April 14, 2018

Belajar Menikmati Teh Tanpa Gula

Sirene pabrik berbunyi pukul 7, menandakan pergantian shift pekerja. Orang-orang berlalu-lalang dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda motor. Masing-masing kembali atau sedang menuju tempat kerjanya.
Di zona inti perkebunan teh Pagilaran
Pagi itu di kompleks Unit Perkebunan Pagilaran yang terletak di Kabupaten Batang, saya seperti me-refresh diri dari kepenatan. Walaupun terbangun dalam kondisi kurang fit pasca 5 jam perjalanan meniti lipatan-lipatan pegunungan di tengah Pulau Jawa, rupanya alam menyembuhkan saya. Mulanya saya dan kawan-kawan berniat untuk memulai hari dengan pemandangan matahari terbit di tengah kebun teh. Namun, karena kesiangan, alhasil kami harus puas berjalan-jalan di tengah hamparan perbukitan yang dipenuhi oleh tanaman Camellia Sinensis.

Walaupun sudah beberapa kali mengunjungi lokasi perkebunan teh (di Dieng dan di Tawangmangu), kunjungan kali ini terasa spesial. Saya bisa mengamati beberapa hal yang luput saya perhatikan dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya. Maka izinkan saya sedikit berbagi tentang pengalaman yang saya dapatkan kala itu.
Komplek permukiman pegawai di salah satu afdeling
Pertama-tama, komplek Unit Perkebunan Pagilaran ini merupakan sebuah kawasan yang cukup terintegrasi, secara umum terdiri dari zona permukiman, zona agrowisata, zona produksi (pabrik), dan zona perkebunan. Zona permukiman ini diperuntukkan untuk mengakomodasi para pegawai pabrik dan perkebunan. Rumah-rumahnya sangat sederhana, berdindingkan tembok dan kayu, beratapkan seng, dengan pola linear. Sedikit banyak serupa dengan rumah-rumah di Sabang, tempat mamak saya tinggal, tetapi bedanya, alih-alih bangunan individual, di sini satu bangunan besar disekat menjadi 3-5 unit rumah dengan halaman kecil sebagai pelengkapnya. Para penghuninya kemudian berkreasi  menghiasi halaman dengan tanaman hingga memelihara ternak di ruang yang mereka miliki. Sementara itu, berbagai amenitas penunjang terselip di berbagai sudut permukiman, seperti balai pengobatan, masjid, dan lapangan olahraga (yang akhirnya digunakan untuk lapangan parkir agrowisata).

Satu hal yang menarik, karena sebenarnya kompleks perkebunan ini sudah ada semenjak jaman penjajahan Belanda, maka beberapa bangunannya memiliki corak arsitektur kolonial. Kebanyakan bangunan ini kemudian digunakan sebagai fasilitas pendukung agrowisata, seperti penginapan dan meeting room. Salah satu yang paling saya sukai adalah rumah pemilik kebun, yang saat ini difungsikan sebagai Rumah Dinas direktur perusahaan. Bangunannya masih kokoh berdiri, walaupun ubinnya berwarna kemerahan menunjukkan sisa kebakaran yang pernah terjadi. Namun begitu, kemegahan dan kekuasaan masih tersirat dari bangunan tertinggi yang menghadap ke pabrik dan permukiman di bawahnya. 
Hamparan kebun teh di lipatan-lipatan perbukitan
Sesungguhnya, yang terbuka untuk publik hanyalah zona permukiman dan zona agrowisata, sementara zona pabrik dan perkebunan yang terletak lebih tinggi dari pabrik dibatasi aksesnya. Maka dari itu, beruntunglah saya kemarin dapat menjelajahi zona pabrik dan perkebunan hingga ke puncaknya, Puncak Jrakah. 

Karena jalanan di perkebunan hanya berupa susunan bebatuan selebar empat meter yang mengular sepanjang lekukan perbukitan (saya belum mention ya, lanskap tempat ini superb! Dari sononya sudah cantik) maka saya dan rombongan berkeliling menggunakan mobil. Di beberapa tempat, terdapat shelter pekerja kebun, bangunan sederhana yang hanya terdiri dari rangka besi dan atap seng. Di sinilah mereka berkumpul sebelum melakukan pekerjaan (entah itu memetik, menanam, memangkas, maupun perawatan lain seperti mencabuti gulma) dan untuk beristirahat makan siang. Di shelter ini pula, daun-daun teh yang sudah dipetik kemudian dikumpulkan dan diangkut menggunakan truk ke pabrik. 

Saya sempat heran, di kebun yang sangat luas (di atas 1000 hektar), bagaimana mungkin hanya ada sangat sedikit pekerja yang saya lihat? Pada dasarnya, perkebunan ini dibagi menjadi 3 afdeling (semacam sektor). Dalam pengelolaannya, masing-masing afdeling memiliki kelembagaan, memiliki pusat pemerintahan, permukiman, dan kawasan perkebunan sendiri yang dibagi menjadi blok-blok tertentu. Nah, untuk menjamin keberlangsungan produksi, maka proses pemangkasan, pemetikan, penanaman kembali dan pemeliharaan dilaksanakan secara bergiliran dalam blok-blok tersebut. Semuanya dikontrol dan diperhitungkan, pun apabila ada hama penyakit yang menyerang, penanganan dan peremajannya terekam dengan baik. Sebuah kombinasi manis pemanfaatan kecerdasan spasial dalam manajemen perkebunan.
Seorang ibu pemetik daun teh sedang menunggu rombongannya. Bisa jadi, kita sedang menyaksikan salah satu generasi terakhir pemetik daun teh yang tergantikan oleh alat pemetik daun teh.
Berikutnya saya dan rombongan beranjak untuk mengamati proses pembuatan teh di pabrik. Daun-daun yang dipetik oleh ibu-ibu di kebun dan diangkut menggunakan truk turun ke pabrik kemudian melewati beragam proses hingga akhirnya sampai di tangan konsumen. Singkatnya, daun teh harus melewati proses pelayuan, penggilingan, sortasi basah, pengoksidasian, sortasi kering, hingga pengepakan. Sebagian besar dilakukan dengan bantuan alat-alat produksi dan sebagian lainnya dikerjakan oleh pegawai pabrik. 

