March 24, 2017

Ground Zero




Selamat bertahun baru!
Malam pergantian tahun ini, takdir membawa saya kembali ke titik nol kehidupan seorang saya yang di aktanya ditulis lahir di Jakarta padahal nyatanya berada di sudut Tangerang Selatan. Yang sayanya juga dibilang orang Jakarta juga engga karena mampir lahir doang di sini terus seumur hidup tinggal di area perbatasan Sleman-Kota Jogja yang bahkan baru ini saya tinggalkan selama 2 minggu dan akan lebih.
Epic
Maka lebih dari sekadar mempertanyakan hikmah apa yang bisa saya ambil dari dinamika tahun 2016 yang penuh dengan hal-hal yang terlalu menarik untuk dibahas, malam ini saya mempertanyakan apa yang telah saya lakukan selama 21 tahun hidup saya di dunia. Berfaedahkah hidup saya? Bermanfaatkah? Atau sesungguhnya 21 tahun itu merupakan tahun-tahun yang sia-sia dan menimbulkan kerusakan?
Dan lebih dari sekadar pertanyaan apa yang mau saya lakukan di tahun 2017, maka lebih tepat saya mempertanyakan apa sih yang akan saya lakukan di sisa waktu hidup saya? Manfaat apa yang bisa saya berikan di tahun-tahun mendatang?
Selamat malam,Selamat bermuhasabah di antara riuhnya suara petasan
dari medium.com
tertanggal 31 Desember 2016


March 23, 2017

Cerita Rantau #1

Cerita Rantau #1

Dear Jakarta,
After the first two decades in my life,I come back to youTo stayAnd this time, It’s going to be a long stayAnd an adventurous oneSo yeah, here I am!
Tiga hari pertama dalam perantauanSetelah perjalanan yang tidak panjang tapi menyiksa karena bawaan yang terlampau berlebihan
Jadi, how’s Jakarta?Belum lama saya membabat setengah isi bukunya Ridwan Kamil, Mengubah Dunia Bareng-Bareng. Let’s say, I get to see what he’s talking about in his book. Pagi itu saya sampai di Stasiun Jatinegara sekitar pukul 4 pagi. Berjalan keluar stasiun menenteng dua koper besar berisikan bekal selama perantauan. Tidak mengenal siapa-siapa dan hanya tau mau ke mana berkat share location via Google Maps. Taxi drivers and ojek riders are offering their service in front of the exit. Not to mention the bajaj and angkot that lines up honking at each other on the street. Well, I simply said to myself, welcome to the semi-urbanized megapolitan Jakarta.
Kecuali di jalan depan stasiun yang dipadati kendaraan, jalanan dari stasiun ke kos saya di kawasan Tebet terbilang lengang. Jakarta pukul 4 pagi, hanya angkot-angkot yang berseliweran dan pedagang-pedagang sayur keliling yang bersiap untuk berdagang yang meramaikan suasana. Entah 1–2 jam kemudian, lengang itu berubah menjadi padat.
Maka marilah saya ceritakan keseharian saya di perantauan. Baru tiga hari sih, jadi subuh jalan-jalan… sensing the place, pagi berangkat ke kantor… kedinginan kesentor AC, siang hari cari makan siang… kepanasan jalan kaki, balik kerja setelah kenyang… bolak-balik kamar mandi kedinginan, malam hari sesampainya di kosan… kembali tidur di bawah AC, pun malam ini saya main ke Grand Indonesia… terpapar polusi di jalan, , dan pulang mencicipi sedikit padat dan semrawutnya lalu lintas Jakarta.
Ehm, jadi? Jadi ya jadi, loh, engga.
Jadi… saya jadi merefleksikan kembali apa yang ditulis Kang Emil di bukunya. Tentang kota, tentang ruang publik, tentang individualisme, tentang arsitektur yang tidak mempertimbangkan konteks, tentang Jakarta. Kemudian saya teringat kata Pak Doddy dalam kuliah ekonomi kota beliau, yang membicarakan tentang semi-urbanism, tentang perilaku warga kota yang kampungan, tentang ketidakteraturan dan ketidakpedulian akan aturan kota, tentang aglomerasi dan tentang transportasi. Kemudian lagi saya jadi teringat akan Urban Citizenship Academy, tentang rasa kewargaan, tentang rasa kepemilikan dan tentang gerakan pemuda dalam menyikapi urban issues.
Tiga hari pertama ini saya menikmati proses sensing the place.Tiga hari pertama ini saya senang melihat skyscrapers, mengeluhkan fasilitas pejalan kaki yang inkonsisten dan wagu, mencicipi padat dan semrawutnya lalu lintas, mencoba mencari tempat makan yang sehat dan affordable, berdebat dengan diri sendiri antara idealita dan realita, dan melihat inilah Jakarta.
Maka masih ada hari-hari lainnya, untuk merasakan, menyaksikan, memikirkan dan mengasyikkanJuga masih ada hari-hari berikutnya untuk menjelajahInilah awal mula dari perantauan yang memunculkan ceritaAntara saya dan kota kelahiran saya
Aku padamu, Jakarta
dari medium.com
tertanggal 21 Desember 2016

