April 20, 2013

Growin' up


Bertumbuh dan berkembang. Apakah kamu seperti aku yang juga masih dalam tahapan bertumbuh dan berkembang? Mari bersyukur dan berjuang bareng.
Sudah taukah kamu arah pertumbuhan dan perkembanganmu? Jujur, aku masih terus mencari lho, maksudku, tentu saja kalau tujuan besar aku sudah melihatnya dari zaman ingusan, sekarang, aku masih mencari pintu yang tepat dan meraba tangga yang akan membawaku ke sana. 
Kalau boleh sedikit mencurahkan isi hati, bertumbuh dan berkembang ternyata nggak segampang terus bernafas (bahkan bernafas pun terlihat susah setelah mempelajari mekanisme dan reaksi yang terjadi sesungguhnya), rasanya seperti kehilangan dan mendapatkan sesuatu bagian dariku yang besar dan terkadang nyaris tanpa disadari. Terus kehilangan dan mendapatkan, kombinasi antara kehilangan yang baik/buruk dan mendapatkan yang baik/buruk. Salah satu ketakutan terbesarku adalah ketika pertumbuhan dan perkembangan ini malah membawaku ke suatu tempat yang buruk. Tapi mereka bilang kekhawatiran akan suatu yang buruk itu lebih buruk dari keburukan itu sendiri, oke mari lupakan ketakutan itu. 
Beberapa waktu yang lalu, tampaknya seperti seakan-akan keadaan memaksaku untuk bertindak di luar zona nyamanku. Terjun ke masyarakat, membangun relasi dan mengurus hal-hal yang tidak pernah terlintas dalam pikiran. Awalnya, untuk memulai saja menakutkan. Kemudian Bapak bilang, "Santai aja, mumpung masih SMA, orang-orang masih maklum kalo kamu salah, nduk". Dan terbukti, perkataan Bapak benar sekali. Orang-orang tua yang menakutkan itu pernah SMA juga, mereka ngerti banget jaman SMA ki urip lagi yo koyo ngono kae lah. Dan yaaaah, aku merasa lega setelah semuanya terlewati. 
Suatu hikmah biasa menyamarkan dirinya menjadi sesuatu yang indah ataupun buruk, dan mungkin nggak mudah untuk menyadarinya. Hikmah pengalaman membuat orang belajar dan berkembang, mendewasakan, dengan cara yang terkadang tidak bisa dibilang menyenangkan. Tapi orang selamanya tidak akan mendapatkan apa-apa kalau terlalu takut mencoba dan mengeksplorasi diri. So go out there and find your own adventure, your own experience, face the problems, never give up. Grow up. This is life.
Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Mau tunggu sampe jenggot tumbuh sampe pantat? Uh.

March 30, 2013

Sekelebat malam

Selama 17 tahun hidup di Yogyakarta, aku sama sekali nggak familier sama keadaan Yogyakarta di malam Minggu, cupu banget kan. Eh kesempatan seminggu yang lalu -sekalian ikut ngerayain Earth Hour, aku bisa jalan-jalan di sekitar Jalan Malioboro. Jadi turis di kampung sendiri, miris. Dan ya, aku memutuskan aku nggak begitu benci dengan ramainya suasana di malam Minggu karena ternyata ramainya yang luar biasa itu juga meyimpan daya tarik luar biasa.




Malam itu, aku dan teman-teman tertarik buat masuk ke Monumen Serangan Umum 1 Maret, ngelanggar  peraturan sebenarnya, terus akhirnya bereksperimen sedikit. Nggak buruk lah. Tapi bagian lompat pagarnya jangan ditiru ya. 








Bye.