Walaupun sudah melewati beragam proses tersebut, pada akhirnya, tidak ada hasil-hasil pengolahan daun teh yang terbuang. Semuanya bisa menjadi produk yang dikonsumsi, dengan grade kualitas yang berbeda-beda. Penikmatnya, tentu saja bermacam-macam. Namun, justru teh berkualitas baik lebih banyak diimpor ke luar, karena permintaannya lebih banyak dari luar. Sementara permintaan teh dari dalam negeri tentu menyesuaikan dengan selera penikmat teh di Indonesia. 

Mendengar beragam percakapan selama kunjungan singkat ini, saya harus menyimpulkan bahwa budaya minum teh di Indonesia masih belum terbangun sebaik di berbagai negara lain seperti Cina, Jepang, Inggris, bahkan Pakistan. Di sana apresiasi atas teh sangatlah tinggi, kualitasnya betul diperhatikan. Pun caranya disajikan adalah suatu bentuk penghormatan kepada orang yang mengonsumsinya, tertuang dalam bentuk tradisi dan upacara yang membudaya.

Namun begitu, di sini, bagi kita teh adalah minuman sehari-hari, kawan yang setia dan mudah ditemui di mana sajaBagaimanapun pilihanmu untuk menikmatinya, panas-dingin, manis-tawar, instan-kantong-seduhan, dengan beragam jenis dan kualitas. Terhidang manis sebagai penyeimbang pedasnya santapan nasi dan ayam geprek di siang hari yang panas, atau menjadi seduhan nikmat kala udara dingin menyerang. Satu minuman yang merakyat, dijual mulai dari harga 2000 perak di angkringan dan burjo pinggir jalan, hingga puluhan ribu di kafe dan restoran mewah. Namun penghargaan atasnya tidaklah kurang, jangan kita lupa adanya upacara minum teh di istana-istana kraton, penghidangannya adalah satu kewajiban dan tradisi yang masih terus dilestarikan. 
Dihidangkan secangkir yellow tea.
Iya, setelah saya memahami prosesnya, dan mencoba menikmati beragam seduhan teh mulai dari yang biasa-biasa saja hingga yang eksklusif diolah dengan tangan, saya menjadi semakin mengapresiasi minuman ini. Seperti juga saya berusaha menghargai kopi, saya bertekad untuk belajar menikmati teh sebagai sebuah bentuk penghargaan untuk tangan-tangan yang terlibat dalam produksinya hingga tercipta uniknya cita rasa teh yang terhidang di cangkir saya. Secangkir teh tanpa gula. Pun begitu, sebagai orang Jawa tulen, saya tidak akan menolak ditawari teh yang nasgitel kok.

Yuk, ngeteh!


Dapat salam, dari adik-adik yang terlalu bahagia diajakin foto sepulang sekolah.

February 16, 2018

Seri Pemuda: Refleksi atas Cerita-Cerita Wawancara - Urgensi Pemuda yang Utama

It’s never too late nor too early. It’s never too big and grande nor too small and simple. Just be sincere. Having a dream is not a mistake, however silly it may seem at first. 
— Fadhila Nur Latifah Sani

Selamat malam,

Tulisan ini dimulai ketika saat itu jadwal harian saya kembali jatuh pada rutinitas yang selalu dihadapi saat rekrutmen organisasi, yakni… wawancara. 

Saya masih ingat, dulu ketika awalnya memutuskan untuk menyemplungkan kaki di organisasi kampus, saya tidak menyukai seleksi wawancara. Kenapa? Karena saya tidak merasa nyaman membicarakan hal-hal personal dengan orang yang baru saya temui pertama kali, dalam forum yang intimate, dengan waktu yang panjang, di mana saya harus membuka diri dan mengungkapkan hal-hal yang menurut saya ketika itu, berada dalam lekuk-lekuk terdalam pikiran saya. Apresiasi terbaik saya berikan kepada orang yang berhasil menyelami lekukan pikiran saya, seberapapun absurdnya itu.
Siapa sangka, 2 tahun setelahnya, saya berada dalam posisi di mana saya harus menjadi interviewer, bukan lagi sebagai interviewee

Kemudian sekarang, sekian lama setelah tulisan ini pertama kali saya mulai, saya ingin merefleksikan kembali beberapa fenomena yang saya temukan dalam proses mewawancara itu. Walaupun begitu, pertama izinkan saya untuk mengakui bahwa, saya bukanlah seorang interviewer yang sepenuhnya paham ilmunya, pun bukan pula interviewee yang selalu berhasil lolos tahapan wawancara(bahkan lebih sering gagalnya). Tapi dari segala proses dan kegagalan itulah maka saya melanjutkan tulisan ini malam ini.

Tujuan dari wawancara organisasi yang saya lakukan tidak lain adalah untuk mengetahui siapakah si interviewee dilihat dari latar belakang, sikap dan komitmennya. Semuanya dirumuskan terlebih dahulu di awal, kemudian pewawancara hanya perlu untuk mengikuti sop yang sudah ditentukan sebelumnya. Terkadang saya juga suka menambahkan pertanyaan-pertanyaan iseng untuk mencari tahu lebih tentang kehidupan mereka, terutama tentang apa yang menjadi tujuan hidup seseorang, atau mudahnya mungkin kita sebut sebagai cita-cita. 