March 22, 2017

Tentang Kebiasaan dan Aturan

Kemarin ada kuliah tamu, Perencanaan Transportasi.
Ceritanya, prodi lagi seneng-senengnya ngadain kuliah tamu di PWK. Dan sore itu giliran kami kena jatah ikutan kuliah tamu di sore hari yang kehadirannya dihitung di presensi. Dengan niat memenuhi presensi kuliah, aku masuk.
Kita ngomongin tentang manajemen transportasi umum di Kota Yogyakarta, lebih tepatnya moda Trans Jogja, dari sudut pandang Dinas Perhubungan (iya, pembicaranya adalah staff DisHub yang ngurusin Trans Jogja, lulusan FISIPOL UGM, omongannya tentang kebijakan). Singkat cerita, bahasan sampai pada alasan kenapa yang dipilih DisHub adalah model transportasi umum BRT-lite, bukannya BRT yang konon katanya lebih ideal.
Now we go to the main topic. Ngebahas jalanan di Yogyakarta yang pertumbuhannya sangat sedikit sementara kendaraan yang ngelewatinnya semakin banyak, beliau tiba-tiba nanya (iya tiba-tiba, karena omongan sebelumnya ngga aku perhatiin -_-), emang ada ya orang yang berani nyeberang Ring Road? Karena beliau ngga berani. And to that question I spontaneously answered that I did have the courage to do so, and truth be told, I frequently did, and it’s not a big deal for me. Dan di situlah aku sadar, kebiasaan, idealita dan aturan itu sangat bergantung pada pandangan individu.
Karena kita lagi bahas ‘aku’ di sini, maka biarlah ‘aku’ menjadi contoh kasusnya.
So here’s the thing. I’ve lived in Sawitsari for more than 15 years. Dan Sawitsari ada di sebelah utaranya Ring Road utara, di tengah-tengah antara Jalan Kaliurang dan Jalan Gejayan (Jalan Affandi). Salah satu akses utama untuk masuk ke perumahan ini lewatnya ya Ring Road utara. Now, sebagai orang Sleman pinggiran yang memenuhi berbagai kebutuhannya di perkotaan Yogyakarta yang notabene ada di dalam kungkungan Ring Road, ngga bisa engga, nyaris setiap hari aku harus nyeberangin Ring Road, entah itu jalan, nyepeda, naik motor, atau naik mobil, untuk mengakses kebutuhan itu.
Have you got my reasons? Nah, sekarang masuk ke kebiasaan seberang-menyeberang. Aku nyeberang kalau kenapa sih?
1. Kalau jalan pagi
2. Kalau naik Trans Jogja dan berenti di Halte Manggung karena mager jalan jauh
3. Kalau naik bus Kopata jalur 7 yang berentinya di tengah ring road
4. Kalau bawa sepeda, lagi pengen/butuh lewat daerah deresan dan mager muter kaya kalo pas bawa kendaraan bermotor
And to my judgement, it’s not entirely my fault that I have to cross the Ring Road. Dan karena sudah terbiasa, menurutku itu engga salah. Sampai kemarin.
And why’s that? Ini adalah pertanyaan, keraguan dan jawaban yang menjadi pembenaran, well not really, yang menjadi konflik batin mungkin. Just a run of thoughts.
Emang ada aturannya ya ga boleh nyeberang Ring Road? Well, as far as I know, not specifically. Tapi toh kelas jalan arteri memang harusnya ngga diseberangin sembarangan, mengingat jalan itu memang didesain untuk kecepatan tinggi, perjalanan antar kota antar provinsi.
