mereka yang mau bernostalgia berjalan kaki saja masuk ke dalam rimbanya. 

Walaupun bus-bus trans jogja sepi penumpang, mereka bertahan melakukan putaran rutin yang kini tidak mengantarkan siapa-siapa. Orang-orang lebih memilih meramaikan tempat wisata dengan kendaraan pribadi yang sudah menempuh puluhan hingga ratusan kilometer untuk mencapai rumah. Tempat pulang hanya bagi mereka yang pernah merasa tinggal di sana, bukan bagi pasangan atau keturunannya yang merasa rumah hanyalah tempat singgah dan mudik adalah perjalanan untuk bepergian. 

Letusan-letusan mercon bersaing dengan ledakan-ledakan kembang api yang memeriahkan malam lebaran. Bunyinya sejenak memutus gema takbir dari toa masjid-masjid setempat, hanya untuk mengizinkannya kembali bersambung. Sementara mereka yang tinggal di lingkungan perumahan penuh dengan orang-orang tua tidak diizinkan untuk nyumet keduanya, kertas-kertas bekas mercon beterbangan di sisi jalan keesokan harinya. 


Aduh sampah! Ada sampah bekas bungkus makanan dan minuman kemasan, ada sampah bungkus ketupat dan lontong, ada sampah koran yang berserakan di lapangan tempat shalat ied, ada sampah dilempar ke jalanan oleh para penumpang mobil yang kurang ajar dan tidak tahu diuntung. Piyungan sepertinya sebentar lagi akan kelebihan muatan, tapi toh kita tidak perlu memedulikannya selagi sapi-sapi di sana tetap gemuk, para pemulung mendapatkan uang untuk bertahan hidup, dan sampah itu tidak menggunung di sekitar tempat tinggalku. 

Oh tidak, bahkan apabila gunung sampah itu longsor ataupun licitnya sedikit mencemari kawasan sekitarnya yang toh sudah tercemari baunya, paling hanya akan menjadi berita utama di koran, radio dan tv. Kita akan berduka dan berkasak-kusuk sejenak sambil sibuk menyalahkan si ini dan si itu. Setelahnya hidup kembali normal masa bodohlah itu urusan pemerintah saja. Produsen dan konsumen tidak perlu khawatir dengan limbah produk yang mereka produksi dan konsumsi, asalkan sudah ditimbun di jugangan, dibakar, terbawa arus sungai hingga ke muara atau ditaruh di tempat sampah biar jadi tanggung jawab Pak Sampah yang tiap hari keliling dengan upah seadanya. 

Di satu pagi seorang gadis berjalan menghampiri penjual gudeg 500 meter dari rumahnya. Berjejal mengantri 2 jam untuk 4 porsi bubur dan gudeg yang manisnya ngga kalah dengan senyuman ibu yang jual. Ketika antriannya diserobot oleh mereka yang mau makan di tempat, ia berusaha nrimo karena toh ia orang Jogja yang seharusnya berwatak begitu. 

Tapi sekarang bermunculan orang-orang yang sudah tidak lagi nrimo, masang-masang spanduk dan baliho di pinggir jalan, melawan petugas yang datang, demi mempertahankan sepetak tanah yang dihuni selama puluhan tahun. Wahai, berani betul itu berucap buruk pada kanjeng Sultan. Ternyata, keistimewaan daerah ini bisa menimbulkan konflik juga. Tunggu, masihkan sekarang berlaku prinsip tahta untuk rakyat? Ataukah tahta hanya menjadi alat untuk membela kepentingan yang berkuasa? 


Kereta api belum lagi beranjak dan sang pemilik motor masih berada di tanah perantauannya. Sibuk merenungkan bagaimana nasib kota ini kini dan nanti. Sembari diam-diam berharap bisa merasakan Jogja seperti satu dekade ke belakang. Yang kata sahabatnya jauh lebih aman, nyaman dan tenteram dibanding sekarang. Suasana yang mungkin hanya bisa dirasakan ketika kota ini ditinggalkan para perantau yang menghisap tenaga hidupnya, yang dalam waktu bersamaan menyuntikkan energi kehidupan baru yang mengalir dalam nadi kota. Ah, tapi toh dia lebih memilih mudik, menjadi bagian dari aliran orang-orang yang berpindah dan memenuhi jalanan antar kota.

February 16, 2018

Seri Pemuda: Refleksi atas Cerita-Cerita Wawancara - Urgensi Pemuda yang Utama

It’s never too late nor too early. It’s never too big and grande nor too small and simple. Just be sincere. Having a dream is not a mistake, however silly it may seem at first. 
— Fadhila Nur Latifah Sani

Selamat malam,

Tulisan ini dimulai ketika saat itu jadwal harian saya kembali jatuh pada rutinitas yang selalu dihadapi saat rekrutmen organisasi, yakni… wawancara. 