Hasilnya? Tidak sedikit saya temukan kawan-kawan saya ini yang nasibnya sama seperti saya ketika saya menghadapi situasi wawancara pada masanya. Bingung, atau mungkin lebih tepatnya tidak punya jawaban yang pasti. Sementara saya sok-sokan mau membuat rencana ruang hidup untuk kepentingan masyarakat, sendirinya tidak punya rencana hidup yang konkret. Ketika ditanya apa yang mau dilakukan, jawabannya mengambang, mengawang dan disampaikan dengan ketidakyakinan pada pernyataan yang dikeluarkan. 

Mulanya saya kira ini adalah suatu hal yang saya temukan hanya di lingkungan kampus saya saja. Tetapi ternyata, ketika berkesempatan berdiskusi dengan Ustadz @emfatan, kegamangan ini beliau temukan pada banyak sosok pemuda di berbagai tempat dan kesempatan. Maka izinkan saya sedikit membahas hasil diskusi dengan beliau dalam forum On Building Prime Youth #1: Urgensi Pemuda Utama yang saya ikuti dua pekan lalu.

Apa hubungannya? Kenapa kemudian mempermasalahkan hidup orang lain, toh mereka punya cara menjalani hidupnya masing-masing bukan? 

Tahan di situ. Bagi saya pribadi, semenjak membaca buku Tuhan, Inilah Proposal Hidupku yang ditulis oleh Jamil Azzaini, saya menginsafi urgensi untuk memiliki sebuah rencana hidup yang jelas dan terperinci. Beberapa argumen penguat pernyataan ini bisa coba dibaca di sini atau di sini. Tapi mudahnya begini. Bayangkan kota tempat tinggal kita, dengan segala kondisinya yang sekarang, nyamannya atau kacaunya. Kemudian bayangkan 20 tahun dari sekarang, seperti apa kota kita akan berubah? Lebih baik atau lebih buruk? Ketika kita tidak memiliki sebuah rencana/guideline/goal yang jelas untuk kota kita, maka ia akan berkembang terhimpit berbagai kepentingan. Terus mengikuti arus bisa membawa kota menuju berbagai pilihan kondisi, baik itu menjadi kota metropolis yang livable, kota pariwisata yang kekurangan infrastruktur, atau malah, kota yang mati. 

Hal ini sama terjadi dengan hidup kita. Pertanyaannya adalah, apakah kita mau merencanakan arah hidup dengan target kebaikan, ataukah membiarkannya terombang-ambing mengikuti arus kehidupan?

Ada satu cerita tertutur saat diskusi sore itu, tentang 4 orang anak muda yang nongkrongnya di samping Ka’bah, bagian dari generasi terbaik pada masanya (fyi, paling tidak ada 220 sahabat nabi yang masuk dalam kategori muda). Sebutlah ada Abdullah bin Zubair, Mus’ab bin Zubair, Urwah bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwah. Mereka ini bukannya lagi interview untuk rekruitmen organisasi manapun, tapi saling sharing tentang cita-cita yang ingin mereka capai selama hidup. 

Dua bersaudara Abdullah bin Zubair dan Mus’ab bin Zubair sama-sama ingin menaklukkan Hijaz, sebuah wilayah di bagian barat Arab Saudi yang waktu itu belum dikuasai Islam. Abdul Malik bin Marwah sementara itu lebih ingin untuk menjadi khalifah setelah Mu’awiyah bin Abu Sofyan. Terakhir, Urwah bin Zubair mengutarakan keinginannya untuk memiliki ilmu dan kepahaman terhadap dien/agamanya, sehingga dapat menyebarkan pesan-pesan kebaikan Islam. 

Dikisahkan kemudian, cita-cita yang awalnya bermula sebagai obrolan ringan di antara mereka berempat, akhirnya berhasil tercapai. Kok bisa? Yah bisa, namanya juga anak muda. Harusnya yang muda-muda begini nih, alih-alih mengamini perkataan orang yang menganggap biasa kenakalan remaja di era informatika sebagai hal yang lumrah dengan pembenaran, “Yah, anak muda jaman sekarang.” 

Pada dasarnya, masa muda itu adalah masa di mana kita bisa belajar bertanggungjawab, berada dalam fase kuat yakni usia paling utama di setiap hal (jasmani & rohani), dan alhamdulillah-nya usia ini adalah usia paling panjang dalam hidup. Di masa-masa inilah manusia lebih mudah menerima kebenaran, dan dengan segala kelebihannya tsb bisa memberikan kontribusi maksimal serta memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan. Makanya dulu golongan muda yang nyulik Soekarno-Hatta dan mendorong beliau berdua untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia.
Pada titik ini kemudian saya bertanya pada diri sendiri, kalau saya, cita-citanya apa? Sudah jadi bagian dari golongan pemuda yang utama belum?

Hingga akhirnya, rasanya kita semua punya PR besar. Peradaban-peradaban besar yang ada rupanya terbentuk karena kekuatan generasi mudanya (baik secara kualitas maupun kuantitas) yang menggebu-nggebu melakukan perubahan. Indonesia kita, punya kesempatan emas memanfaatkan puncak bonus demografi di tahun 2030. Tahun itu, kita akan memiliki lebih banyak penduduk usia produktif dibandingkan penduduk usia tidak produktif. 

Pertanyaannya lagi, di masa depan itu, Indonesia akan tinggal landas menjadi negara maju, atau tercebur kubangan lumpur ketertinggalan yang semakin parah? 

Sepertinya semua tergantung kita, para pemuda, mau jadi pemuda utama atau mau jadi pemuda penganut kenakalan remaja di era informatika.