March 18, 2013

Mendung Menggantung



Ketep, Magelang, Jawa Tengah, bareng anak-anak Padmanaba 69 & 70, didera kabut dan hujan, mengalamai kram pantat yang nggak ada habisnya, tapi perjalanan ini adalah perjalanan yang paling taktunggu.
Oke, jadi sebenarnya saya libur seminggu kemarin sampai Hari Selasa besok ini gara-gara kelas XII lagi ujian sekolah. Rencana-rencana berwisata datang dan pergi selama itu, tapi hampir nggak ada yang kelakon kecuali ini. Nasib.


Pagi ini kami berangkat jam 10 tepat dari Kotabaru, lewat Jalan Magelang kemudian menuju ke timur lewat Jalan Mungkid-Boyolali (masuk di Blabak) sampai akhirnya bertemu jalan masuk Ketep Pass (petunjuk jalan terpampang jelas sepanjang jalan, lokasi sudah ter-tagging di Google Map juga). Perjalanan kurang lebih makan waktu 1,5 jam, cukup melelahkan karena medan Jalan Mungkid-Boyolali yang khas pegunungan dan kondisinya sudah tidak apik.


Dengan tarif masuk Ketep Pass Rp 7.000,00 per orang, pengunjung dapat menikmati Museum Gunung Merapi, Gardu Pandang, dan Volcano Theatre, semuanya didukung fasilitas pendukung seperti Mushola, Toilet, Lahan Parkir, kios cenderamata dan warung makan yang semuanya dikelola dengan baik.


Ketep Pass sebenarnya terkenal karena di sini pengunjung bisa menikmati pemandangan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Sayangnya, siang tadi mendung menggantung di langit menutupi puncak kedua gunung tersebut. Yah kami harus puas melihat sebagian kecil keindahan mereka yang tidak tersembunyi. Kami singgah nggak begitu lama, berfoto, mengisi perut, sholat dhuhur, kemudian kabut menyelimuti daerah Ketep sehingga kami akhirnya memutuskan untuk pulang saja. 


February 6, 2013

Laguna Goo

Rindu masa-masa liburan  bareng sekeluarga? Mau tak bikin iri sedikit?
Beberapa waktu yang lalu waktu libur Maulud Nabi Muhammad SAW, bapak ngajak pergi sekeluarga ke Pantai Glagah, Kulonprogo. Rencananya dadakan sih, karena baru dikasih tau malam sebelumnya, alhasil ada beberapa agenda yang perlu diundur ke belakang, yasudah nggak masalah.

packing, loading
Buat yang belum tau tentang Pantai Glagah, pantai ini adalah salah satu pantai di deretan pesisir selatan Pulau Jawa, tepatnya di sebelah selatan Kota Wates, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah memasuki pos retribusi pantai, kita bisa lihat ada calon pelabuhan di sebelah kiri muara sungai. Berbelok ke kanan, ada hamparan batu pemecah ombak yang melindungi pantai di sebelah kanannya, di sinilah biasanya wisatawan berkunjung. Uniknya Pantai Glagah, kita nggak bisa langsung mencapai pinggir pantai, karena adanya laguna yang menghalangi kita dari gundukan pasir yang kita sebut pantai itu sendiri. Fasilitas yang ada di tempat ini cukup memadai, tersedia tempat parkir bagi wisatawan yang membawa kendaraan dan bagi yang pengen nyeberang ke gundukan pasir di seberang laguna Pantai Glagah, ada beberapa perahu yang disewakan. Kalau memilih untuk terus menelusuri jalan ke arah barat, banyak tempat tersedia untuk beristirahat yang juga berada persis di tepian laguna. Di sepanjang jalan ini banyak pula penginapan, rumah makan, dan kebun-kebun buah naga. 

laguna Pantai Glagah
Sebenernya tujuan bapak ngajak ke Pantai Glagah waktu itu simpel aja, cuman mau makan siang di luar. Dari pagi ibu udah sibuk nyiapin bekal makanan untuk bakar-bakaran. Selesai semua dikemas, kami berangkat. Nggak berapa lama sekitar 1,5 jam perjalanan udah sampai di pos retribusi masuk. Nyari-nyari tempat di pinggir laguna yang teduh, nggak begitu ramai dan intinya enak untuk istirahat. Mobil diparkir, alas digelar, makanan ditata, alat bakaran siap, duduk manis, mulai makan!