Saya masih ingat, dulu ketika awalnya memutuskan untuk menyemplungkan kaki di organisasi kampus, saya tidak menyukai seleksi wawancara. Kenapa? Karena saya tidak merasa nyaman membicarakan hal-hal personal dengan orang yang baru saya temui pertama kali, dalam forum yang intimate, dengan waktu yang panjang, di mana saya harus membuka diri dan mengungkapkan hal-hal yang menurut saya ketika itu, berada dalam lekuk-lekuk terdalam pikiran saya. Apresiasi terbaik saya berikan kepada orang yang berhasil menyelami lekukan pikiran saya, seberapapun absurdnya itu.
Siapa sangka, 2 tahun setelahnya, saya berada dalam posisi di mana saya harus menjadi interviewer, bukan lagi sebagai interviewee

Kemudian sekarang, sekian lama setelah tulisan ini pertama kali saya mulai, saya ingin merefleksikan kembali beberapa fenomena yang saya temukan dalam proses mewawancara itu. Walaupun begitu, pertama izinkan saya untuk mengakui bahwa, saya bukanlah seorang interviewer yang sepenuhnya paham ilmunya, pun bukan pula interviewee yang selalu berhasil lolos tahapan wawancara(bahkan lebih sering gagalnya). Tapi dari segala proses dan kegagalan itulah maka saya melanjutkan tulisan ini malam ini.

Tujuan dari wawancara organisasi yang saya lakukan tidak lain adalah untuk mengetahui siapakah si interviewee dilihat dari latar belakang, sikap dan komitmennya. Semuanya dirumuskan terlebih dahulu di awal, kemudian pewawancara hanya perlu untuk mengikuti sop yang sudah ditentukan sebelumnya. Terkadang saya juga suka menambahkan pertanyaan-pertanyaan iseng untuk mencari tahu lebih tentang kehidupan mereka, terutama tentang apa yang menjadi tujuan hidup seseorang, atau mudahnya mungkin kita sebut sebagai cita-cita. 

Hasilnya? Tidak sedikit saya temukan kawan-kawan saya ini yang nasibnya sama seperti saya ketika saya menghadapi situasi wawancara pada masanya. Bingung, atau mungkin lebih tepatnya tidak punya jawaban yang pasti. Sementara saya sok-sokan mau membuat rencana ruang hidup untuk kepentingan masyarakat, sendirinya tidak punya rencana hidup yang konkret. Ketika ditanya apa yang mau dilakukan, jawabannya mengambang, mengawang dan disampaikan dengan ketidakyakinan pada pernyataan yang dikeluarkan. 

Mulanya saya kira ini adalah suatu hal yang saya temukan hanya di lingkungan kampus saya saja. Tetapi ternyata, ketika berkesempatan berdiskusi dengan Ustadz @emfatan, kegamangan ini beliau temukan pada banyak sosok pemuda di berbagai tempat dan kesempatan. Maka izinkan saya sedikit membahas hasil diskusi dengan beliau dalam forum On Building Prime Youth #1: Urgensi Pemuda Utama yang saya ikuti dua pekan lalu.

Apa hubungannya? Kenapa kemudian mempermasalahkan hidup orang lain, toh mereka punya cara menjalani hidupnya masing-masing bukan? 

Tahan di situ. Bagi saya pribadi, semenjak membaca buku Tuhan, Inilah Proposal Hidupku yang ditulis oleh Jamil Azzaini, saya menginsafi urgensi untuk memiliki sebuah rencana hidup yang jelas dan terperinci. Beberapa argumen penguat pernyataan ini bisa coba dibaca di sini atau di sini. Tapi mudahnya begini. Bayangkan kota tempat tinggal kita, dengan segala kondisinya yang sekarang, nyamannya atau kacaunya. Kemudian bayangkan 20 tahun dari sekarang, seperti apa kota kita akan berubah? Lebih baik atau lebih buruk? Ketika kita tidak memiliki sebuah rencana/guideline/goal yang jelas untuk kota kita, maka ia akan berkembang terhimpit berbagai kepentingan. Terus mengikuti arus bisa membawa kota menuju berbagai pilihan kondisi, baik itu menjadi kota metropolis yang livable, kota pariwisata yang kekurangan infrastruktur, atau malah, kota yang mati. 

Hal ini sama terjadi dengan hidup kita. Pertanyaannya adalah, apakah kita mau merencanakan arah hidup dengan target kebaikan, ataukah membiarkannya terombang-ambing mengikuti arus kehidupan?

Ada satu cerita tertutur saat diskusi sore itu, tentang 4 orang anak muda yang nongkrongnya di samping Ka’bah, bagian dari generasi terbaik pada masanya (fyi, paling tidak ada 220 sahabat nabi yang masuk dalam kategori muda). Sebutlah ada Abdullah bin Zubair, Mus’ab bin Zubair, Urwah bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwah. Mereka ini bukannya lagi interview untuk rekruitmen organisasi manapun, tapi saling sharing tentang cita-cita yang ingin mereka capai selama hidup. 

Dua bersaudara Abdullah bin Zubair dan Mus’ab bin Zubair sama-sama ingin menaklukkan Hijaz, sebuah wilayah di bagian barat Arab Saudi yang waktu itu belum dikuasai Islam. Abdul Malik bin Marwah sementara itu lebih ingin untuk menjadi khalifah setelah Mu’awiyah bin Abu Sofyan. Terakhir, Urwah bin Zubair mengutarakan keinginannya untuk memiliki ilmu dan kepahaman terhadap dien/agamanya, sehingga dapat menyebarkan pesan-pesan kebaikan Islam. 