Referensi:
  1. Kultwit @JANtraining tentang On Building Prime Youth #1: Urgensi Pemuda Utama https://chirpstory.com/li/381229
  1. https://www.abanaonline.com/2016/11/kisah-urwah-bin-zubair-yang-tabah-dalam-menerima-musibah.html

Disclaimer:
Ingatan saya pendek, catatan saya terbatas, bacaan dan kajian saya masih sangat dangkal, belum lagi nulisnya suka sembrono. Jadi, kalau ada fakta-fakta yang terbelokkan dengan tidak sengaja, atau pesan-pesan yang kurang pas, tolong saya dijawil, maturnuwun.


December 22, 2017

Ekspedisi Ujung Barat Indonesia: Sahabat Sepermainan!

Pertemanan yang dimulai dengan agenda mencabuti ilalang yang nyangkut di rok saya dan diteruskan dengan sesi foto di pantai sebelah dermaga
Kakak Kakak En!!!! - Bocah-bocah 
Sesungguhnya saya hampir kehabisan ide untuk melanjutkan seri ini. Tapi ada wajah-wajah yang kembali menyapa lewat cuplikan momen yang terekam dalam kamera, sehingga akhirnya saya putuskan, saatnya mengenalkan teman main alias teman berantem saya di Sabang, hehe.

Faktanya, Gampong Krueng Raya populasinya mayoritas anak-anak, atau begitulah saya pikir. Tiap rumah sepertinya punya anak kecil yang jumlahnya dua atau lebih. Bocah-bocah usia TK-SD ini biasa berkeliaran pakai kolor dan sempak sepulang sekolah sampai waktu adzan maghrib berkumandang. Ngga semua kaya gitu sih sebenernya, bahkan mungkin hanya adik saya Lila dan teman sepermainannya yang suka bergaya pakaian seperti itu. Biasanya mereka rapi-rapi setiap pagi waktu berangkat sekolah, begitu juga sore-sore kalau jadwal pergi ke meunasah untuk belajar mengaji. Bahkan Lila tahu gimana cara berdandan yang cantik kalau mau pergi-pergi sama Mamak atau kakak-kakaknya. Eh tunggu, semua anak bergaya pakaian seperti itu kok, kala mereka mandi di pantai.

"Kak, fotoin kita doooong!"
"Ya ya ya, ayo pose, 1... 2... 3... Udah ayo turun jangan di situ nanti jatuh!"
Padahal sebenernya khawatir kalau-kalau ada yang mau makai kamar mandi jadi ngga bisa karena takut diintip mereka.
Yang ini minta difoto lagi, dengan pose yang lebih keren tentunya
Saya pikir saya tidak akan bisa merasa rindu, tapi toh sekarang saya merindu juga. Suara ribut anak-anak ini yang setiap hari bikin saya bangun tidur, selain bunyi bel sekolah dan lagu senam pagi. Maklum, SD N 10 Sabang lokasinya persis di belakang rumah, jadi kalau mereka ribut ya kedengerannya sampai jendela kamar saya (padahal sebenarnya seringnya saya bangun pas mereka udah masuk waktu istirahat pertama atau malah setelahnya, dan suara teman-teman KKN saya yang lebih bikin ribut rumah dan bikin bangun sih).

Sejujurnya, saya bukan orang yang pandai main sama anak-anak. Gimana yah, tetangga di kompleks perumahan saya banyaknya lansia bukan anak-anak. Adik saya udah besar, sepupu dan ponakan saya yang masih bocah juga jauh. Sementara di Krueng Raya, otomatis saya dikerumunin anak-anak. Bikin program ketemu mereka, main ke laut ketemu mereka, kerja di posko ketemu mereka, pergi ke warung ketemu mereka, keluar rumah ketemu mereka, sampai akhirnya kamar saya didatengin juga sama mereka. Hayolo, panik ngga tuh?

Santri TPAnya Pak Tuha Peut.
Minta diajarin baca kitab taunya malah saya yang diajarin mereka akhirnya.
Setiap mau pulang, yuk cek dulu kukunya panjang ngga.
Kalau sudah boleh pulang, berarti waktunya nonton voli berjamaah di lapangan atau jajan baso di depan posko.

Pun begitu, sesungguhnya, they're the best thing that could happen to us during that time. Siapa lagi yang bakal sabar ngajarin bahasa Aceh, ngajarin baca kitab kuning sampe bikin merinding karena hafalan Al-Qur'an nya keren-keren parah. Mereka bukanlah objek pengabdian di tanah orang, justru, mereka adalah sahabat-sahabat terbaik yang saya dapatkan di sana. Kehidupan mereka jauh berbeda dengan yang saya punya, di usia-usia belia banyak yang sudah mendapatkan cobaan yang jauh lebih berat tapi toh senyum mereka masih menguar jua.

"Ehh... kakak foto yaaa!"
"Tak mau kak"
"Jangan ngumpet gitu lah, liat sini dong liat sini"
"Ayo senyum itu mau difoto kakak ipeh tu lho!"
Jadi ini tetangga sebelah rumah, satu-satunya anak Krueng Raya yang punya teteh dan kalau mau mandi harus nunggu mamak pulang. Sukanya main mobil-mobil di depan rumah. Kalau udah cerita tentang sesuatu, aduh ngga akan ada selesainya.
Ketika bocah-bocah kalah sama mamak-mamak posyandu.
Oiya, faktanya, bedak di muka adalah yang membedakan siapa sudah mandi dan siapa belum.
Di saat-saat perpisahan, air mata dan pelukan sederhana mereka mengantarkan kepergian saya dan kawan-kawan KKN. Tak sedikit bahkan yang memasang wajah masam dan ngambek karena kami pergi terlalu cepat.
"Kak, kapan kakak pergi?
"Kak, jangan pergi lah, perginya besok aja"
"Kak ipeh di sini aja yaaa"
"Kak kapan ke sini lagi?"