Kenapa ngga nyeberang di tempat seharusnya? Well, kalau yang kita artikan tempat seharusnya adalah jembatan penyeberangan, zebra cross atau yang lain, yang ada hanyalah zebra cross terdekat yang letaknya, bisa 500 meter dari tempat aku pengen nyeberang. Dan sebagai orang yang menghayati ke-Indonesiaan-nya, yang punya standar berjalan kaki 200 m atau maksimal 500 m, kalau disuruh muter jalan 1 km cuma buat nyeberang, sementara tujuan awalnya adalah mempersingkat perjalanan, aku males.
Ngga takut apa? Frankly speaking, bukan takut sih, lebih ke apa ya, khawatir? Karena lewat di tengah Ring Road ketika mobil-mobil melaju >60 km/jam itu, kaya diayun-ayun. Tapi karena terbiasa, rasanya sih asal hati-hati pasti selamat.
Terus diajarin siapa sih kaya gitu? Orang tua? Yup, dulu kalau nyeberang ring road biasanya kalau pagi-pagi, jalan-jalan, dan memang sepi. Dan tahun-tahun ketika aku masih digandeng untuk menyeberang jalan adalah tahun-tahun ketika lalu lintas Yogyakarta jauh-jauh lebih lempeng daripada saat ini. Selanjut-selanjutnya, jadi terbiasa, dan karena ‘terpaksa’ oleh keadaan.
That’s that. Makin ke sini pembenarannya semakin lemah ya? Iya…
Kemarin temen aku terus ada yang nanya sama aku, kalau misal ada kendaraan yang nabrak orang nyeberang di Ring Road gitu, yang disalahin siapa? I guess, pasti orangnya yang nyeberang sih, harusnya, tapi toh kalo kaya gitu bisa jadi yang dianggap bertanggung jawab adalah yang bawa kendaraan. Gini sih, aturan sebenarnya dibuat untuk melindungi kepentingan semua orang. Dan setelah dipikir-pikir, it’s me that has done wrong.
Tapi terkadang, kita harus melihat kenyataannya. Aku baru mengambil contoh sederhana, yang notabene terjadi pada diri sendiri, dan alasan-alasan pembenaran akan tindakannya sangat lemah. Tapi bayangin orang-orang lain, petani mungkin, atau tukang rawat kebun, yang lokasi rumah dan ladang kerjanya dipisahkan jalan arteri, yang mau ngga mau memang dia harus menyeberangi itu, tanpa asuransi, dan tanpa ada yang mau mengakomodasi kepentingan menyeberang itu karena demand nya sedikit, ngga penting dan ngga mbathi.
Jadi idealita ngga melulu sejalan sama aturan. Dan kebiasaan sangat bisa menjadi judgement pembenaran atas pelanggaran sebuah aturan. Dan aturan cuma aturan kalau ngga dilakukan. Dan aturan adalah kebenaran yang dipaksakan oleh orang-orang yang memiliki kuasa untuk melegalkan kebenaran itu.
Engga, ngga gini juga sih. Tapi gitu.
Lastly, ini cuma penyadaran, cuma otokritik, cuma sharing kegelisahan. Ngga sepenuhnya benar karena ngga menyampaikan kebenaran. Feel free to correct me if I’m wrong, or comment if you have something to share about the topic.
fin
bye
-FNLS-
ditulis di tutorial Perencanaan Transportasi, karena sedang malas memperhatikan, dan butuh pelarian untuk menyalurkan kegelisahan
dari medium.com
tertanggal 2 November 2016