Dikisahkan kemudian, cita-cita yang awalnya bermula sebagai obrolan ringan di antara mereka berempat, akhirnya berhasil tercapai. Kok bisa? Yah bisa, namanya juga anak muda. Harusnya yang muda-muda begini nih, alih-alih mengamini perkataan orang yang menganggap biasa kenakalan remaja di era informatika sebagai hal yang lumrah dengan pembenaran, “Yah, anak muda jaman sekarang.” 

Pada dasarnya, masa muda itu adalah masa di mana kita bisa belajar bertanggungjawab, berada dalam fase kuat yakni usia paling utama di setiap hal (jasmani & rohani), dan alhamdulillah-nya usia ini adalah usia paling panjang dalam hidup. Di masa-masa inilah manusia lebih mudah menerima kebenaran, dan dengan segala kelebihannya tsb bisa memberikan kontribusi maksimal serta memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan. Makanya dulu golongan muda yang nyulik Soekarno-Hatta dan mendorong beliau berdua untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia.
Pada titik ini kemudian saya bertanya pada diri sendiri, kalau saya, cita-citanya apa? Sudah jadi bagian dari golongan pemuda yang utama belum?

Hingga akhirnya, rasanya kita semua punya PR besar. Peradaban-peradaban besar yang ada rupanya terbentuk karena kekuatan generasi mudanya (baik secara kualitas maupun kuantitas) yang menggebu-nggebu melakukan perubahan. Indonesia kita, punya kesempatan emas memanfaatkan puncak bonus demografi di tahun 2030. Tahun itu, kita akan memiliki lebih banyak penduduk usia produktif dibandingkan penduduk usia tidak produktif. 

Pertanyaannya lagi, di masa depan itu, Indonesia akan tinggal landas menjadi negara maju, atau tercebur kubangan lumpur ketertinggalan yang semakin parah? 

Sepertinya semua tergantung kita, para pemuda, mau jadi pemuda utama atau mau jadi pemuda penganut kenakalan remaja di era informatika.

Referensi:
  1. Kultwit @JANtraining tentang On Building Prime Youth #1: Urgensi Pemuda Utama https://chirpstory.com/li/381229
  1. https://www.abanaonline.com/2016/11/kisah-urwah-bin-zubair-yang-tabah-dalam-menerima-musibah.html

Disclaimer:
Ingatan saya pendek, catatan saya terbatas, bacaan dan kajian saya masih sangat dangkal, belum lagi nulisnya suka sembrono. Jadi, kalau ada fakta-fakta yang terbelokkan dengan tidak sengaja, atau pesan-pesan yang kurang pas, tolong saya dijawil, maturnuwun.


May 25, 2017

Andai Buku Bisa Bertutur

Setiap buku memiliki ceritanya masing-masing
Entah itu cerita sang penulis dalam menulis buku, cerita tentang orang lain yang dituliskan penulis dalam buku tersebut, cerita karangan sang penulis serta cerita-cerita lainnya
Namun ada satu cerita yang unik entah apapun bukunya, yang antara satu dan lain eksemplar akan sangat berbeda
Yakni cerita perjalan sang buku hingga sampai ke tangan pemiliknya

Ini adalah cerita tentang sebuah buku
Pada suatu kala ia diproduksi di sebuah negeri, dikirim ke sebuah rumah yang nyaman tempatnya berdiam dan memamerkan diri bersama buku-buku lainnya
Hingga pada waktunya datang seorang lelaki asing, mengambilnya untuk dibawa berlayar mengarungi lautan menuju belahan bumi yang lain
Sesampainya, ia menemukan rumah yang baru di mana orang-orang bertutur dengan bahasa yang tidak ia pahami maknanya
Bertahun ia tinggal, mungkin terlupakan namun tetap terawat dengan baik, karena cinta sang pemilik pada ilmu yang dikandungnya
Tibalah suatu kala, sang pemilik jatuh sakit, dan dalam lemahnya ia berbaring, ia teringat akan seseorang
Maka ia titipkan buku itu untuk menemukan tempatnya yang baru
Bersama seorang pembelajar yang harapannya dapat memetik hikmah dan memberikan manfaat dari ilmunya

Cerita itu,
Sederhana dan indah,
Terimakasih, simbah.

March 26, 2017

Sepucuk surat untuk mereka


Alhamdulillah
Mungkin hanya syukur tiada terperi yang bisa saya sampaikan atas kesempatan luar biasa yang hadir pada saya. Akhir pekan ini saya dipertemukan dengan sosok-sosok kecil yang menggetarkan hati, siswi-siswi kelas 6 SDIT Al-Khaairaat.

Sungguh dari awal saya cukup terbebani sebenarnya, setelah sekian lama tidak pernah... Pun persiapan saya dan teman-teman sangat minim, segalanya direncanakan kurang dari 24 jam sebelumnya! Maka salut buat rekan-rekan saya di lapangan, Irfani, Swasti dan Farida yang mampu memberikan yang terbaik saat itu. Walaupun setelahnya, kami berempat sepakat, apalah kami dibanding mereka, karena sesungguhnya kamilah yang banyak memetik pelajaran berharga hari itu.