Kalau ada umur dan rezeki, suatu saat pasti akan kembali. Saya ninggalin keluarga di sana, yang telepon terakhirnya tidak terangkat, hehe.
p.s. Sekarang ngga ada lagi yang panggil saya kakak di sini.

Ini Abay, kalau udah besar cita-citanya mau jadi polisi.
Aamiin, kalau kakak balik, semoga Abay udah jadi polisi ya. 

Coba lihat Rauzah yang ada di paling kanan, garang-garang gitu pas pamitan nangis juga dia. 

December 5, 2017

India’s Cities as Seen from My Window Seat — New Delhi, Chandigarh, Agra

This is more like a compilation of questions and wonders arose after a short contemplation over my journey in India, with some phenomenon I found unusual interspersed in between. Have fun reading!

Sehari sebelum malam perayaan Dhivali (festival of lights)
Di negara yang dihuni oleh lebih dari 1,3 milyar penduduk itu, ada satu hal yang benar-benar terkenang, bunyi klakson kendaraan!

Pengalaman saya di India banyak dihabiskan di atas kendaraan. Bagaimana tidak, saya mengunjungi tiga kota dalam rentang waktu sepuluh hari. Di India yang didominasi daratan, bus menjadi onta saya, dan jalan tol menjadi jalur pengembaraannya.

Berkesempatan mendarat di New Delhi dan menyesap udara di tengah malam, saya mau tidak mau harus merasa heran dengan kenampakan kabut yang menggantung di langit malam. “Peh, kamu ngerasa udaranya aneh ngga sih?” sontak pertanyaan kawan saya menjadi misteri hingga beberapa hari ke depannya. Ke manapun kami pergi, baik itu di kota maupun di perdesaan, kabut misterius itu tetap menggantung.

“Mas, itu apaan? Asap?”

“Iyalah, itu asap dari polusi gitu.”
“Oh, separah itu yah asap kendaraan bermotor? Kok sampe jam segini?”
“Bukan, itu gara-gara cara mereka beribadah kan.”
“Dupa-dupaan gitu? Oh, pantesan baunya agak aneh”
“Lebih ke asap bakar mayat sih… Budaya mereka di sini kan gitu”
“…..”

Satu di antara alasan yang mengemuka saat itu adalah tentang asap upacara pembakaran mayat, yang membuat saya cukup tercengang ketika itu. Sebanyak itukah sehingga bisa menutupi bintang-bintang di angkasa? Ah, rupanya tidak. Faktanya menyebutkan, New Delhi memang merupakan salah satu kota yang memiliki tingkat polusi udara paling tinggi di dunia. Kalau merujuk pada informasi dari urbanemissions.info, sumber polusi di New Delhi 30% nya berasal dari kendaraan bermotor, masing-masing 20% dari biomass burning dan sektor industri, sisanya berasal dari debu, generator diesel, pembakaran sampah maupun pembangkit listrik. Terbukti, bukan asap dari upacara pembakaran mayat yang mengkontaminasi udara di India selama 24/7.

Lalu lintas di Kota New Delhi
Malam berganti pagi, dan saya beranjak pergi dari Indira Gandhi International Airport menuju Kota Chandigarh, yang berada di wilayah Punjab. Wilayah ini berada di bagian utara daratan India, dan penduduknya memiliki kekhasan tersendiri. Mayoritasnya merupakan penutur bahasa Punjabi dan penganut agama Sikh. Secara kasat mata hal ini bisa dibedakan dari penampilan kaum lelakinya yang menggunakan semacam surban di kepala, sebagai salah satu bentuk kepercayaan mereka. Sementara kaum perempuannya tidak berpenampilan begitu berbeda, hanya saja mereka lebih jarang menggunakan sari dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan menuju Kota Chandigarh ini lah yang memberikan kesan pertama akan India. Sepanjang perjalanan, bunyi klakson kendaraan tidak pernah berhenti memekik, tidak kurang selama 6–7 jam perjalanan di jalan tol yang menghubungkan New Delhi dengan kota tersebut. Mengapa bisa? Gampangnya, di malam hari, kendaraan-kendaraan beratlah yang banyak melintas, dengan angkutan penuh sehingga mereka melaju dengan kecepatan cukup lambat. Sementara itu, mobil van yang saya tumpangi melaju dengan kecepatan rata-rata 60–70 km/jam, yang mana berarti, sangat mudah bagi sang supir untuk menyalip kendaraan lainnya. Nah, kendaraan yang menyalip terbiasa untuk membunyikan klakson mereka, bahkan dari sebelum hingga mereka berhasil menyalip kendaraan lain! Jadi bayangkanlah, di jalan yang ramai, ketika mobil van saya menyalip atau disalip, akan selalu ada bunyi klakson yang nyaring terdengar.

Salah satu sudut Chandigarh University, Chandigarh
Pusing? Iya. Untungnya, Kota Chandigarh menjadi obat dari kepusingan saya atas kebisingan di perjalanan. Sebuah berkah tersendiri ketika menyadari bahwa Kota Chandigarh ini adalah kota paling terencana di India, karena dibangun atas dasar masterplan yang jelas dan memiliki pemerintahan kota yang dinilai cukup baik oleh beberapa kawan di sana.

Adalah Le Corbusier, seorang arsitek kawakan asal Perancis yang memiliki andil besar dalam perencanaan Kota Chandigarh. Ia dan timnya mengaplikasikan sebuah kombinasi antara konsep Radiant City yang diusungnya dengan konsep Garden City yang diperkenalkan oleh Ebenezer Howard. Dari kursi saya di balik jendela van yang saya tumpangi, ciri-ciri Garden City terlihat lebih dominan. Sepanjang sisi jalan dan median jalan ditumbuhi oleh tanaman yang terawat, jaringan jalannya berbentuk grid dengan roundabouts yang membagi kota ini dalam blok-blok tertentu. Selain itu, kota ini memiliki beragam taman kota sebagai ruang publik yang aktif sekaligus membatasi sisi-sisi terluar wilayahnya.