March 20, 2017

Woro-woro

Selamat siang semua,

Saya harus mengakui bahwa dalam waktu beberapa bulan (atau tahun) belakangan, semakin tidak memperhatikan kondisi blog saya yang satu ini. Ibarat rumah kalau ditinggalkan, maka ia menjadi kotor, berdebu, dan terdegradasi kondisinya secara umum. Siang ini, saya kembali menengok kondisi rumah tulisan-tulisan saya dari kala muda ini. Setelah melalui pertimbangan yang sangat singkat, saya memutuskan untuk meninggalkan hunian sementara tulisan-tulisan saya di medium, dan akan mulai mencoba menghidupkan rumah ini kembali.
Sebagai langkah awal, saya akan membersihkan sisa-sisa tulisan yang sudah menyampah, memindahkan beberapa tulisan dari medium, dan setelahnya akan menghiasi rumah ini dengan hal-hal yang tentunya baru dan segar.

Doakan saja saya bisa istiqomah.

Salam,
Fadhila Nur Latifah Sani

October 13, 2016

Bahtera Kepemimpinan Tjokroaminoto


Sebelum ini saya sebenarnya tidak banyak mengenal tentang Tjokroaminoto. Perkenalan saya dengan sosok beliau dimulai ketika pada suatu malam diadakan nonton bareng film Tjokroaminoto di Sekretariat KMFT. Baru setelahnya, sampai saat ini karena Sekolah Tjokro mewajibkan saya untuk menghayati perjuangan beliau, saya mencoba mengenal sosok Haji Oemar Said Tjokroaminoto.
Dalam perjalanan singkat 52 tahun hidupnya, Tjokroaminoto memberikan peninggalan yang begitu besar bagi perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Terlahir di kalangan ningrat, Raden Mas Tjokroaminoto mengenyam pendidikan yang baik di Sekolah Rakyat. Kehidupan dan masa depannya cukup terjamin, beliau bekerja di Kepatihan Ngawi dan dinikahkan dengan Soeharsikin, anak Wakil Bupati Ponorogo ketika itu. Namun, Tjokroaminoto justru memilih untuk menanggalkan gelar ningratnya, meninggalkan kehidupannya yang serba terjamin dan memilih untuk merasakan penderitaan rakyat kelas bawah dengan bekerja sebagai kuli pelabuhan di Semarang. Setelahnya, beliau sempat berganti-ganti pekerjaan, hingga pada akhirnya beliau ditemui oleh perwakilan Sarekat Islam yang tertarik dengan gagasan yang beliau curahkan di surat kabar Bintang Soerabaja, dan semenjak itu menjadi bagian tak terpisahkan dari pergerakan organisasi tersebut.
Pada masa-masa pergerakan beliau di Sarekat Islam inilah, Tjokroaminoto dengan bantuan istrinya, mengelola kos-kosan di kediaman mereka di Gang Peneleh, Surabaya. Kita mengenal sosok-sosok Soekarno, Alimin, Musso, Soeherman Kartowisastro, Semaoen dan lainnya yang sempat mengenyam pendidikan politik kala menjadi penghuni kos sederhana tersebut. Beliau menjadikan rumah kos beliau sebagai tempat diskusi dengan mengizinkan Soekarno muda dan kawan-kawannya mengikuti perbincangan dengan para tamu beliau. Tjokroaminoto mengantarkan para pemuda itu  pada wawasan baru, pandangan baru, memberi kesempatan mereka mengenal tokoh-tokoh pergerakan kala itu, serta mencontohkan perjuangan yang penuh pengorbanan pribadi.

Menarik, bagi saya, bagaimana bahtera kepemimpinan Tjokroaminoto, sanggup mengumpulkan tokoh-tokoh pergerakan serta membawa ribuan masyarakat jawa memperbaiki kehidupan mereka. Kemudian pada akhirnya, dari bahtera inilah muncul bahtera-bahtera lain yang dinahkodai murid-murid beliau yang membawa lebih banyak manfaat pada lebih banyak masyarakat. Maka pantaslah apabila kita mengenang Haji Oemar Said Tjokroaminoto sebagai Guru Bangsa, Bapaknya Bapak Bangsa. 

Sumber: Saya mendasari tulisan ini dari riset singkat saya tentang Tjokroaminoto, yang masih sangat kurang mendalam dan dengan tingkat komprehensifitas yang rendah. Sebagian besar tulisan didasari pada seri buku Tempo: Bapak Bangsa, Tjokroaminoto, Guru Para Pendiri Bangsa

November 19, 2015

Waktu


Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.      --Al-Qur'an surat Al-Asr (103) 1-3--

Jika ada sesuatu yang kusesali sampai saat ini, itu adalah waktu, waktu yang sudah berlalu.
Jika ada sesuatu yang menyesakkan hati, itu adalah waktu, waktu yang tidak akan kembali.

Masih ingat, sekitar dua tahun yang lalu, sebuah percakapan yang emosional.
Masih ingat, ketika itu seseorang mengingatkanku bahwa waktuku mungkin tidak banyak lagi.
Masih ingat, alasan-alasan yang terutarakan sebagai pengganti atas waktu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Masih ingat, pertemuan kami esoknya adalah pertemuan yang terakhir.
Dan waktu perlu berhenti sehingga kami dapat bertemu kembali.

Ya, waktu.

Keberlangsungannya menjadi misteri.
Kita tak mungkin tahu, kapan waktu kita habis, kapan waktu kamu habis, atau kapan waktu kebersamaan kita dengan orang-orang terkasih habis.

So cherish it well. Karena kita ngga akan pernah tau, dear.

November 13, 2015

Father's Day


Though it's kind of late, Happy Father's Day, Dad!
I wish I could say this to you, but since I can't, I'll just show the world how grateful I am to be your daughter.