Mereka anak-anak, yang masih senang bermain dan sedang khawatir menghadapi ujian yang sebentar lagi datang. Tapi lebih dari itu, mereka menyimpan kedalaman iman yang terpancar dalam akhlaq mereka, pun dalam cita-cita yang mereka tuliskan dalam secarik kertas. Dokter, penulis, pengusaha, arsitek, itu cita-cita biasa. Memberangkatkan haji umi, berkuliah di Kairo, menjadi hafidzoh, membangun rumah di surga, dan setinggi-tinggi impian lainnya berani mereka tuliskan. Hal-hal, impian-impian yang bahkan belum pernah terpikirkan oleh saya.

Maka di penghujung pertemuan kami, saya titipkan sepucuk surat untuk mereka, yang dibuat dengan sangat sederhana

Assalamu'alaykum wr. wb
Hari ini saya terjaga semenjak dini hari
Rasanya tak bisa tidur menanti pagi datang

Satu dekade umur kita terpaut
Saya tak bisa berhenti bertanya-tanya, seperti apa wajah-wajah kalian

Ketika pagi akhirnya datang
Saya terlalu takut membuka mata
Terlalu enggan bangkit dari kasur
Terlalu ragu untuk berjalan kemari

Benar firasat saya,
Pagi ini saya tertampar oleh semangat kalian
Rasanya, lebih banyak hal yang kalian ajarkan pada saya dibanding apa yang bisa saya berikan pada kalian

Haru rasanya, mendengar lantunan Al-Qur'an dari ruangan ini
Haru rasanya, membaca uraian cita-cita yang kalian tuliskan
Haru rasanya, mendengarkan yel kelas kalian yang begitu indah dan bermakna

Haru rasanya, melihat kebersamaan kalian yang saling bercengkrama, bermain dengan lepasnya
Haru rasanya, menyimak pesan-pesan yang kalian sampaikan satu sama lain, terselip dalam kado kecil yang kalian siapkan

Saya harap teman-teman bersyukur
Karena sungguh saya tak pernah seberuntung teman-teman
Punya ustadzah yang begitu sabar
Punya lingkungan yang begitu suportif saling mengingatkan dalam kebaikan

Coba sekarang kita renungkan apakah sudah cukup syukur kita panjatkan ke hadiratNya
Dan renungkan sudah amanahkah kita dalam melaksanakan tugas kita di dunia untuk beribadah kepadaNya
Kalau belum, marilah kita berjanji pada diri sendiri untuk berusaha lebih baik daripada yang terbaik yang bisa kita berikan untuk mencapai cita-cita yang tadi sudah kita tuliskan dalam lembaran-lembaran kertas kecil
Dan marilah kita berjanji untuk saling mengingatkan teman-teman yang ada di ruangan ini, yang ada di kanan-kiri kita, untuk bersama mencapai cita-cita dan tidak membiarkannya menjadi angan belaka

Karena sukses sendiri itu nikmat, tapi sukses bersama itu jauh lebih nikmat dan lebih indah


ditulis dengan sepenuh cinta
untuk generasi yang insyaAllah akan jadi lebih baik dari saya
para calon muslimah arsitek peradaban
tertanda, Ipeh


Terimakasih, sudah menyalakan api, mengobarkan semangat dan membulatkan tekad



March 25, 2017

Cerita Pagi

Kemarin ada yang bilang sama saya, sombongnya generasi muda harus dimaklumi, selama kesombongan itu membawa inspirasi untuk orang-orang di sekitarnya. Seketika saya berharap memiliki sesuatu yang bisa disombongkan ke orang-orang, walaupun tidak sepenuhnya siap dengan konsekuensinya.

Pagi ini, saya berangkat berkejaran dengan waktu karena sudah buat janji mau mampir ke sekolah sekitar jam 7. Belum genap 1 km dari rumah, si revo mulai batuk-batuk dan ngga berapa lama, dia menyerah ngga mau digas lagi, berenti di tengah pertigaan. Yeah, bensinnya habis karena sore sebelumnya saya mager ngantri isi bensin. Ketawa dulu, rasanya mending ninggalin revo aja terus jalan kaki daripada harus dorong-dorong dia sambil sentrap-sentrup dan batuk-batuk karena flu.
Alhasil, dengan bawaan ransel penuh sambil nenteng tas laptop, saya dorong si revo, siap dorong sampai pom bensin sagan kalau memang perlu, dari belakang bulaksumur residence. Alhamdulillah, ngga seberapa jauh ada simbah-simbah jualan bensin di pinggir jalan (nyadar karena dikasih tau sama bapak-bapak baik).

Beres tuh urusan bahan bakar, eh ada mbak-mbak nyamperin saya, nanya lokasi saat itu lagi di mana. Setelah saya tanya, ternyata lagi mau ke wisma kagama, cuma ngga tau jalan. Daripada rempong jelasinnya dan mbak nya tersesat juga pada akhirnya, saya ajak aja bareng toh sekalian saya ke Kotabaru bisa lewatin wisma kagama.