Barulah setelah melihat lebih detail ke balik deretan tanaman ke dalam blok-blok bangunan, nampaklah bagaimana penerapan konsep Radiant City yang menekankan pada efesiensi fungsi kota dengan integrasi bangunan-bangunan yang ada. Secara umum, keberadaan blok-blok bangunan mempermudah pengaplikasian pola dan struktur ruang kota serta menciptakan keteraturan yang lazim ditemukan dalam kota yang berasal dari sebuah garapan masterplan.

Sampai saat ini, rencana Kota Chandigarh terus dikembangkan untuk memenuhi tantangan zaman yang berubah. Terdapat beberapa isu yang perlu dijawab oleh kota ini, seperti bagaimana mengatasi arus urbanisasi dan mengakomodasi kebutuhan penduduk yang terus bertambah. Menarik maka, untuk mengikuti bagaimana langkah yang dilakukan kota ini untuk mengatasi potensi permasalahan ketersediaan perumahan, transportasi publik, serta fasilitas umum dan fasilitas sosial lainnya.

Begitulah Chandigarh, setelah menghabiskan waktu dua hari di sana, akhirnya saya harus kembali ke New Delhi untuk memenuhi tujuan utama saya berkunjung ke India. Jalan yang berdebu menjadi saksi bagaimana India, seperti halnya Indonesia, masih berjuang membangun negaranya, dan bagaimana pembangunan itu terkadang menyebabkan permasalahan baru. Banyak hal yang saya anggap asing di sepanjang perjalanan. Salah satunya yang saya masih tidak habis pikir, mengapa di tengah-tengah ketiadaan kemudian muncul kompleks bangunan yang ternyata berfungsi sebagai universitas ataupun pabrik industri. Memunculkan tanya, bagaimana mereka membangun infrastruktur dengan efisien dan bagaimana mereka merencanakan perkembangan wilayahnya.

President House
Yah, akhirnya saya harus beralih dari sebuah kota yang terencana, menyeberang kawasan perdesaan, menuju sebuah kota metropolitan. Kepadatan lalu lintas New Delhi ramah menyambut siapapun yang berkunjung. Kota ini memamerkan kemegahan dan kemewahan, menunjukkan kehebatan peradaban masa lalu, serta menjanjikan modernisasi dan perbaikan kualitas hidup. Namun, di sisi lain juga memamerkan kesederhanaan hingga kesemrawutan, menyisakan masalah-masalah kota, dan keras menggerus orang-orang yang tidak bisa beradaptasi dengan ritme kehidupan kotanya.

Saya mendiami hotel di kawasan Gurgaon, yang mana berada di sebelah selatan kota ini. Dari New Delhi, kami dapat dengan mudah mencapainya melalui highway. Kawasan ini cenderung lebih lengang dibandingkan di tengah kota. Di sebelah baratnya, terdapat kawasan lain yang disebut Cyber City. Isinya? Perusahaan-perusahaan global seperti IBM, Google, dsbg. Apabila lingkungan hotel saya terlihat seperti kawasan Glodok, tetapi bmaka kawasan Cyber City ini memberikan kesan modern dan nyaman untuk ditinggali, dengan gedung-gedung bertingkat dan jalanan yang indah.

Kalau kita ibaratkan pengalaman berada di New Delhi dengan rasa permen, maka rasanya berada di New Delhi, seperti makan permen nano-nano. Hampir setiap hari saya bepergian dengan bus dari hotel menuju venue acara yang berada di tengah kota New Delhi. Ini berarti, hampir setiap hari saya membelah kota ini. Saya tidak lagi heran dengan lalu-lalang orang yang berjalan kaki dan menyeberang jalan hampir di setiap ruas jalan. Pun sudah terbiasa dengan percampuran pemandangan sapi yang berseliweran, manusia yang rebahan di trotoar serta anjing-anjing berkeliaran yang pada mulanya saya anggap janggal. Hingga tidak lagi merasa kasihan melihat mobil-mobil baru yang tidak lagi nampak mulus dan berdesakan di jalanan.

Geliat ekonomi di salah satu sudut kota
Ah, belum lagi kita membahas dimensi tata ruangnya. Indah sekali melihat lingkungan sekitar Kedutaan Besar Indonesia, yang dekat sekali dengan kediaman Jawahalrar Nehru (sekarang menjadi Nehru Planetarium dan Nehru Museum). Bangunan-bangunannya megah berdiri bercorakkan arsitektur kolonial Inggris yang berpadu dengan arsitektur khas timur yang dipengaruhi budaya Hindu dan Islam. Museum, monumen, kuil, terawat dan dikelola menjadi objek wisata yang menarik. Taman-tamannya membentang tidak kalah bagus dengan taman di Kota Chandigarh. Ditambah lagi adanya hutan kota yang ehem, kita jarang punya.

Namun di sisi ekstrim yang lain, ada slum area, ada trotoar yang tidak terawat, ada pasar yang kumuh, ada kemacetan yang menghantui, ada bangunan yang hancur tidak terurus. Begitulah sehingga seakan-akan kita melihat ada kemiskinan yang terpampang di jendela kemewahan.

Di depan sebuah pasar sayur dan buah di Okhla, setelah gagal bertransaksi karena keterbatasan bahasa


Terakhir, marilah kita meninggalkan New Delhi dan rehat sejenak mengunjungi Agra. Tempat satu dari tujuh keajaiban dunia yang dahulu kita hafalkan ketika kecil di lagunya Sherina. Taj Mahal!