duduk manis, mulai makan!
Nah, tujuan utama udah tercapai kan, habis itu masih sempet main-main sebentar. Tapi nggak berapa lama, angin yang pertamanya sepoi-sepoi mulai berubah kencang dan mendung menggantung di atas laut. Udah waktunya pulang, daripada piknik kami jadi piknik kebasahan. Akhirnya setelah membereskan barang bawaan dan memastikan nggak ada sampah yang tertinggal, kami cus pulang ke Jogja. Berikut beberapa gambar sekitaran Pantai Glagah.





Secara keseluruhan, kawasan wisata ini tergolong dirawat dengan cukup apik, terbukti dengan tersedianya fasilitas yang cukup memadai, akses jalan yang mudah dan tidak banyaknya gundukan-gundukan sampah yang mengganggu pemandangan. Tapi, karena kawasan ini masih dalam tahap pengembangan, sepertinya perlu ada rencana pembangunan dan pengelolaan yang terkoordinir, kalau nggak, yaaaah, wassalam deh.

January 25, 2013

Langkah Kaki


Karena dengan suatu cara atau cara yang lain, aku akan menjelajah dunia. 

January 6, 2013

Tahun Lama Tahun Baru

Semester 4 udah dihadapan, 2012 terlewat dan datang 2013. Wow! I'm gonna miss holiday and I'm so gonna miss 2012.
Roda kehidupan terus berputar sejalan dengan berjalannya waktu. Melihat kembali ke 2012, tahun yang sangat-sangat mengesankan karena banyak sekali hal baru yang menjadi pelajaran berharga buatku. Siapa coba yang nebak kalau anak ingusan ini bisa sedikit lebih mandiri dan melakukan perjalanan-perjalanan ekstrem sama teman-teman sekolahnya? Terimakasih Padmanaba Hiking Club! Bukit, goa, pantai, tebing, gunung, hutan, sungai dan segalanya yang kami jelajahi. Selain itu juga terimakasih Padmanaba atas segalanya yang nggak mungkin disebutkan satu-satu di sini. Dan, selamat tinggal 2012!
Nah, kalau tahun kemarin duniaku ber-revolusi di sekolah, tahun ini aku berharap bisa sedikit lebih menjadi anak rumahan. Belajar tenang, santai-santai sedikit dan makan-makan banyak. Jangan bilang ini nggak mungkin ya, jangan hancurkan harapan orang (Walaupun sepertinya dalam waktu dekat ini memang belum memungkinkan).
Jadi, selamat tahun baru semuanya! Dan selamat menikmati roller coaster kehidupan bernamakan tahun 2013 ini! Cao! 
Oh, dan selamat bersenang-senang di semester 4 hai 69!