Kamu percaya kebetulan, kesialan dan keberuntungan?
Lucu ya, perhitungan waktunya pas sekali. Coba sisa bensin di motor saya kelebihan 0,1 liter aja, motor saya ngga berenti di lokasi itu, saya ngga harus dorong motor sejauh itu, ngga akan ada di depan tempat jual bensin eceran di waktu itu, mungkin saya ngga akan bertemu sama si mbak-mbak yang sedang kebingungan nyari tempat itu. Bahkan, coba kalau saya sore sebelumnya sempat isi bensin dan paginya melenggang dengan tenang sampai sekolah tanpa ada macet-macet segala, pasti ngga bakal saya susah-susah dorong motor, tapi ngga bakal pula saya dapat kesempatan kecil membantu orang lain.

Maka pagi ini saya dibuat merasakan indahnya menyingkap selapis keberkahan dalam sebuah skenario yang sangat sederhana. Selapis keberkahan yang menguji sabar dan usaha manusia ingusan.
Dan malam ini saya ingin menantang kamu-kamu yang entah mengapa membaca tulisan ini sampai akhir, untuk sedikit menyombong dan menginspirasi orang lain (kalau mau aja sih). Dan kalau esok pagi suatu ‘kesialan’ menimpa kamu, itu udah resiko sih kalo kamu udah siap dan setuju jalanin tantangan saya.

Dari saya yang ingin membuktikan bahwa nyelo di bawah atap sekre KMFT tetap bisa produktif bermanfaat,
Selamat malam
tertanggal 1 Maret 2017

March 24, 2017

Ground Zero




Selamat bertahun baru!
Malam pergantian tahun ini, takdir membawa saya kembali ke titik nol kehidupan seorang saya yang di aktanya ditulis lahir di Jakarta padahal nyatanya berada di sudut Tangerang Selatan. Yang sayanya juga dibilang orang Jakarta juga engga karena mampir lahir doang di sini terus seumur hidup tinggal di area perbatasan Sleman-Kota Jogja yang bahkan baru ini saya tinggalkan selama 2 minggu dan akan lebih.
Epic
Maka lebih dari sekadar mempertanyakan hikmah apa yang bisa saya ambil dari dinamika tahun 2016 yang penuh dengan hal-hal yang terlalu menarik untuk dibahas, malam ini saya mempertanyakan apa yang telah saya lakukan selama 21 tahun hidup saya di dunia. Berfaedahkah hidup saya? Bermanfaatkah? Atau sesungguhnya 21 tahun itu merupakan tahun-tahun yang sia-sia dan menimbulkan kerusakan?
Dan lebih dari sekadar pertanyaan apa yang mau saya lakukan di tahun 2017, maka lebih tepat saya mempertanyakan apa sih yang akan saya lakukan di sisa waktu hidup saya? Manfaat apa yang bisa saya berikan di tahun-tahun mendatang?
Selamat malam,Selamat bermuhasabah di antara riuhnya suara petasan
dari medium.com
tertanggal 31 Desember 2016


March 23, 2017

Cerita Rantau #1

Cerita Rantau #1

Dear Jakarta,
After the first two decades in my life,I come back to youTo stayAnd this time, It’s going to be a long stayAnd an adventurous oneSo yeah, here I am!
Tiga hari pertama dalam perantauanSetelah perjalanan yang tidak panjang tapi menyiksa karena bawaan yang terlampau berlebihan
Jadi, how’s Jakarta?Belum lama saya membabat setengah isi bukunya Ridwan Kamil, Mengubah Dunia Bareng-Bareng. Let’s say, I get to see what he’s talking about in his book. Pagi itu saya sampai di Stasiun Jatinegara sekitar pukul 4 pagi. Berjalan keluar stasiun menenteng dua koper besar berisikan bekal selama perantauan. Tidak mengenal siapa-siapa dan hanya tau mau ke mana berkat share location via Google Maps. Taxi drivers and ojek riders are offering their service in front of the exit. Not to mention the bajaj and angkot that lines up honking at each other on the street. Well, I simply said to myself, welcome to the semi-urbanized megapolitan Jakarta.
Kecuali di jalan depan stasiun yang dipadati kendaraan, jalanan dari stasiun ke kos saya di kawasan Tebet terbilang lengang. Jakarta pukul 4 pagi, hanya angkot-angkot yang berseliweran dan pedagang-pedagang sayur keliling yang bersiap untuk berdagang yang meramaikan suasana. Entah 1–2 jam kemudian, lengang itu berubah menjadi padat.
Maka marilah saya ceritakan keseharian saya di perantauan. Baru tiga hari sih, jadi subuh jalan-jalan… sensing the place, pagi berangkat ke kantor… kedinginan kesentor AC, siang hari cari makan siang… kepanasan jalan kaki, balik kerja setelah kenyang… bolak-balik kamar mandi kedinginan, malam hari sesampainya di kosan… kembali tidur di bawah AC, pun malam ini saya main ke Grand Indonesia… terpapar polusi di jalan, , dan pulang mencicipi sedikit padat dan semrawutnya lalu lintas Jakarta.
Ehm, jadi? Jadi ya jadi, loh, engga.
Jadi… saya jadi merefleksikan kembali apa yang ditulis Kang Emil di bukunya. Tentang kota, tentang ruang publik, tentang individualisme, tentang arsitektur yang tidak mempertimbangkan konteks, tentang Jakarta. Kemudian saya teringat kata Pak Doddy dalam kuliah ekonomi kota beliau, yang membicarakan tentang semi-urbanism, tentang perilaku warga kota yang kampungan, tentang ketidakteraturan dan ketidakpedulian akan aturan kota, tentang aglomerasi dan tentang transportasi. Kemudian lagi saya jadi teringat akan Urban Citizenship Academy, tentang rasa kewargaan, tentang rasa kepemilikan dan tentang gerakan pemuda dalam menyikapi urban issues.
Tiga hari pertama ini saya menikmati proses sensing the place.Tiga hari pertama ini saya senang melihat skyscrapers, mengeluhkan fasilitas pejalan kaki yang inkonsisten dan wagu, mencicipi padat dan semrawutnya lalu lintas, mencoba mencari tempat makan yang sehat dan affordable, berdebat dengan diri sendiri antara idealita dan realita, dan melihat inilah Jakarta.
Maka masih ada hari-hari lainnya, untuk merasakan, menyaksikan, memikirkan dan mengasyikkanJuga masih ada hari-hari berikutnya untuk menjelajahInilah awal mula dari perantauan yang memunculkan ceritaAntara saya dan kota kelahiran saya
Aku padamu, Jakarta
dari medium.com
tertanggal 21 Desember 2016