Saya tidak bisa berkata banyak tentang Agra, terlalu lelah dan lemah saya sehingga kebanyakan tidur di bus dalam perjalanan. Satu hal yang bisa saya pastikan, kota ini akan memanjakan fantasi Asia daratan bagi Anda yang tertarik. Berkunjunglah, sesap dalam-dalam udaranya, rasakan berada di India tempo dulu, sambangi peninggalan-peninggalan sejarahnya, bercengkerama dengan segenap penduduknya.

Kubah Taj Mahal, dibayarkan dengan tiket masuk seharga 1000 rupees
Ah, mungkin saya mulai bisa merasa rindu untuk kembali berkunjung. Semoga lain kali, saya tidak hanya menjadi penonton kehidupan di balik jendela dan komentator di laman pribadi.
Terimakasih India, atas pelajarannya tentang penghargaan akan kehidupan.

p.s. kalau ada yang mau mengajukan pertanyaan tentang bagaimana saya mengurus perjalanan ke India, silahkan kontak saya secara pribadi.

September 11, 2017

Ekspedisi Ujung Barat Indonesia: Pengenalan dan Perkenalan

“Mbak, aku mau KKN di tempat mu, dong!”

Hehe, yakin? Nanti kamu ngga bisa mainan kartu, ngga boleh pakai celana pendek di luar rumah, ngga bisa bikin acara dangdutan, dan harus prihatin kalau mau seru-seruan sendiri di posko. Yah, sebenernya ngga gitu banget juga sih, tapi intinya, seperti keinginanmu mengabdi ke tempat-tempat lainnya di penjuru Indonesia, selalu ada yang harus dikorbankan dan kamu harus berusaha untuk beradaptasi dengan lingkunganmu.

Kalau kamu tanya pengalaman KKN aku seru atau engga, maka aku akan bilang, seru! Walaupun seru versi aku dengan seru versi kamu, dan seru versi orang-orang lain pasti berbeda. Karena kalau aku dengar cerita tim-tim lain, mereka mungkin punya lebih banyak hal baru dan menarik untuk diceritakan.

Pelabuhan Jurong Mustika Kolam Bermata

Kehidupan KKN aku biasa-biasa saja, percayalah! Kelompok aku ngga mengalami drama kehidupan yang menghebohkan pun terlalu tidak biasa. Kami hidup pada umumnya orang hidup, di ruang waktu yang lebih lambat satu jam dari waktu Indonesia bagian barat yang biasa kami rasa. Di pulau kecil yang secara administratif diakui sebagai kota, tetapi kota fungsionalnya hanya ada di satu sudut saja dan sisanya adalah hutan perbukitan. 

Pada awalnya, rasanya serba excited! Dalam perjalanan menuju Sabang, kami singgah di Kota Banda Aceh yang memikat mata dan menyejukkan hati, Bung! Betapa bahagianya warga lokal Pulau Jawa satu ini bisa menginsafi keindahan Masjid Baiturrahman di malam Bulan Ramadhan. And that excitement grows until we arrived on Sabang, yang hijaunya pepohonan di perbukitannya berpadu dengan gradasi biru lautan dan sang langit siang, bikin jatuh hati di pandangan pertama.
Tapi sebentar, panasnya luar biasa, Bung! Semoga mereka memaafkan aku dan kawan-kawan; Mamak, Ayah, di awal pertemuan itu bukannya kami tidak ingin beramah tamah dan memulai perkenalan kita dengan sesuatu yang baik. Namun, siapa yang tahan dengan teriknya matahari di siang itu? Untunglah Mamak dan Ayah pengertian dan mempersilahkan kami beristirahat sampai adzan memanggil tuk berbuka.

Keresahan pertama yang benar-benar aku rasakan adalah, ternyata jadi anak desa itu, hidupnya selo! Di Bulan Ramadhan itu, tidak banyak program yang bisa dilakukan. Mana bisa kalau sekolahan libur, TPA libur, toko-toko tutup siang buka lagi malam. Mau eksplor ngga punya kendaraan, ngga kuat jalan naik turun bukit, aih, gampong ini terlalu luas untuk dijelajahi dengan kaki di siang bolong. Pun novel yang aku bawa dari rumah terlalu cepat berganti halaman dan mencapai akhir kisah fiksinya. Sungguh, rasanya waktu berlalu lambat dan kegabutannya begitu menyesakkan. Namun di sela selo itulah aku mulai berkenalan dengan Gampong Krueng Raya dan segenap isinya. 

Kalau kamu tanya kesan pertama aku sama gampong (desa) ini apa? Absurd! Ini desa apaan kok rumah-rumahnya kaya perumahan? Tipenya sama, atapnya serasi, jalanannya grid. Beuh, udah macam di kota aja. Dan kenyataannya, di turunan pertama menuju pondokan, aku melihat apa yang aku lihat di peta citra itu ternyata adalah sebuah kenyataan. Kompleks perumahan itu dibangun oleh pemerintah kota untuk mengakomodasi para nelayan (sebagian penduduk asli dan sebagian korban penggusuran akibat proyek pelebaran jalan di Kota Sabang) maupun korban tsunami Aceh 2004. Kompleksnya tersebar di beberapa lokasi dalam beberapa jurong (dusun). Kompleks nelayan hanya ada di Jurong Mustika Kolam Bermata, sementara kompleks tsunami ada di Jurong Teupin Ciriek, Jurong Mustika Kolam Bermata dan Jurong Ilham Syukuran. Di dua jurong lainnya dalam gampong ini, yakni di Jurong Batu Singa Berfakta maupun Jurong Lhok Drien, rumah-rumah yang ada tumbuh secara organik, seperti pada umumnya di desa-desa.