December 13, 2012

Commuter

12 taun sekolah, dari TK sampai sekarang SMA. Jarak sekolah sama rumah alhamdulillah nggak pernah lebih jauh dari 5km (kalau ditarik garis lurus, kalau dijalanin beneran ya agak muter sedikit) dan rutenya ya situ-situ aja ke arah kota. Alhasil, udah khatam sama jalanannya dan udah nyobain berbagai macem moda transportasi buat berangkat atau pulang sekolah.
1. Motor
Sejak masih kecil ingusan udah sering diboncengin naik motor ke sekolah, dan emang ini favoritku. Naik motor berarti bisa nyelip-nyelip kendaraan lain, berarti bisa cepet sampai sekolah, nggak telat walaupun dari rumah berangkatnya mepet-mepet. Sekarang sejak naik motor sendiri, lebih bebas lagi rasanya. Kalau lagi adem atinya biasanya naik motornya bisa anggun dan tertib, dinikmatin ngendarainnya. Kalau lagi keburu-buru beda lagi, udah macem sopir angkot ngejar setoran aja ngebutnya, bedanya, yang dikejar bukan duit setoran tapi waktu, sampe-sampe lampu kuning berganti merah diterabas juga. Tobat deh tobat.
2. Mobil
Kalau naik mobil, berarti harus rela macet-macet kalau berangkatnya nggak pagi-pagi. Repot juga sih, tapi di dalem mobil bisa sambil sarapan, make sepatu, belajar atau nerusin tidur dan orang-orang di luar juga nggak bakal tau. Paling enak sih kalau pas hujan-hujan, nggak bakal terjadi sepatu atau seragam basah.
3. Trans Jogja
Naik Trans Jogja itu nabung pahala, serius deh, karena kita diajarin sabar dan bertoleransi. Tapi buat orang emosian malah kebalikannya kali ya jadinya? Gini, berhubung fasilitas shelter bus dan armada bus Trans Jogja kadang tidak cukup menampung jumlah penumpang, nggak heran dong liat simbah-simbah sampai balita dan ibu hamil dorong-dorongan pengen naik/turun bus? Padahal, kalau sabar lak yo penak to. Suka prihatin sendiri jadinya liat petugas Trans Jogjanya nahan emosi ngatur penumpang yang macam-macam itu. Belum lagi di dalem bus nya, duh nggak bisa nafas deh, berdiri aja kegencet-gencet nggak bisa pegangan. Dan lagi-lagi banyak orang yang nggak peduli, liat yang lemah berdiri kok yo dibiarin to, ksatria jaman sekarang langka banget. Nah, makanya buat yang masih memiliki 'rasa' naik Trans Jogja bisa jadi ladang pahala kan?
4. Angkutan Kota
Pas berangkat sekolah sih nggak pernah naik bis kota, biasanya cuman kalau kepepetnya nggak ada yang jemput dan males ngantri Trans Jogja. Sampai hafal lho, kalau misalnya ada 2 bis yang sama jalurnya dan papasan, pasti berakhir kejar-kejaran deh, ya gini ngejar setoran. Korbannya siapa lagi kalau bukan penumpang? Dibikin jantungan karena sering ngegas dan ngerem nggak kira-kira, nyerempet-nyerempet kendaraan lain pula. Belum pas diturunin sembarangan dan disalamin pake kentutnya, istighfar dulu lah.
5. Sepeda
Naik sepeda itu refreshing, apalagi pagi-pagi, jalan sepi, nggak perlu nggenjot karena jalannya turun. Kesiksanya baru pas pulang, jalanan panas, rame, suka diklaksonin, polusi, jalanan nanjak, keringetan. Alhamdulillah, ada kios cendol di Jalan Kaliurang yang jadi pitstop surga. Kalau pulang pergi naik sepeda, rasanya bangga mbantu ngurangi polusi udara, badan sehat pula.
6. Jalan kaki
Dulu sekali jaman SMP waktu masih berangkat bareng kakak, dia dengan sangat tega ninggalin aku setelah kita berhenti mompain ban motor, payah banget dia lupa kalo mboncengin adeknya. 'Udah jatuh ketimpa tangga' kebetulan pas itu nggak bawa HP dan nggak sempet nyegat bus kota yang lewat. Yaudah emang jatahnya kali jalan setengah jarak sekolah-rumah. Sampai sekolah, walaupun jauh lebih telat dari biasanya, rasanya lega tapi frustasi juga, sakit ati rasanya dilupain. Dan sepulangnya ke rumah, kakak mengaku dia baru sadar pas harusnya nurunin aku di depan sekolah, ternyata aku nya udah nggak ada. Fine banget mas, jalan kaki lumayan capek lho.

That's my story. Jadi mikir-mikir habis SMA mau lanjut ke mana ya? Yang sejalur kampusnya setiap hari dilewatin, atau mau pindah jauh-jauh? Hmmmm