November 19, 2015

Waktu


Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.      --Al-Qur'an surat Al-Asr (103) 1-3--

Jika ada sesuatu yang kusesali sampai saat ini, itu adalah waktu, waktu yang sudah berlalu.
Jika ada sesuatu yang menyesakkan hati, itu adalah waktu, waktu yang tidak akan kembali.

Masih ingat, sekitar dua tahun yang lalu, sebuah percakapan yang emosional.
Masih ingat, ketika itu seseorang mengingatkanku bahwa waktuku mungkin tidak banyak lagi.
Masih ingat, alasan-alasan yang terutarakan sebagai pengganti atas waktu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Masih ingat, pertemuan kami esoknya adalah pertemuan yang terakhir.
Dan waktu perlu berhenti sehingga kami dapat bertemu kembali.

Ya, waktu.

Keberlangsungannya menjadi misteri.
Kita tak mungkin tahu, kapan waktu kita habis, kapan waktu kamu habis, atau kapan waktu kebersamaan kita dengan orang-orang terkasih habis.

So cherish it well. Karena kita ngga akan pernah tau, dear.

November 13, 2015

Father's Day


Though it's kind of late, Happy Father's Day, Dad!
I wish I could say this to you, but since I can't, I'll just show the world how grateful I am to be your daughter. 

June 10, 2015

Mid Year

Selalu ada cerita dibalik sebuah perjumpaan,
Selalu ada makna dibalik setiap cerita.

Satu semester berlalu dengan cepat, banyak hal sudah terlewati namun lebih banyak lagi yang belum dijalankan. Kita bertemu dengan penghujung tahun ajaran ketika tugas dan ujian menanti untuk memberi ucapan selamat tinggal di ujung jalan. Setelahnya, kita melangkah menuju petualangan baru yang lebih menantang seiring dengan bertambahnya usia.
Untuk mengenang masa yang telah berlalu, sekaligus juga menjadi suatu refleksi atasnya, sebagai bekal menuju masa depan, aku persembahkan satu set cuplikan gambar yang sedikit banyak mewakili penggal-penggal yang terlewatkan.

14 Februari 2015
Disambut seberkas pelangi dalam perjalanan menuju rumah seorang teman nun jauh di sana.

15 Maret 2015 
Berkesempatan menemani adek-adek ini outbond di Imogiri bersama Tim Teratai. Energi dan antusiasme mereka kerenluar biasa sampe-sampe bisa dibilang berlebihan haha, berbagai permainan yang kami siapin sukses mereka eksekusi dengan improvisasi yang luar biasa.









1 Mei 2015
Selepas menyambut para peserta Y-Plan di Festagama. Yang pertama yang terkenang yo.



10 Mei 2015
Bersama Tim Teratai membersamai teman-teman yang belajar untuk lebih mencintai alam di Pantai Baros, Bantul. Karena alam ini hanyalah titipan untuk anak-cucu kita di masa depan. 
1-7 Juni 2015
Di balik makrab PSDM BEM, ada sisi lain yang menceritakan hal yang berbeda.

Lastly,
"Seorang pemenang adalah orang yang mencari seribu cara untuk maju,
Namun seorang pecundang hanyalah orang yang mencari seribu alasan." - Bang Popo 
Selamat dini hari! 