Pondokan aku sendiri, adanya di Kompleks Nelayan, Jurong Mustika Kolam Bermata. Tepatnya di lorong (gang) kedua, persis setelah SD yang katanya kena terjangan tsunami dulu, jadi kalau ada tsunami lagi (yang alhamdulillahnya tidak), entah apakah rumah kami selamat atau tidak. Setiap pagi apabila aku terbangun pagi dan cukup nyali melangkah keluar rumah menyambut udara yang dingin, aku akan menemukan dua anjing tetangga yang berkeliaran di jalanan, tempat nongkrong mamak di bawah pohon rambutan alasnya basah karena embun, orang-orang mulai keluar rumah untuk nyapu halaman, dan selebihnya sepi, hanya terkadang ada kendaraan lewat di jalan di atas bukit yang terdengar hingga ke lembah ini. 


Gg. Delima, yang sebelah kiri pondokan saya


Di dalam sebuah rumah sederhana, yang dindingnya terbuat dari papan kayu sehingga suara-suara tidak tertutupi dengan sepenuhnya. Di situ aku tinggal bersama tiga orang saudari KKN, tiga saudari asuh, mama yang sangat perhatian dan ayah yang paling ganteng di rumah. Dari sanalah kisah setiap hari pengabdianku bermula.




----
Untuk dilanjutkan kemudian


Books

Akhir-akhir ini saya ngga pernah tahan ngga beli buku, suka tiba-tiba pengen beli ketika liat buku yang menarik, apalagi kalau murah dan lagi diskon, kalap men! Prinsipnya gampang, ngga perlu punya banyak uang, cukup siap-siap berkorban menahan nafsu jajan setelah ngeborong buku. Bahkan saya lebih kalap liat buku bagus daripada liat baju, makanan dan barang-barang lainnya.

Kalau ditanya dari kapan saya mulai menyukai buku, maka saya harus jawab, sepanjang ingatan, bahkan sebelum bisa membaca, buku dan cerita adalah salah satu teman terbaik masa kecil saya. Main sama sepupu-sepupu atau teman-teman, kita duduk bareng bolak-balik buku bacaan.

Semuanya karena orangtua saya yang sama-sama suka baca. Ini adalah salah satu hal yang saya harus berterima kasih sekali kepada mereka, yang mengajarkan saya mencintai membaca dan menulis semenjak kecil. Kala itu, malam har tak akan terlewat tanpa Bapak yang membacakan buku cerita di tengah tempat tidur saya dan abang hingga kami terlelap, dan mencium kening kami penuh sayang. Sementara di pagi harinya giliran ibu yang menemani kami membaca buku dengan beragam topik, mengajarkan membaca dan menulis sebelum kami masuk TK, mengizinkan kami ikut ke kantor beliau kala itu di sebuah penerbit buku, menyempatkan mampir ke persewaan buku saat menjemput dari sekolah, dan selalu mengapresiasi cerita-cerita pendek yang suka iseng saya tulis.

Akhirnya, waktu TK selain manjat-manjat apollo, main pasir, tinggi-tinggian main ayunan, naik prosotan dan jungkat-jungkit atau berantem, salah satu tempat favorit saya adalah perpustakaan. Yang isinya buku-buku Franklin kura-kura atau Winnie the Pooh. Waktu SD, baca komik Doraemon, Tintin, Asterix Obelix, Ramayana, Kisah-kisah Nabi dan Rasul, novel Harry Potter, Lima Sekawan, novel teenlit galau, sampai koleksi novel Ahmad Tohari punya simbah bisa selesai dibabat. Lanjut waktu SMP dan SMA, masih beragam judul novel dan majalah, yang sebagian besar pinjaman, saya habiskan juga lembar demi lembar.

Sampai sekarang, buku favorit saya tetap buku fiksi. Walaupun mulai berusaha membaca buku-buku non-fiksi dengan perjuangan berkali-kali lipat. Hahahaha.

Beruntungnya saya dikelilingi perpustakaan-perpustakaan oke, orang-orang keren yang punya koleksi buku yang beragam, jadi bisa dibilang saya ngga pernah kehabisan buku bacaan.
Sekarang giliran saya pengen jadi bagian dari ke oke an dan kekerenan itu, dan lagi-lagi karena akhir-akhir ini kalap banget beli buku, koleksi saya cukup menggunung, dalam artian nganggur di rak buku entah belum terbaca atau sudah diselesaikan. Walaupun mungkin ngga memenuhi selera teman-teman, tapi kalau pengen ngobrol tentang buku, pengen tau apa yang saya baca, bahkan pengen pinjam buku saya, feel free to contact me.

At last, please spread your love for books and literacy.

dari medium.com
tertanggal 16 Januari 2017

June 22, 2017

Ekspedisi Ujung Barat Indonesia: Sebuah Pengantar



"bismillah"
pangkal segala kebaikan,
permulaan segala urusan penting,
dan dengannya juga
kita memulai segala urusan.
-Badiuzzaman Said Nursi-

Apabila saya sempat berwacana untuk menerbitkan rubrik baru di sini, maka insyaAllah inilah bentuk ikhtiar untuk mewujudkan niat iseng saya tersebut. Hal ini semata-mata sebagai salah satu ungkapan syukur atas kesempatan dapat bertualang KKN ke Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam.

Jogjakarta-Cengkarang-Kualanamu-Banda Aceh-Sabang. 2.257 km, dan kurang lebih 6 jam perjalanan udara, 12 jam transit dan 1 jam perjalanan melintas selat benggala. Bermulalah pembelajaran saya di ujung barat Indonesia, di tanah yang menerapkan syariat Islam, di rumah yang dibangun kembali setelah diterjang tsunami, bersama masyarakat pesisir Samudera Hindia.

Dalam pada 50 hari ke depan, nikmatilah segenap kisah dari saya.

Salam,