August 8, 2014

Lembaran Baru: Universitas Gadjah Mada

Untuk membuka postingan ini, ada sebuah pernyataan klise, "Waktu berjalan cepat ya". Pernah ngga sih, suatu saat kita bosan dengan rutinitas keseharian kita? Beberapa waktu yang lalu aku jenuh luar biasa, jenuh dengan rutinitas belajar yang ngga ada hentinya, jenuh dengan kewajiban-kewajiban yang ada, sampai jenuh dengan jalanan rumah-sekolah yang tidak bervariasi selama 12 tahun ini. See how frustated I was? Waktu itu aku bertekad meninggalkan kota ini dan melanjutkan studi di rantau.
Dengan modal tekad, doa dan usaha, aku apply beberapa beasiswa S1. Luar biasa tinggi mimpi itu, sayangnya, semuanya berbanding terbalik dengan prestasi selama masa SMA. Hampir idealisme itu membutakan aku dari realitas yang ada. Syukur alhamdulillah masih ada yang mengingatkan aku untuk tetap berpijak tanah dan mencoba meraih apa yang sekiranya sanggup aku raih. Dengan sombongnya aku pernah bilang, yah paling ngga masuk UGM itu udah paling jelek yah, dan ternyata, UGM-lah yang aku raih.
So, it's a complicated feeling. I've known UGM for as long as I can remember. It was my playground when I was younger, my classroom for a few months back then in primary school, and now, it's my campus. Alhamdulillah, semuanya harus disyukuri bukan? So, now as I'm a part of this uni officially, me and my pals (as the new students) are given a special present, PPSMB. 
Pernah dengar tentang PPSMB? Gampangnya, Pelatihan Pembelajaran Sukses Mahasiswa Baru itu adalah apa yang biasa kita kenal dengan ospek, tapi, secara namanya aja gitu acaranya insyaAllah lebih bermutu dibanding ospek murahan penyiksa fisik yang ngga punya tujuan. Ada beberapa dokumentasi PPSMB tahun-tahun sebelumnya yang bisa kasih sedikit gambaran tentang kegiatan ini, seperti di sini dan di sini.
Kalo sekilas mbayangin masalah ospek itu, kebanyakan orang pasti ngerasa malas, masa bodoh dan tidak acuh, seakan ospek itu ngga ada gunanya buat mereka. Well, though sometimes I feel like 'em, I know that at the end it will bring more good than bad. Bayanganku tentang PPSMB ngga beda jauh sama MOS SMA dulu. Ini tentang menghargai proses, beradaptasi, mengenal orang baru, berdisiplin, berorganisasi dan berkenalan dengan dunia perkuliahan. 
Setelah beberapa bulan lamanya menganggur dan bermalas-malasan, PPSMB bakal jadi shock therapy yang tepat buat menyiapkan kuncrit-kuncrit calon mahasiswa macam aku ini untuk bisa belajar dan berkarya di UGM. One thing is for sure, mahasiswa ngga sama dengan siswa. So, wherever you are, whatever your uni's orientation program is called, mari ikhlaskan diri untuk menjaring manfaat sebanyak-banyaknya dari kegiatan ini. Ciao~

August 7, 2013

Us

Yang mengakar kuat namun sanggup mencakar langit.
Bismillah

April 20, 2013

Growin' up


Bertumbuh dan berkembang. Apakah kamu seperti aku yang juga masih dalam tahapan bertumbuh dan berkembang? Mari bersyukur dan berjuang bareng.
Sudah taukah kamu arah pertumbuhan dan perkembanganmu? Jujur, aku masih terus mencari lho, maksudku, tentu saja kalau tujuan besar aku sudah melihatnya dari zaman ingusan, sekarang, aku masih mencari pintu yang tepat dan meraba tangga yang akan membawaku ke sana. 
Kalau boleh sedikit mencurahkan isi hati, bertumbuh dan berkembang ternyata nggak segampang terus bernafas (bahkan bernafas pun terlihat susah setelah mempelajari mekanisme dan reaksi yang terjadi sesungguhnya), rasanya seperti kehilangan dan mendapatkan sesuatu bagian dariku yang besar dan terkadang nyaris tanpa disadari. Terus kehilangan dan mendapatkan, kombinasi antara kehilangan yang baik/buruk dan mendapatkan yang baik/buruk. Salah satu ketakutan terbesarku adalah ketika pertumbuhan dan perkembangan ini malah membawaku ke suatu tempat yang buruk. Tapi mereka bilang kekhawatiran akan suatu yang buruk itu lebih buruk dari keburukan itu sendiri, oke mari lupakan ketakutan itu. 
Beberapa waktu yang lalu, tampaknya seperti seakan-akan keadaan memaksaku untuk bertindak di luar zona nyamanku. Terjun ke masyarakat, membangun relasi dan mengurus hal-hal yang tidak pernah terlintas dalam pikiran. Awalnya, untuk memulai saja menakutkan. Kemudian Bapak bilang, "Santai aja, mumpung masih SMA, orang-orang masih maklum kalo kamu salah, nduk". Dan terbukti, perkataan Bapak benar sekali. Orang-orang tua yang menakutkan itu pernah SMA juga, mereka ngerti banget jaman SMA ki urip lagi yo koyo ngono kae lah. Dan yaaaah, aku merasa lega setelah semuanya terlewati. 
Suatu hikmah biasa menyamarkan dirinya menjadi sesuatu yang indah ataupun buruk, dan mungkin nggak mudah untuk menyadarinya. Hikmah pengalaman membuat orang belajar dan berkembang, mendewasakan, dengan cara yang terkadang tidak bisa dibilang menyenangkan. Tapi orang selamanya tidak akan mendapatkan apa-apa kalau terlalu takut mencoba dan mengeksplorasi diri. So go out there and find your own adventure, your own experience, face the problems, never give up. Grow up. This is life.
Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Mau tunggu sampe jenggot tumbuh sampe pantat? Uh.

March 30, 2013

Sekelebat malam

Selama 17 tahun hidup di Yogyakarta, aku sama sekali nggak familier sama keadaan Yogyakarta di malam Minggu, cupu banget kan. Eh kesempatan seminggu yang lalu -sekalian ikut ngerayain Earth Hour, aku bisa jalan-jalan di sekitar Jalan Malioboro. Jadi turis di kampung sendiri, miris. Dan ya, aku memutuskan aku nggak begitu benci dengan ramainya suasana di malam Minggu karena ternyata ramainya yang luar biasa itu juga meyimpan daya tarik luar biasa.




Malam itu, aku dan teman-teman tertarik buat masuk ke Monumen Serangan Umum 1 Maret, ngelanggar  peraturan sebenarnya, terus akhirnya bereksperimen sedikit. Nggak buruk lah. Tapi bagian lompat pagarnya jangan ditiru ya. 








Bye.

January 25, 2013

Langkah Kaki


Karena dengan suatu cara atau cara yang lain, aku akan menjelajah dunia. 

January 6, 2013

Tahun Lama Tahun Baru

Semester 4 udah dihadapan, 2012 terlewat dan datang 2013. Wow! I'm gonna miss holiday and I'm so gonna miss 2012.
Roda kehidupan terus berputar sejalan dengan berjalannya waktu. Melihat kembali ke 2012, tahun yang sangat-sangat mengesankan karena banyak sekali hal baru yang menjadi pelajaran berharga buatku. Siapa coba yang nebak kalau anak ingusan ini bisa sedikit lebih mandiri dan melakukan perjalanan-perjalanan ekstrem sama teman-teman sekolahnya? Terimakasih Padmanaba Hiking Club! Bukit, goa, pantai, tebing, gunung, hutan, sungai dan segalanya yang kami jelajahi. Selain itu juga terimakasih Padmanaba atas segalanya yang nggak mungkin disebutkan satu-satu di sini. Dan, selamat tinggal 2012!
Nah, kalau tahun kemarin duniaku ber-revolusi di sekolah, tahun ini aku berharap bisa sedikit lebih menjadi anak rumahan. Belajar tenang, santai-santai sedikit dan makan-makan banyak. Jangan bilang ini nggak mungkin ya, jangan hancurkan harapan orang (Walaupun sepertinya dalam waktu dekat ini memang belum memungkinkan).
Jadi, selamat tahun baru semuanya! Dan selamat menikmati roller coaster kehidupan bernamakan tahun 2013 ini! Cao! 
Oh, dan selamat bersenang-senang di semester 4 hai 69!


December 7, 2012

Ego: Berkilah dari Nilai-Nilai Buruk Ujian


"I want to do good in the exam"
Tapi setelah teringat nilai KKM, langsung malas belajar.
"I don't want to do this anymore"

Sendirinya menganggap keberhasilan nggak bisa diukur hanya dari nilai akhir yang terpampang di jawaban ujian, di lembar pengumuman remidial, di raport semesteran, dan di mana aja itu dituliskan.
Digit-digit itu bukan ukuran, sakjane, apa sih yang bisa mengukur ilmu secara keseluruhan?
Kalau masalah penghargaan, proses mendapatkan ilmu lah yang lebih pantas untuk dihargai, bukannya  angka pengakuan. 
Unfortunately, that's how the system works. 

What do you think?

October 15, 2012

14?

Apa yang bisa diharapkan dari suatu hari yang diawali dengan guyonan babi ngepet yang bikin ngakak setengah mati sampe nggak bisa tidur?

Paginya tiba-tiba kebelet pup dan di saat gitu, hanya ada pilihan gali lubang tutup lubang di balik semak dengan hanya berbekal tissue basah. Kata teman-teman, biar mantab, lega dan nikmat, pup-nya sambil ngeliat Gunung Merapi di sebelah timur camp kami.

Emang gila. Alhamdulillah nggak jadi keburu. Tapi kalau ada yang penasaran, it wasn't a bad idea at all, silahkan mencoba melihat keindahan Merapi dari point-of-view orang yang lagi pup, mungkin bakal terlihat jauh-jauh lebih memesona. Saya sih sudah puas melihat pemandangan dari point-of-view orang yang nggak lagi berekskresi di tempat terbuka.

Should I regret not trying that crazy idea on the day I'm turning 17? Hmmm



Dari atas ke bawah: dome kami di sebelah kiri dengan Merapi di sebelah kanannya, puncak Merapi di balik lembah di sebelah timur, teman-teman PHC.
Olympus Tough TG-810, Panorama Mode.

July 15, 2012

Welcoming 2012/2013


I'm thankful for being able to have a joyful holiday exploring East Java. Tasted krengsengan, mimiccing the Jawa timuran accent, spending 4 days in the wilderness in Alas Purwo and got the chance to meet some animals that usually being seen at zoo, in their real habitat, and much much more experiences. But there are 2 things I'm craving to do:
1. Travelling by myself somewhere I haven't been to
2. Sleeping all day long
To do for the next holiday I guess :3
Goals settled for the next term
bye for now